Tawakal Pintu Semua Rejeki

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Agama |

Ahmad Taufiq Abdurrahman

Kemasyghulan mengejar kebutuhan duniawi kerap membuat orang lupa berserah diri kepada Allah. Padahal tawakal adalah sumber harapan yang akan memberi kekuatan, dasar ketahanan, dan kekokohan seseorang menghadapi kehidupan.

Antrian panjang angkutan perkotaan (angkot) di terminal penghubung Kampung Melayu, Jakarta Timur, setiap hari nyaris terjadi dan sering membuat kemacetan jalan. Ribuan para pekerja kantoran yang menuju wilayah pusat kota melalu rute tersebut pun harus bersabar terhambat tiba di tempat kerja.

Setiap pagi sejak pukul 6.30 satuan polisi rutin menertibkan jalur tersebut, dan mengusir pengemudi ”bandel” yang masih saja mangkal, walau sudah tahu jalan di belakangnya macet karena ia berhenti atau ngetem seenaknya.

Pemandangan itu terus berlangsung, entah sampai kapan akan berubah. Karakter supir angkot yang seenaknya berhenti atau ngetem sembarangan dengan ”buntut” mobilnya mengganggu lalu lintas, sudah menjadi hal biasa di Ibu Kota. Tiada peduli dengan kenyamanan pengendara lain.

Berbanding kontras dengan Mesir, negeri seribu menara yang juga banyak memiliki angkot, atau dalam bahasa lokal disebut Eltramco. Ratusan angkot ini melayani jalur satu trayek, tapi jarang sekali terlihat mereka kebut-kebutan berebut penumpang, ngetem sembarangan menunggu penumpang, apalagi ”mengoper” atau mengalihkan penumpang yang sedikit di kendaraannya ke angkot lain.

”Tawakkal ’alallâh,” begitu ucapan yang sering keluar dengar dari mulut para pengemudi maupun penumpang angkot di negeri Fir’aun itu. Artinya, berserah diri (tawakal) saja kepada Allah. Rejeki pasti akan datang kalau memang sudah tiba waktu dan masanya. Mengutip istilah orang Betawi, ”Rejeki gak bakal kemane-mane, kok.”

Mungkin mereka ingat betul dengan ungkapan bijak ahli tasawuf yang mengatakan, ”Kalau Allah ingin menurunkan sebuah topi untuk kepala hamba-Nya, pasti Dia tak akan menurunkannya kepada kepala orang yang sangat berharap mendapatkannya.”

Maksudnya, sejauh dan sebanyak apapun permintaan yang seseorang sangat diharapkan, apalagi melebihi kapasitas dan kewajaran, pasti akan sulit didapat. Rejeki dan karunia Allah akan datang kepada orang yang justru tidak obsesif mengharap pemberian karunia-Nya.

Meminta dalam doa maupun asa kepada Tuhan boleh-boleh saja, tapi jangan berlebihan. Serahkan, pasrahkan, dan legowokan ketetapan untuk memberi karunia itu kepada Allah.

Para sopir angkot di Mesir sangat penuh tawakal terhadap rejeki yang akan datang kepada mereka. Tak perlu lama ngetem, mereka pasti dapat penumpang di tengah jalan yang memang tiada habis.

Kota Bogor di Jawa Barat yang dulunya sejuk nan asri, kini pun telah menjadi kota ”sejuta angkot”, dengan karakter para sopir yang tak jauh berbeda dengan sopir-sopir angkot di terminal Kampung Melayu. Ngetem berlama-lama, saling salip berebut penumpang, dan sebagainya, sudah menjadi pemandangan harian.

Tak ada rasa tawakal untuk mendapat rejeki dari penumpang yang akan datang. Meski sadar sudah mengganggu kenyamanan lalu lintas orang lain, atau membuat gusar penumpang di angkotnya yang menunggu ingin lekas sampai ke tujuan, mereka tetap ”ngotot” mengejar rejeki.

Hakikat Tawakal

Tawakal berasal dari akar kata “wakala-wakâlah”, yang berarti memilih wakil. Seorang wakil yang baik, dapat dilihat dari empat sifat. Yaitu pengetahuan yang cukup, terpercaya, mempunyai kemampuan, serta penuh perhatian. Dan memilih wakil untuk sebuah pekerjaan, dilakukan seseorang ketika ia tak mampu bertahan sendirian. Kekuatan orang lain pun digunakan untuk membantunya menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Tawakal kepada Allah berarti manusia menjadikan Tuhannya sebagai wakil dalam menghadapi persoalan, musibah-musibah kehidupan, musuh, para penentang, dan masalah-masalah yang sedang dihadapi.

Ketika seseorang sampai pada jalan buntu dalam upaya mencapai tujuan, dan tak lagi mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan dan memecahkan persoalan, ia akan menyandarkan diri kepada Allah tanpa berhenti berupaya.

Sekalipun ia mampu melakukan pekerjaan, seorang mukmin tetap akan menganggap bahwa faktor utama semua keberhasilan pekerjaanya adalah Allah, Sang Sumber Kekuatan.

Anonim tawakal kepada Allah adalah menyandarkan diri kepada selain Dia. Seperti hidup bagai parasit yang selalu bergantung kepada orang lain dan tidak mempunyai kemandirian.

Para ulama akhlak berkata, “Tawakal merupakan sikap yang dihasilan secara langsung dari tauhîd fi’liyyah kepada Allah, karena segala gerak, usaha dan fenomena di dunia ini pasti terkait dengan Penyebab Utama, yaitu Allah. Oleh karena itu, manusia mukmin akan menganggap bahwa seluruh kekuatan yang ada di dunia berasal dari Allah.”

Faidah Tawakal

Ketika kaum muslimin tengah mengalami pukulan berat di medan Perang Uhud, dan mendengar berita bahwa para musuh yang awalnya telah meninggalkan medan perang akan kembali menyerang, dengan bekal tawakal dan keimanan kepada Allah, kaum muslimin melawan tanpa rasa takut, dan berhasil memenangi peperangan agung itu. (Qs. Âli ‘Imrân [3]: 173)

Kisah tersebut hanya sebuah contoh nyata yang Allah paparkan dalam ayat-ayat al-Qur`an. Masih banyak lagi kisah sukses yang diraih orang yang mau bertawakal dalam segala usaha dan menghadapi segala upaya Allah kisahkan dalam Kitab Suci-Nya. (Lihat Qs. Âli ‘Imrân [3]: 122, Ibrâhim [14]: 12, atau Âli ‘Imrân [3]: 159).

Bahkan, al-Qur’an menyatakan, orang-orang yang akan mampu bertahan dan bisa keluar dari godaan setan, hanyalah orang-orang yang beriman dan bertawakal. “Sesungguhnya setan tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (Qs. an-Nahl [16]: 99)

Intinya, dengan tawakal, seseorang tak akan merasa lemah menghadapi beratnya persoalan kehidupan. Karena dengan bersandar dan menggantungkan diri kepada kekuatan Allah yang tiada batas, ia justru telah menyatakan diri akan selalu menang.

Sebagai figur utama kaum mutawakkilîn (orang-orang yang bertawakal), Rasulullah SAW telah meneladankan bagaimana cara jika ingin mencapai sebuah tujuan. Beliau tak pernah lalai dari rencana dan siasat yang jitu, taktik yang cermat, dan berbagai peralatan dan sarana perlengkapan eksternal menyongsong suatu tujuan.

Beliau meneladankan, bahwa tawakal bukan hanya berserah diri, tapi harus disertai usaha maksimal menggapai sebuah hasil usaha. Dan tawakal ala beliau, bukan sikap berdiam diri di sudut kamar dan hanya mengandalkan tengadah tangan tanpa perjuangan dan jerih payah.

Dari teladan beliau tersimpulkan, berbekal tawakal kepada Allah, ketahanan manusia dalam menghadapi persoalan dan kesulitan hidup akan meningkat. Sebab tawakal adalah sumber harapan yang akan memberi kekuatan, dasar ketahanan, dan kekokohan seseorang.

=========

Boks 1

Berani Karena Tawakal

Dalam sebuah riwayat disebutkan: Rasulullah pernah bertanya kepada Malaikat Jibril, “Apakah tawakal itu?” Jibril menjawab, “Tawakal adalah yakin pada kenyataan bahwa makhluk bukanlah pembawa keuntungan, bukan pula pembawa kerugian, tidak memberi, tidak pula menghalangi, dan tidak menggantungkan harapan kepada makhluk apapun. Ketika seorang hamba telah meyakininya, ia tak akan melakukan pekerjaan kecuali hanya untuk Allah, dan tidak mempunyai harapan kecuali dari Allah. Inilah hakikat tawakal.”

Dalam kisah bijak lainnya disebutkan: Seseorang pernah bertanya kepada Ali ibn Musa ar-Ridha, “Sebatas manakah tawakal itu?” Ia menjawab, “Hendaknya kamu tak takut kepada siapapun dengan bersandar kepada Allah.”

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: