Tak Semua Bisa Dibeli dengan Kekayaan

Posted on May 11, 2010. Filed under: Motivasi |

Basrizal Koto

Satu di antara 20 juta manusia, belum tentu akan ada yang seperti Basrizal Koto. Tak tamat sekolah SD, ia bisa sangat sukses. ”Ia adalah anak ajaib,” puji almarhum AA Navis, budayawan dan sastrawan nasional.

Basrizal Koto, atau kerap disapa Basko, layak bangga atas semua sukses usaha yang telah ia gapai. Betapa tidak. Meski hanya sempat mengenyam hingga kelas lima di SDN 02 Pariaman, Basko berhasil membangun ”kerajaan” bisnis. Jumlah perusahaan yang dikelolanya kini mencapai 15 buah.

”Saya hanya meneladani Rasulullah SAW yang tak bisa baca-tulis tapi mampu menjadi pebisnis mumpuni. Saya yang tidak berpendidikan, tak lantas membuat saya menyerah,” ungkap President dan Chairman Basko Holding ini kepada Majalah Qalam, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Proyek terakhir yang tengah digarap putera kedua dari enam bersaudara ini, adalah mendirikan Best Western Hotel dengan 198 kamar. Sebuah hotel bintang empat plus di Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Jika investor lain ragu menanamkan investasi di Sumbar karena kerap terjadi gempa dan isu tsunami, Basko malah tak pernah ragu untuk berinvestasi di tanah kelahirannya itu.

”Hidup memang pilihan dan harus berani memulai. Menjadi saudagar jangan takut risiko. Ekonomi negara tak akan kuat kalau saudagar dan pengusahanya tidak memiliki komitmen kuat,” jelas ayah 10 anak yang sangat bangga menjadi saudagar dan sampai kapanpun tak ingin merubah haluan dari berdagang ini.

Prinsipnya, kata Basko, apapun yang dikerjakan, kita harus bangga dengan pekerjaan itu. Basko pernah menjadi kenek oplet, dan ia bangga dengan kerjaan itu. Ketika berubah menjadi tukang jahit, ia bangga dengan profesi barunya. ”Kekuatan kita adalah kebanggaan diri,” ujar Ketua Umum Yayasan Peduli Pendidikan Bunda, Riau, itu mantap.

Lebih jauh, putra dari pasangan Djaninar dan Ali Absyar  ini mengutarakan bahwa dirinya merasa belum sukses. Karena baginya mengembangkan wirausaha dan terus menciptakan lapangan kerja baru adalah tanggungjawab para pengusaha.

Keluarga Miskin

Basko lahir di Kampung Ladang Padusunan, Pariaman, pada 11 Oktober 1959, dari keluarga miskin. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja, sang ibu harus meminjam beras ke tetangga. Itupun mereka hanya makan sehari sekali.  Sang ayah bekerja sebagai buruh tani pengolah gabah.

Amak, begitu ia memanggil sang ibu, sangat tabah menghadapi kondisi sulit hidup, terlebih ketika harus ditinggal suami merantau ke Riau. Setiap malam Amak tak pernah absen menghadap Sang Khalik mengerjakan shalat Tahajud.

Suatu malam, Basko tertidur di paha sang bunda yang tengah menganyam tikar pandan. Tak mau membangunkan anaknya, Amak mengerjakan shalat Tahajud sembari duduk. Sayup Basko mendengar doa sang bunda memohon kepada Allah SWT agar diberi kekuatan untuk membesarkan anak-anaknya.

”Setetes air Amak yang hangat jatuh ke pipi saya yang setengah tertidur di pangkuannya. Kehangatan air mata itu menjalar di permukaan kulit saya, terus ke hati dan merasuk dalam jiwa saya,” kenang Basko. Doa itu terus menjadi kekuatan luar biasa dalam dirinya sebagai bekal berjuang melawan kerasnya hidup selanjutnya.

Deraan kemiskinan yang melilit keluarga, memaksa Basko kecil harus keluar dari sekolah selepas naik kelas lima SD. Ia harus merantau ke Pekanbaru untuk memenuhi kebutuhan hidup. Para guru bersedih, namun tak dapat mengubah keputusan bocah terpandai di kelas dan disayangi banyak guru itu.

Kenek Oplet dan Jual Petai

Di kota baru Basko bekerja menjadi kenek oplet. Ia sering ditawari partner sopirnya untuk belajar mengemudikan oplet, tapi selalu ditolaknya. Basko yakin cita-citanya bukan menjadi sopir oplet. ”Saya pingin punya oplet!” asa Basko.

Sekian lama menjadi kenek oplet, Basko beralih profesi menjadi pengumpul barang-barang tercecer dari truk pembawa bahan-bahan makanan dan hasil pertanian, di antaranya petai, yang bongkat muat di terminal.

Petai-petai tercecer itu ia kumpulkan, lalu ia jual secara eceran dan harga murah kepada pembeli. Ia juga kerap menyuruh beberapa orang untuk mengumpulkan petai tercecer, lalu dibelinya untuk dijual kembali.

Suatu ketika Basko mendapati seorang pedagang petai yang dagangannya amat laris. Ia biasa disapa Lek. Dengan jeli Basko memborong semua petai milik Lek dengan harga cukup mahal, lalu ia pisahkan petai berkualitas bagus dengan yang sedang. Yang bagus ia jual ke restoran-restoran dengan harga tinggi.

Tak puas menjadi juragan petai, Basko kemudian banting stir menjadi tukang jahit. Karena tukang jahit dilihatnya bisa menghasilkan uang lebih banyak ketimbang menjual petai. Dua tahun Basko menjadi tukang jahit dan sukses membuka dua unit usaha jahit dengan nama The Best Taylor, dan bertahan hingga tahun 1980.

Setelah itu, bisnis jahitan ia lelang. Hasilnya ia belikan sepeda motor yang ia alih jual kembali. Mulailah Basko menjadi pengusaha jual-beli sepeda motor di Padang. ”Ada 10 sepeda motor saat itu,” kenang Ketua Forum Silaturahim Saudagar Minang (FSSM) Nasional 2007-2012 itu.

Dari jual-beli sepeda motor, bisnisnya berkembang menjadi saudagar jual-beli mobil baru dan bekas. Jenis mobilnya pick up Chevrolet yang dipasarkan ke berbagai wilayah, seperti Pekanbaru dan Jakarta.

Usaha dealer ini berkembang pesat. Karena sering ke Jakarta dan melihat usaha asesoris mobil cukup cerah, Basko pun membuka usaha itu di Pekanbaru. Bisnis ini menuai hasil melimpah. Beberapa showroom mobil ia miliki. Pintu kesuksesan kian terbuka setelah kemudian ia mengembangkan usaha menjadi kontraktor PT Caltex, dan berbagai jenis usaha lainnya.

Sejak 2006, Basko menekuni jalur bisnis penambangan batu bara di Riau. Ia juga membuka usaha jasa TV kabel dan internet di Sumatera. Harapannya, agar masyarakat dapat mengakses internet murah dan mengikuti perkembangan teknologi informasi.

Beberapa perusahaan masuk dalam Media Ceria Basko (MCB) Group miliknya. Seperti PT Basko Minang Plaza (pusat belanja), PT Cerya Riau Mandiri Printing (percetakan), PT Cerya Zico Utama (properti), PT Bastara Jaya Muda (tambang batubara), PT Riau Agro Mandiri (penggemukan, impor dan ekspor ternak), PT Riau Agro Mandiri Perkasa (pembibitan, pengalengan daging), PT Indonesian Mesh Network (TV kabel dan Internet), dan PT Best Western Hotel (Hotel Basko).

Usahanya yang fenomenal adalah membangun PT Riau Agro Mandiri (RAM); perusahaan bidang pembibitan dan peternakan sapi. Nilai investasinya mencapai Rp 200 milyar. Saat ini sapi ternaknya berjumlah 10.000 ekor sapi ternak. Sedangkan luas tanah peternakannya kurang lebih 300 hektar. Basko ingin menjadikannya sebagai pusat peternakan sapi di Indonesia.

”Kunci sukses bisnis saya keyakinan dan kemauan,” ujar penggemar olah raga golf, renang dan joging ini.

====

Boks

Tak Lupa Kulit

Kesuksesan Basko tak membuatnya lantas lupa asal-usul diri. Atau seperti kata pepatah ”kacang lupa kulitnya”. Basko tak akan pernah lupa dengan para senior dan teman-temannya saat menjadi kernet angkutan kota (oplet) dulu.

Ia berupaya membantu mereka dengan memberi kredit kepemilikan kendaraan, hingga para sopir angkutan bisa menjadi majikan bagi diri mereka sendiri.

Biar kata orang hidupnya sukses dan kaya, tapi Basko yakin tak semua bisa dibeli dengan kekayaan. Dengan rezeki melimpah yang ia peroleh, ia tak ingin meremehkan orang lain. ”Dari dasar itu, kita tak akan tinggi hati,” kata pria berbobot badan 83 kg dan tinggi 165 cm itu. Dan mentalitas ini sangat keras ia tanamkan kepada anak-anaknya. (Sofyan Badrie)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: