Terapi Psikoreligius Korban Narkoba

Posted on May 11, 2010. Filed under: Interview |

Prof. Dr. dr. Dadang Hawari

Psikiater, Dokter Psikiater dan Pendiri Panti Rehabilitas Narkoba ”Mental Health Centre” Jakarta, Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia

Narkoba sudah mewabah di mana-mana. Jumlah penggunanya dari tahun ke tahun naik secara signifikan. Akibatnya, 14 ribu orang per tahun mati. Bangsa Indonesia kian sangat terancam. Apalagi peredaran narkoba sudah sampai pada lapisan inti masyarakat, yaitu anak-anak sekolah dan ibu rumahtangga.

Menurut psikiater, dokter psikiater, Prof. Dr. dr. Dadang Hawari, permainan narkoba seperti sudah ”asin” dalam kehidupan. Tapi, ”Jangan sampai kita ikut ”asin” di dalamnya. Jadilah seperti ikan di laut, yang rasa airnya asin tapi tak membuat tubuh asin,” tegas Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Berikut petikan wawancaranya kepada Majalah Qalam beberapa waktu lalu di panti rehabilitas narkoba ”Mental Health Centre” yang ia dirikan di bilangan Jakarta Selatan.

Bagaimana perkembangan penggunaan narkoba di Indonesia?

Narkoba sudah tak asing lagi di telinga masyarakat perkotaan dan pedesaan. Di media masa, iklan sosial masyarakat, spanduk dan poster-poster, sering kita temukan. Secara tidak langsung, aneka ragam komunikasi masa itu mengungkapkan bahayanya narkoba. Sayangnya, mereka yang mengonsumsi narkoba belum membuka mata akan bahaya barang haram tersebut.

Apa bahayanya bagi generasi bangsa?

Jumlah pengguna narkoba dari tahun ke tahun menunjukkan angka kenaikan yang signifikan. Akibat narkoba, 14 ribu orang per tahun mati. Bahkan ancam global narkoba terhadap bangsa ini sudah sangat mengkhawatirkan.

Seperti yang sering terjadi, peredaran narkoba bahkan sampai pada tingkat bawah. Yakni anak-anak sekolah hingga ibu rumahtangga.

Tak hanya narkoba yang beredar bebas di masyarakat. Alkohol pun tidak dilarang di Indonesia. Mereka yang mencari keuntungan tanpa memikirkan dampak buruk barang haram ini, dengan bebas menjualnya di warung-warung. Orang yang penasaran pun akan coba-coba membeli, hingga mereka mulai terperangkap.

Ketika perangkap itu telah masuk, maka untuk mengeluarkannya akan semakin susah. Memberantas komplotan obat-obatan terlarang dalam gabungan NAZA (Narkotika dan zat aditif) pun akan semakin sulit. Seperti menarik pancing yang menusuk daging. Jika ditarik akan berdarah-darah.

Mengapa narkoba seperti sulit diberantas?

Di Indonesia, narkoba sudah mewabah di mana-mana. Mereka yang kaya menghambur-hamburkan uang untuk membeli narkoba. Tak terkecuali kalangan mahasiswa, artis, pejabat, pebisnis, aparat pemerintah, eksekutif, bahkan anak-anak. Semuanya tercandu narkoba.

Ironisnya, pemerintah seperti acuh saja. Terungkapnya pabrik ekstasi terbesar di Serang tahun lalu, keberadaannya sebenarnya sudah diketahui. Selama ini orang tahu, tapi dibiarkan. Hal ini karena ada upaya penyogokan agar kasus ditutupi.

Bagaimana seseorang bisa terkena narkoba?

Ada tiga faktor yang membuat seseorang terlibat penyalahgunaan NAZA hingga tahap ketergantungan. Pertama adalah faktor predisposition, misalnya gangguan kejiwaan akibat gangguan kepribadian (anti-sosial), kecemasan dan depresi. Mereka merasa tak puas dengan perilaku orang lain. Mereka juga tak mampu berfungsi secara wajar dan efektif di rumah, sekolah, tempat kerja atau pergaulan sosial.

Karena mengalami depresi dan gangguan kejiwaan, maka orang tersebut cenderung mencari pelarian kepada narkoba, sebagai bentuk pengobatan kejiwaannya.

Datangnya narkoba ini bisa dari teman dekat, atau pengguna narkoba di sekelilingnya. Pengidap gangguan kejiwaan (predisposition) mempunyai resiko 19,9% terlibat penyalahgunaan NAZA.

Faktor lainnya?

Faktor kontribusi, dipengaruhi pada kondisi keluarga yang tidak tertata baik. Misalnya kondisi orangtua yang bercerai, tidak harmonis atau kesibukan orangtua dengan pekerjaan dan aktivitas lainnya.

Kondisi itu akan lebih parah jika tak ada komunikasi yang lancar antaranggota keluarga, sehingga terjadi kesenggangan hubungan. Baik antara anak dan orangtua maupun saudara, atau adanya sikap dingin dan acuh antarsesama.

Kondisi ini relatif mempunyai risiko 7,9% terlibat penyalahgunaan NAZA.

Faktor ketiga adalah faktor pencetus. Berdasarkan penelitian, pengaruh teman kelompok sebaya memberi andil 81,3% bagi seseorang untuk terlibat dalam penyalahgunaan NAZA. Kondisi ini pun didukung dengan semakin mudahnya obat-obatan terlarang itu diperoleh.

Cara mengindikasi orang yang terkena narkoba?

Untuk mengindikasi seseorang menjadi pengguna narkoba atau tidak, bisa dilihat dari sikap dan perilakuknya. Perilaku aneh seperti adanya gangguan mental yang ditandai adanya perubahan perilaku dan fisik. Misalnya mudah marah atau sering terlibat perkelahian.

Langkah sederhana untuk pencegahannya?

Orangtua atau anggota keluarga, hendaknya memperhatikan pergaulan anggota keluarga masing-masing. Ini sangat penting karena narkoba bisa datang dari pengaruh pergaulan teman.

Begitu pula anak muda, orangtua maupun eksekutif kantor yang sering menghambur-hamburkan uang dengan mengkonsumsi narkoba sebagai gaya hidup atau pelarian.

Tingkat kewaspadaan ini perlu ditingkatkan, karena saat ini bentuk dan jenis narkoba semakin banyak. Ada heroin, morfin, ganja, sabu-sabu, putau dan inek, yang masing-masing bisa melemahkan dan mengganggu akal sehat manusia.

Cara menangani dan mencegah pasien yang ketergantungan narkoba?

Untuk menangani seseorang yang menderita penyalahgunaan narkoba, mereka perlu didetoksifikasi. Yaitu diproses pembuangan racun dari tubuhnya. Jika ditemukan virus narkoba yang telah menggerogoti korban, mereka perlu direhabilitasi dengan perawatan khusus maupun berobat jalan.

Namun, terapi ini tak boleh dilakukan dengan obat metadon dan subutek. Sebab zat tersebut adalah sintesa putau, morfin, heroin dan sejenisnya. Berdasarkan penelitian dan pengamatan saya, pengobatan dengan zat tersebut bisa menyebabkan pasien menjadi bergantung kepada obat tersebut.

Jika hal ini dilakukan, pasien akan ketergantungan dengan obat-obat dari dokter. Bisa jadi bandar narkobanya nanti malah dijalankan para dokter.

Upaya lainnya?

Selain penanganan medis, penderita narkoba bisa diobati dengan pendekatan psikologis secara halus. Mereka akan dikaji mengapa bisa memakai narkoba, menjadi kecanduan, dan sebagainya. Secara sosial, pengguna NAZA perlu dipertanyakan mengapa menjadi broken home, berperilaku keras dan kasar kepada orang lain.

Setelah kedua pendekatan itu dilakukan, pasien perlu dikembalikan kepada spiritualitas, agama dan Tuhannya. Terapi keagamaan (psikoreligius) memegang peranan penting, baik dari segi pencegahan, terapi berjalan, maupun rehabilitas.

Jika segala permasalahan dan kesulitan dikembalikan kepada Tuhan si penderita dengan memohon perlindungan, maka ia akan terhindar dari rasa takut, khawatir dan stres, sehingga kemudian tak akan terlibat lagi dalam penyalahgunaan NAZA.

Apa saja yang bisa dilakukan untuk melakukan terapi pendekatan agama?

Terapi psikoreligius ini bisa dilakukan dengan menjalankan shalat, berdoa, mengaji, dan mendalami cara-cara agama memerangi narkoba.

Selain itu bisa juga dengan pendalaman tauhid dan silaturrahim kepada ahli agama. Juga menanamkan pada keluarga semangat terhindar dari siksa api neraka, dengan menjauhi keterlibatan penggunaan narkoba.

Terapi unsur agama ini tak hanya penting bagi pasien penyalahguna NAZA, tapi juga bagi anggota keluarganya dalam menciptakan suasana rumahtangga yang religius dan penuh kasih sayang.

Di kota seperti Jakarta, permainan narkoba seperti sudah ”asin”. Maka jangan sampai kita ikut ”asin” di dalamnya. Jadilah seperti ikan di laut, yang rasa airnya asin tapi tak membuat tubuh ikannya asin. (Ahmad Muhajir)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: