Kembali Fitri

Dr. Ahmad Fauzi Tidjani

Ramadhan telah berlalu. Sebulan penuh seorang Muslim berupaya keras menjadi hamba yang ‘âbid, meninggalkan kenikmatan duniawinya di siang hari untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Di bulan suci inilah seorang hamba berupaya untuk mengenal alam spiritual yang agung. Kemampuan menembus alam material duniawi ini, sungguh merupakan kemenangan besar yang luar biasa (fawz al-adzîm).

Banyak ungkapan dalam al-Qur`an, telah sangat keras mengecam karakteristik hewani manusia yang kini telah begitu dominan membutakan manusia. Karakter ini pun telah membuat mereka mengabaikan nilai-nilai kesucian spiritual dirinya.

Ini merupakan konsekuensi langsung dari kebutaan manusia terhadap pandangan spiritual. Yang membuat mata mereka tak jelas melihat segala kebaikan yang kasat pandang. Ketidak-mampuan memandang secara spiritual inilah yang melahirkan berbagai sifat dan sikap bodoh, yang dikenal sebagai “jahiliyah”.

Keberhasilan seseorang dengan puasanya untuk menyingkap tabir pandangan kasatnya menuju pandangan spiritual, merupakan kemenangan. Dan kemenangan besar inilah yang lazim dirayakan kaum Muslimin di penghujung Ramadhan.

Mereka bergembira, bersuka ria terlepas dari kungkungan material yang selama ini menjadi penghalang antara dirinya dan dunia kemanusiaan atau alam insâniyyahnya. Mereka bahagia karena telah kembali ke alam insâniyyah yang sesungguhnya disebut “Idul Fitri”, atau kembali kepada fitrah (kesucian, kealamiahan).

Esensi kembali kepada fitrah adalah fitrah diri sebagai hamba Allah. Dan yang paling penting adalalh kembali untuk mengikut landasan al-Qur`an yang memberi banyak petunjuk bagi kehidupan kita.

Kembali ke fitrah akan terjadi jika akal yang Allah karuniakan kepada kita telah dapat kita gunakan untuk memikirkan perkara-perkara yang baik. Hati dan kalbu yang Allah kuruniakan sudah kita manfaatkan dengan baik untuk membina emosi dan kejiwaan yang stabil. Dan bakat jasmani yang diberi, pun telah digunakan untuk perlakuan dan tindakan yang bermanfaat.

Pokok Fitrah

Dari sini, seluruh kehidupan manusia seharusnya tertata di atas nilai-nilai fitrah. Sebab, manusia memang telah diciptakan di atas nilai-nilai tersebut. Fithratallâhil-latî faththaran-nâsa ‘alaiha, lâ tabdîla likhalqillâh” (Fitrah Allah, di mana manusia diciptakan sesuai dengan fitrah itu. Tiada perubahan dalam ciptaan fitrah itu).

Namun, perlu diingat, bahwa untuk menuju fitrah yang sempurna, butuh sentuhan pokok fitrah berikut ini:

1. Mengenal Sang Khaliq

Jika seorang manusia tak lagi mengenal Tuhannya, maka jangan harap ia akan mengenal apapun, termasuk dirinya sendiri. “Nasullaha fansaahum anfusahum, ulaaika humul ghaafiluun” (Mereka lupa Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang lalai).

Untuk mengenal Tuhan, kita cukup membuka mata saja. Di mana pun mata memandang, Tuhan pasti menampakkan Diri (kebesaran-Nya) secara jelas. Suatu ketika, al-Ghazali berjalan di pinggir pantai. Lalu dipandangnya keindahan ombak lautan, seraya berujar, “Aku lihat Tuhanku berenang-renang.” Sungguh benar firman Allah, “Akan Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami di angkasa luar dan pada diri-diri mereka, apakah mereka tidak melihat?”

Maka, perintah menganalisis dan membaca al-Qur`an (Iqra’ bismi rabbikalladzî khalaq), pada intinya adalah perintah kepada manusia untuk memikirkan Penciptaan dirinya sendiri. Dari sana, ia akan mengenal Sang Pencipta.

Begitu menyatunya antara Khaliq dan fitrah manusia, maka seingkar apapun manusia, ia tak akan mampu mengingkari adanya wujud Ilahi. Disebutkan dalam al-Qur`an bahwa iblis ketika diusir dari surga, pun masih mengakui kebesaran Ilahi. “Fabi’izzatika laughwiyannahum ajma’în” (Hanya dengan kemuliaan-Mu wahai Allah, akan kami sesatkan mereka semua).

Fir’aun sang mutakabbir yang berlebihan, bahkan berpura-pura tidak mengenal Tuhan ketika Nabi Musa AS memperkenalkan kebesaran Allah kepadanya. Namun terbukti, fitrahnya tak akan mampu mengingkari kuasa Allah ketika ia tenggelam di laut merah. Iapun mengakui, “Al-âna âmantu bi-rabbi Mûsâ wa Hârûn” (Sekarang aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun). Inilah pengakuan fitrah.

2. Sadar Diri

Disebutkan di atas, keberhasilan manusia dalam mengenal Tuhannya, akan melahirkan pengenalan terhadap dirinya, begitu pula sebaliknya. Manusia hanya akan sadar akan dirinya, jika ia sadar tentang Tuhannya. Sebaliknya, ia akan jahil tentang dirinya jika ia jahil terhadap Tuhannya.

Sehingga sebagai penafsiran dari ayat, “Nasullaaha fa ansaahum anfusahum” (mereka lupa Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri),

Hingga disebutkan dalam sebuah pepatah Arab, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (Siapa yang mengenal dirinya, maka ia sudah mengenal Tuhannya).

Sebuah konsekuensi logis, bagi yang mengenal Allah, baik dalam alam pemikiran (keyakinan/iman) maupun aksi (amal), ia akan sadar diri dari mana dan bagaimana asal mereka, serta akan ke mana tujuan akhir mereka. Bagi yang tidak sadar diri karena tidak mengenal Tuhan, mereka akan hidup serba semraut. Mereka hanya akan menjadi budak-budak materi yang patuh kepada rutinitas keduniaan.

Mereka tak lagi menjadi “ahsanu taqwîm” (sebaik-baiknya ciptaan), atau makhluk termulia, dan bukan lagi pemegang amanah pengendali bumi (khalîfah) di muka bumi. Mereka tak punya pijakan hidup, sehingga cenderung hanya akan mengikuti perubahan situasi, dan bukan menjadi penggerak/pengendali perubahan.

Kegagalan manusia mengenal diri sendiri inilah yang melahirkan berbagai sifat maupun sikap yang serba jahil. Kesimpang-siuran nilai-nilai kehidupan, dan kesemrautan perilaku, seperti fenomena homoseksualitas, lesbianisme, poliamorisme, free sex, dan berbagai bentuk tindak kekerasan.

Milyaran dollar telah dibelanjakan untuk mencari solusi masalah ini, namun tak kunjung reda, apalagi habis. Karena dalam prosesnya, manusia justru semakin diajak untuk tidak mengenal dirinya sendiri. Begitulah dilema yang dialami dunia Barat saat ini. Mereka sadar keboborokan telah terjadi, namun tak sadar jika semua itu merupakan akibat kejahilan mereka terhadap diri sendiri, akibat kejahilan akan Pencipta.

3. Mengenal Kawan dan Lawan

Sebagaimana perkawanan (walâ`), permusuhan (‘adâ`) juga adalah bagian dari fitrah manusia. Hanya saja, pada kenyataannya banyak orang tidak mengenal siapa kawan (waliy) dan musuh (‘aduw)nya. Tak jarang mereka malah bermusuhan dengan teman dan menjadi kawan kongkalikong (kolusi) para musuh sendiri.

Ketika Nabi Adam AS pertama kali diturunkan ke bumi, Allah berpesan kepada kepada Adam dan isterinya, “Qul nahbithû ba’dhukum liba’dhin adhuwwun” (Turunlah kamu dalam keadaan bermusuhan). Menurut para ulama, makna ayat ini bahwa manusia memang telah hadir di atas dunia ini dalam keadaan bermusuhan. Tapi konteks ayat ini jelas, musuh yang dimaksud adalah iblis.

Namun, seringkali kita salah persepsi bahwa iblis adalah makhluk terpisah yang jauh dari kita. Padahal, dilihat dari hakikatnya, sesungguhnya iblis terkadang menyatu dengan diri kita. Karena sedemikian dekatnya, sehingga semua arah terkuasai olehnya untuk menggoda kita. Dari depan, belakang, kanan dan kiri, semuanya dapat iblis gunakan untuk menyesatkan manusia. Ini pula maknanya sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa musuh terbesar diri kita adalah diri sendiri (hawa nafsu).

Untuk melepaskan kungkungan iblis (musuh) diri kita, diperlukan Allah sebagai pembenteng. Manusia yang taqarrub (dekat) dengan Allah, pasti akan jauh dari musuh-Nya (iblis). “Allâhu walyyulladzîna `âmanû. Wal-ladzîna kafarû `auliyâ`uhumuth-thâgût” (Orang-orang yang beriman itu walinya adalah Allah, sedangkan orang-orang kafir wali-walinya adalah thagut).

Dan orang yang menjadikan Allah sebagai walinya, tak akan mengalami rasa takut dan khawatir dalam kehidupan. “Alâ inna auliyâ`allâhi lâ khawfun ‘alaihim walâhum yahzanûn” (Sungguh bagi wali-wali Allah tiada takut bagi mereka, dan tiada mereka bersedih).

Menurut riset terkini pun telah ditemukan, ternyata penyakit takut dan khawatir memenag telah menjadi sumber berbagai penyakit bagi manusia. Dan manusia modern telah mengalaminya. Jika miskin mereka akan sedih, jika kaya mereka akan takut bangkrut. Akhirnya hidup mereka selalu dibayang-bayangi hantu takut dan khawatir.

4. Mengenal Alam Nyata

Bagi seorang Muslim, hidup adalah realita. Bukan seperti dalam padangan teori nihilisme yang menilai dunia ini sebagai ilusi, yang seolah hanya bayangan. “Wa lakum fil-`ardhi mustaqarrun wa matâ’un ilâ hîn” (Bagimu di atas bumi ini tempat tinggal dan kesenangan hingga batas tertentu). Yaitu batas waktu dan kualitas.

Jadi, pengenalan manusia terhadap alam kenyataan, juga merupakan bagian dari fitrah. Manusia tak bisa berpura-pura menjadi makhluk lain, malaikat misalnya, lalu cenderung mengingkari alam kenyataan ini. Sebab, pengingaran itu berarti pengingkaran total terhadap fitrahnya sendiri.

Maka Rasulullah pernah sangat marah kepada tiga Sahabatnya yang bertekad hendak meninggalkan keduniaan dalam rangka pengabdian kepada Allah. Beliau mengatakan, bahwa orang yang mencari dunia namun tetap mengabdi kepada Tuhannya, adalah lebih baik ketimbang seseorang yang menghabiskan seluruh masanya hanya untuk ibadah ritual semata. Dan banyak ayat dalam al-Qur`an jelas-jelas mewajibkan mencari dunia sebagaimana mewajibkan mereka untuk mencari akhirat.

Maka, manusia yang tidak mengenal dirinya, ia akan menjadi korban dan tergilas perjalanan kehidupannya sendiri. Karena itu, bagi seorang Muslim, ia harus memandang kehidupan ini dengan pandangan serius. Namun, tidak menjadikannya gagal untuk mengenal hakikat dan tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu ibadah).

Manusia Muslim boleh tenggelam secara fisik ke alam bumi, namun ia harus memiliki orientasi “langit” yang tinggi. Sebab hanya dengan keseimbangan seperti ini, manusia menemukan fitrah kehidupannya yang sebenarnya.

Semoga ‘Idul fitri kita merupakan pesta perayaan kemenangan fitrah. Amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: