Waspadai Psikopat Kantoran

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Sosial Politik |

Shofia Tidjani

Malam itu, Handoko, sebut saja begitu namanya, pria separuh baya pengelola sebuah perusahaan penerbitan di Jakarta tertegun kaku. Tanpa disangka, malam yang cerah itu akan menimpakan nestapa hidupnya. Setelah rapat kecil dengan pemodal perusahaannya, ia diputuskan harus segera melepas usaha yang dibidaninya dan kini tengah naik daun itu ke tangan orang lain. Padahal, dengan susah payah ia telah rintis usaha itu dari nol. Tapi setelah mulai memperlihatkan buah, kebunnya malah dibabat orang.

Handoko memang secara formal tidak memiliki saham materi atau investasi uang di usaha penerbitan itu. Tapi jasa dan upaya kerasnya tak tak kenal lelah membangun mekanisme perusahaan komunitas yang ia jalankan itu, menjadi saham jasa yang tiada terkira.

Entus (32), anak buahnya yang dulu ia bimbing, ternyata malah “naik pangkat” dipercaya pemodal dan pemilik perusahaan untuk melanjutkan pengelolaan usaha yang Handoko bangun. Tak banyak cong-cong, Handoko hengkang dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Entus yang terbilang muda, tapi berkepribadian penjilat dan ABS (Asal Bapak Senang) kepada atasan maupun pemilik modal perusahaan.

Handoko sadar, ia kalah strategi. Tapi Entus memang licin bagai belut. Dulu, saat menjadi bawahan, ia sangat baik dan murah senyum. Tapi ternyata di belakang Handoko ia bermanuver untuk menggulingkannya. Ia bekerja keras meraih “nafsu” tamak diri untuk menguasai perusahaan, apapun caranya. Termasuk dengan menyingkirkan “guru” yang telah membimbingnya.

Sebagai seorang profesional senior yang telah makan asam-garam di dunia penerbitan, Handoko menerima kenyataan itu. Baginya, sosok seperti Entus wajar ada di mana saja, termasuk tempat kerja. Handoko hanya menyayangkan, dirinya tak lekas sadar dan segera mengantisipasi “kelakuan” berbahaya Entus, sang psikopat kantoran itu, untuk karir dan masa depan perusahaannya.

Secara harfiah, psikopat berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya disebut psikopati, pengidapnya seringkali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”.

Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.

Menurut Robert D. Hare, ahli psikopati dunia yang juga guru besar Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada, seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.

Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun ternyata, jenis ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat di sunia. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan.

Kasus sosok Entus di atas, memperlihatkan bahwa psikopat ternyata tak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada kisah thriller saja. Psikopat, baik laki-laki maupun perempuan, kini bahkan tengah berencana licik melakukan misinya di jutaan kantor atau tempat kerja di seluruh dunia.

Menurut pakar psikolog kriminal dari University of Sydney, Australia, Dr. John Clarke, ada penelitian menyatakan bahwa satu persen dari populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya. Mereka biasanya bersembunyi dengan berbohong, mencurangi, mencuri, memanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan rekan kerja. Semuanya mereka lakukan tanpa rasa salah dan penyesalan.

Lebih buruk lagi, Clarke menilai, mereka yang disebut organisasi psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, tempat paling cocok mengembangkan kezhaliman dan nafsu mereka. Contoh kecilnya dimulai dari iklan lowongan kerja.

Misalnya iklan yang menyebut, “Anda tahu Anda adalah yang terbaik, Anda mampu mempengaruhi orang, apapun akan Anda lakukan untuk memenangkan perusahaan.” Menurut Clarke, iklan semacam ini jenis pernyataan yang menarik bagi banyak orang, terutama para psikopat.

Dalam wawancara lamaran kerja, psikopat biasanya sangat mampu tampil mempesona sebagai orang yang cocok untuk lowongan itu. “Mereka adalah pembicara yang sangat bagus, dan kadang mengarang riwayat hidupnya, sehingga pewawancara terperdaya,” tegas penulis buku The Pocket Pscyho yang berisi panduan singkat cara melindungi diri dari psikopat organisasional itu.

Psikopat kantoran atau tempat kerja akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaan, status dan upah yang mereka inginkan. Mereka berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha keras demi diri mereka sendiri. Perbedaannya, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat kantoran menghancurkan korbannya secara psikologis.

Penjilat dan Munafik

Ibarat benalu yang suka memakan tanaman tempatnya berpijak, kelakukan psikopat kantoran sungguh berbahaya. Biasanya mereka akan berteman dekat dengan orang berkedudukan lebih tinggi agar dapat melindungi mereka. Mereka akan merongrong sekaligus berteman dengan bos, dan berusaha meniti kedudukan di perusahaan.

Mereka akan merampas keyakinan diri maupun rasa mampu seseorang, dan menghilangkan rasa percaya orang terhadap orang lain. “Korban akan menjadi dingin, sinis, getir dan hampir tak mampu bekerja,” ujar Clarke.

Jika Anda mengalami kondisi atau menemukan gejala adanya sosok psikopat tempat kerja, Clarke memberi dua senjata yang bisa Anda pakai untuk melindungi diri dari mereka. Yaitu: pendidikan dan kerjasama tim.

Dalam pendidikan, kita harus bisa mendidik diri sendiri untuk mengetahui tindak-tanduk sang psikopat. Dengan mengetahui tiap langkahnya, kita akan mempu menghentikan siklus penyimpangan psikologis orang itu. Juga, kita akan cepat pulih untuk tidak lekas menyalahi diri sendiri atau merasa terasing dari lingkungan kita akibat ulah sang psikopat.

Kiat kedua adalah membangun tim dan kerjasama tim. Anda harus berbicara kepada orang lain, dan mengatakan apa yang terjadi. “Jika psikopat tak dapat mengasingkan Anda, maka mereka tidak dapat menghancurkan Anda,” imbuh Clarke.

Dalam situasi di mana majikan atau atasan tak mampu bertindak terhadap kuatnya pengaruh psikopat di tempat kita kerja, Clarke menyarankan agar kita segera pindah mencari pekerjaan lain untuk melindungi diri.

Mengapa harus memilih sikap ini? Karena kita (korban) tak bisa mengubah seorang psikopat. Dan jika tetap berada di tempat yang sama, maka proses rehabilitasi diri kita dari dampak kehancuran akibat ulah sang psikopat justru hanya akan memperparah upaya psikopat untuk menyakiti diri kita.

“Mereka tidak peduli. Mereka tidak berpikir dirinya adalah psikopat. Mereka tidak berpikir apa yang sedang dilakukan adalah salah. Mereka hanya berpikir dirinya pintar, dan jika semua orang secerdas mereka, semuanya pun akan melakukan hal serupa,” tandas Clarke.

Walau memang sulit untuk meluruskan kecenderungan perilaku dan sikap keliru orang psikopat tempat kerja, tapi bukan berarti tiada jalan untuk memperbaikinya. Menurut Clarke, merehabilitasi mereka dapat dengan mengajarkan mereka keterampilan sosial, dan menunjukkan cara berurusan yang pantas terhadap orang lain.

Tapi karena psikopat kantoran merupakan penyakit kronis dan agak sulit ditanggulangi, upaya kita untuk meluruskan mereka dengan cara di atas, juga menyimpan kelemahan. Kaum psikopat kantoran justru akan menggunakan keterampilan sosial yang kita ajarkan malah untuk makin melihaikan keahlian mereka memanipulasi orang.

Boks

Ciri Psikopat Kantoran

1. Tanpa dosa. Psikopat kantoran atau tempat kerja tidak akan menyesali berapapun yang mereka jadikan korban. Mereka rela menusuk dari belakang atau mencuri hasil kerja orang lain.

2. Mempesona. Mereka adalah pembicara yang sangat bagus. Mereka lebih suka berhadapan empat mata dan menghindari rapat kelompok.

3. Manipulatif. Mereka membengkokkan sistem maupun aturan perusahaan untuk kepentingan sendiri. Mereka memangsa berbagai kelemahan orang, khususnya yang kurang percaya diri.

4. Parasitis. Mereka mencari penghargaan dari hasil kerja orang lain.

5. Pembohong yang patologis. Psikopat kantoran bukan pembohong ulung. Namun, jika mereka ketahuan, mereka dapat berdalih untuk menemukan selamat.

6. Tak menentu. Psikopat kantoran hanya punya emosi pokok (senang, sedih, marah). Pergantian antar emosi terjadi sangat cepat, semenit senang, semenit kemudian marah lalu semenit selanjutnya sedih.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: