Valentine: Konsumerisme Bertopeng Kasih Sayang

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Sosial Politik |

Faisal Haq

Jurnalis Senior, Pemerhati Sosial

Minggu kedua Februari adalah “Hari Raya” yang selalu dinanti-nanti oleh sebagian remaja. Ya, hari spesial, khususnya bagi anak-anak baru gede (ABG), di kota-kota besar hampir di seluruh dunia. Bagi mereka, hari itu adalah Hari Pink. Serba merah muda.

Mereka “percaya” hari itu adalah hari kasih sayang. Dekor hati yang terbuat dari balon (plastik) warna merah muda dengan seorang bocah kecil bugil membawa busur dan panah, tampak menghiasi etalase-etalase mal dan plaza hotel berbintang.

Semua mal, tempat nongkrong, karaoke, diskotik, stasiun televisi -khususnya dalam program infotainmen-, bahkan lokalisasi pelacuran pun turut memeriahkan produk budaya Barat itu dengan tampilan merah muda. Produk-produk seperti coklat, permen, es krim, t-shirt, bunga dan lain-lain, pun dibuat para pebisnis dengan semuanya serba merah muda.

Dari sini saja, kasat terlihat Valentine’s Day yang merupakan produk Romawi kuno itu dimanfaatkan kapitalisme liberal yang berbusana modern, bertopeng westernal.

Seorang penjual bunga mawar di sekitar Mal Seibu Blok M, Jakarta Selatan, Amrizal (20 tahun), mengaku dagangannya sangat laku keras menjelang Valentin 2009 kemarin. Di kampung halamannya, Maninjau, Sumatera Barat, Amrizal tak pernah merayakan Hari Valentin.

Ia baru tahu setelah dua tahun merantau di Jakarta, kalau upaya menyatakan kasih sayang itu dengan cara memberi bunga. Atau momentum Valentin bisa dimanfaatkan seseorang untuk “nembak” (menyatakan cinta atau mengukuhkan hubungan) kepada lawan jenisnya.

Memang pesta Valentin di Indonesia lebih marak dirayakan di perkotaan, khususnya kota-kota besar. Kakeknya Amrizal bercerita, di zaman Bung Karno doeloe, tak ada yang berani merayakan Hari Valentin, karena ritual ini termasuk produk budaya Barat yang dilarang Bung Karno.

Maraknya perayaan pesta Valentin di Indonesia, mulai berkibar sejak era 1970-an setelah rezim Soeharto berkuasa, terutama setelah “dihalalkan” masuknya investasi asing seperti KFC, Mc Donald dan Pizza Hut.

Hari spesial bagi anak-anak muda perkotaan ini tentu diwarnai dengan pesta hura-hura, yang efek mudharatnya lebih besar. Apalagi Narkoba dan Miras (minuman keras) sudah mewabah di masyarakat. Di luar sana, Indonesia sudah dikenal sebagai produsen narkoba.

Akibat lemahnya penegakan hukum di negeri ini, dapat saja perayaan Valentin disalahgunakan dengan pesta seks dan Narkoba.

Cerita Awal

Hari yang “katanya” untuk berkasih sayang ini menurut sejarahnya adalah tradisi gereja. Diperkenalkan pertamakali pada tahun 496 Masehi oleh Paus Gelasius I, yang menjadikan ritual Romawi Kuno ini sebagai perayaan gereja untuk menghormati Santo (St.) Valentine yang wafat pada 14 Februari 269 M. Dan Paus Gelasius I mengubah upacara ini dengan nama Saint Valentine’s Day.

Berdasarkan Catholic Encyclopedia (1908), sebenarnya terdapat tiga orang yang diberi nama St Valentine: Pertama, seorang pastur dari Roma yang mati sebagai martir; Kedua, pastur lainnya wafat di Afrika Utara; Dan ketiga, seorang uskup dari Terni (Italia) yang mendapat julukan St. Valentine.

Istilah “valentine” dalam bahasa Latin disebut “valentinus” artinya gagah perkasa. Banyak orang Romawi menamakan anaknya dengan “Valentine”, sebagai julukan bagi raja Romawi yang dipuja ketampanan dan kegagahannya, yaitu raja Nimrod.

Banyak gadis tergila-gila padanya. Tak hanya para perawan jelita, ibu kandung Nimrod pun, Semiramis, tak mampu menyembunyikan syahwatnya. Tanpa malu, Semiramis pun mengawini putra kandungnya itu. Pada 15 Februari, Nimrod dan ibunya meminta maaf atas cinta kasih mereka yang haram itu.

Maka pada setiap perayaan Valentine’s Day, acap kali kita lihat ada lambang hati dan seorang anak kecil telanjang, yang disebut Cupid membawa busur panah. Si Cupid pembawa busur panah itu adalah gambaran dari Nimrod saat masih kecil. Panah Cupid yang tampil bugil itu, tak hanya membuat orang saling jatuh cinta, tapi juga membangkitkan nafsu birahi.

Beda Budaya

Di negeri-negeri yang kuat memelihara akar budayanya, Valentine’s Day tidak dirayakan pada 14 Februari. Kenduri Valentine di Cina mengikuti penanggalan Cina yang disebut “Qi Shi”, yang artinya 77, dan dirayakan pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek. Di negeri itu, hajatan ala Hari Valentin ini sudah berkembang sejak tahun 206 sebelum Masehi, persisnya sejak zaman dinasti Han.

Kita sepakat secara historis, Cina menjadi negeri pertama di dunia yang merayakan hari kasih sayang. Sedangkan Imperium Romawi baru mengadakan Valentin pada tahun 269 M (sesudah Masehi), yang diperkenalkan pertamakali pada tahun 496 M oleh Paus Gelasius I untuk menghormati St. Valentine yang wafat pada 14 Februari 269 M.

Beda Cina, beda pula Jepang dan Korea. Hari Kasih Sayang di Korea dan Jepang dirayakan pada 14 Maret. Mereka menyebut Hari Raya itu sebagai hari Giri-Choco. “Giri” berarti wajib, dan “choco” berarti coklat. Pada hari itu para gadis diwajibkan memberi coklat kepada teman-teman pria. Dan kaum lelaki membalasnya dengan memberi hadiah coklat berwarna putih, atau hadiah lainnya yang warnanya putih. Maka bagi kawula muda Jepang dan Korea, 14 Maret disebut sebagai “White Day” atau hari putih.

Di Brazil (negara Amerika Latin) hari kasih sayang dirayakan pada 12 Juni, yang dikenal dengan sebutan “Dia Dos Namorados” (hari cowok-cewek). Sedang di Kolombia walau satu daratan dengan Brazil, mereka merayakan hari kasih sayang di bulan September dengan nama “Amigo Secreto” (sobat rahasia). Si pemberi hadiah pada peringatan itu tak boleh memberitahu identitasnya.

Di negeri-negeri Timur Tengah yang mayoritas beragama Islam dan teguh pada akidah Islam, seperti Saudi Arabia, Kuwait, Yordania dan Mesir, tidak merayakan hari kasih sayang. Karena memang ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk saling menyayangi dan mengasihi, tak hanya dengan sesama manusia, juga sesama makhluk ciptaan Allah SWT, tanpa mengenal hari atau melalui perayaan tertentu.

Fatwa Haram?

Jelas sudah, Hari Valentin bukan budaya kita dan bukan pula ajaran agama kita. Yang masih dipertanyakan hingga kini, perlukah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa haram perayaan Valentine’s Day ini? Dan apa alasannya?

Biasanya, para ulama akan memfatwakan sesuatu menjadi haram jika lebih banyak berefek mudharat, begitu pula Valentine’s Day. Dari berbagai kisah tentang Valentin dan sejarahnya dari kepustakaan Barat dan Kristen, seperti secara ringkas dituangkan di atas, jelas ada fakta-fakta sensasi amoralistik dan naif dari perayaan Valentin. Belum lagi dampak moral-sosialnya yang kini sudah sangat terasa bagi masyarakat muslim.

Maka wajib kiranya MUI segera membuat fatwa haram bagi umat Islam untuk merayakan hari kasih sayang tersebut. MUI seharusnya jangan hanya sibuk dengan fatwa-fatwa sumir, seperti fatwa rebounding rambut atau tembakau. Sudah waktunya fatwa untuk menjaga akidah dan moral umat Islam Indonesia dari gerusan imperialisme budaya, seperti perayaan Valentin dikeluarkan.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: