Tujuh Spirit Kemenangan

Dr. Amir Faishol Fath

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah [2]: 183) Ayat ini menggambarkan urgensi ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kata kutiba menunjukkan makna bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah wajib. Wajib karena ia kebutuhan fitrah manusia.

Sudah pasti, Allah tak mungkin mensyariatkan sesuatu yang tidak ada gunanya. Sebab Dia Maha Bijak. Semua ibadah yang Allah ajarkan, jika benar-benar dilaksanakan oleh manusia, pasti akan membawa manfaat besar bagi yang melaksanakannya. Dalam berbagai peristiwa sejarah di zaman Rasulullah SAW kita dapati bagaimana banyak kemenangan pasukan kaum muslimin justru terjadi di saat umat sedang berpuasa di bulan Ramadhan.

Ada apa dengan Ramadhan? Inilah alasan mengapa tulisan ini secara khusus akan mengungkap rahasia kemenangan dan hubungannya dengan Ramadhan. Setidaknya ada tujuh spirit kemenangan Ramadhan yang akan diulas ebagai berikut:

1. Kemenangan dari Nafsu

Dalam kata ashiyâm pada ayat di atas terkandung makna alhabsu artinya menahan. Seorang yang berpuasa, pasti sedang menahan nafsu dalam segala dimensinya. Bukan hanya makan dan minum, tapi juga nafsu hubungan seks dan memandang yang haram.

Namun sayangnya, banyak orang hanya menjadikan puasa sekedar ritual yang mati. Mati karena hakikat puasa yang sebenarnya untuk menahan nafsu, ternyata hanya dilakukan di bulan Ramadhan. Begitu Ramadhan berlalu, tak sedikit yang tadinya berpuasa kembali merasa bebas untuk berbuat dosa. Akibatnya, puasa Ramadhan tidak memberi makna apa-apa bagi hidupnya. Ibarat seorang yang makan, begitu makanan ditelan lantas dimuntahkan kembali.

Cara hidup berislam seperti ini tak akan memberi buah yang lama bagi kehidupan rohani. Karena itu, makna puasa yang seharusnya menjadi titik tolak kemenangan atas hawa nafsu, harus dipertahankan sepanjang hayat. Sebab hanya itu yang akan membuat hakikat ritual menjadi seperti air yang disiramkan kepada sebuah pohon, dan pohon itu akan tumbuh subur. Akarnya akan menghunjam ke bumi, dan tangkainya menjulang ke langit. Setiap orang yang berteduh di bawahnya tak hanya akan merasa sejuk, tapi juga akan merasa aman dengan rindangnya.

2. Kemenangan dari Setan

Dalam sebuah hadits disebutkan Rasulullah SAW bersabda, “Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara setan-setan diikat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan, bahwa iman umat Islam di bulan Ramadhan harus meningkat. Tak heran jika kita selalu menemukan suasana yang berbeda di bulan Ramadhan. Orang yang tadinya malas shalat berjamaah di masjid, selama Ramadhan ia rajin ke masjid. Orang yang tadinya tak pernah membaca al-Qur`an, selama Ramadhan selalu membacanya, dan perubahan sikap menuju kebaikan lainnya.

Suasana seperti ini menggambarkan betapa Ramadhan benar-benar membawa keberkahan bagi umat Islam. Terasa bahwa setan benar-benar diikat dan tak mampu bergerak leluasa. Mengapa? Karena Rasulullah bersabda, “Puasa adalah penangkal dari dosa dan api neraka.” Lalu Nabi melanjutkan, “Maka ketika kalian berpuasa hendaklah jangan berkata kotor dan tidak mengumpat. Bila ada orang mencacimu, katakan kepadanya, “Maaf, aku sedang berpuasa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Begitu nafsu terkendali, setan tak punya jaringan untuk bergerak. Begitu jaringanya menjadi sempit, amal-amal shalih akan meningkat di mana-mana. Begitu amal shalih meningkat, otomatis iman akan naik.

Sayangnya pemandangan ini berlangsung hanya sekejap selama bulan Ramadhan saja. Setelah itu, gelora nafsu dan dosa-dosa kembali dilakukan tanpa merasa takut sedikitpun. Jika memang demikian, benarkah kemenangan atas setan selama Ramadhan adalah kemenangan sejati? Sampai kapan umat ini akan terus berpura-pura kepada Allah, menjadi hanya seorang muslim yang baik di bulan Ramadhan saja?

3. Pahala Dilipatgandakan

Rasulullah bersabda, ”Setiap amal anak Adam selama Ramadhan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa. Allah berfirman, “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberi pahala untuknya.” (HR. Muslim) Maksudnya, pahala puasa bukan hanya dilipatgandakan, tapi melainkan lebih dari itu, Allah berjanji akan memberi pahala tanpa batas.

Bayangkan berapa pahala yang akan didapat seseorang sepanjang hari berpuasa, bersedekah, menegakkan amal-amal wajib lalu dilanjutkan dengan amal-amal sunah. Di mana semua itu dilipatgandakan tujuh ratus kali lipat.

Bagaimana jika seorang muslim membaca al-Qur`an lebih dari satu juz dalam sehari? Terlebih Rasulullah menerangkan bahwa pahala membaca al-Qur`an hitungannya perhuruf. Setiap huruf satu kebaikan, dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat.

Itulah rahasia mengapa para ulama terdahulu berlomba mengkhatamkan al-Qur`an tanpa batas. Dalam Manaqib Imam Syafi’i disebutkan, ia selalu 60 kali khatam al-Qur`an selama Ramadhan. Kesungguhan mereka dalam mengkhatamkan al-Qur`an menjadi spirit yang harus kita ambil. Bahwa Allah akan menilai amal shalih kita dari usaha maksimal yang kita lakukan.

4. Dosa-dosa Diampuni

Minimal ada tiga ibadah dalam Ramadhan yang secara tegas Rasulullah kaitkan dengan ampunan dosa-dosa yang telah lalu. Yaitu ibadah puasa, ibadah shalat malam (tarawih), dan ibadah shalat malam Lailatul Qadr (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, banyak orang Islam hanya mengambil puasanya saja. Sementara ibadah-ibadah lain yang tak kalah pentingnya dengan puasa diabaikan. Akibatnya tujuan Ramadhan yang sebenarnya merupakan bulan ampunan dosa, tidak tercapai secara maksimal.

Banyak orang beralasan sibuk mencari nafkah dan lain sebagainya, sehingga tak sempat memaksimalkan semua ibadah itu. Perhatikan teladan Rasulullah, sekalipun sehari-hari beliau sibuk berdakwah, pada bulan Ramadhan beliau masih menambah lagi amal-amal ibadah yang melebihi hari-hari biasanya.

5. Doa-Doa Dikabulkan

Seorang yang sedang berpuasa doanya mustajab. Sebab ia sedang dalam kondisi menahan nafsu. Dan setan-setan tidak mendekati. Karenanya, ia menjadi lebih dekat kepada Allah, yang membuat doanya akan mudah diterima.

Karena itu Nabi SAW menganjurkan agar orang-orang yang sedang berpuasa banyak-banyak berdoa. Para ulama mengatakan: disunahkan bagi orang yang sedang berpuasa selalu mengucapkan dzikir, memanjatkan doa sepanjang hari. Utamanya berdzikir dan berdoa saat menjelang berbuka puasa.

“Orang yang berpuasa, doanya tidak ditolak, terutama menjelang berbuka.” (HR. Ibnu Majah) Ibn Umar RA meriwayatkan, bahwa menjelang berbuka puasa Rasulullah selalu berdoa, “Dahaga telah pergi, kerongkongan telah basah. Semoga Allah memberikan pahala.” Dalam sabda lain disebutkan, “Tiga orang yang doanya tidak pernah ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka, orang yang dizhalimi.” (HR. Tirmidzi)

6. Meraih Lailatul Qadr

Dalam surah al-Qadr Allah menerangkan keagungan malam Lailatul Qadr sebagai malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat, dan malam itu penuh kesejahteraan. Pada malam Lailatul Qadr ini Allah pernah menurunkan al-Qur`an.

Setiap malam Lailatul Qadr, Allah memberi kesempatan hamba-hamba-Nya untuk menutupi berbagai kekurangan masa lalunya dengan beribadah menegakkan shalat, berdzikir dan membaca al-Qur`an. Pahalanya juga khusus dan luar biasa. Tidak bisa dibandingkan dengan pahala beribadah selama 1000 bulan yang berarti 84 tahun tiga bulan.

Mari renungkan. Betapa angka tersebut menggambarkan usia terpanjang rata-rata manusia. Artinya, beribadah pada malam Lailatul Qadr lebih hebat pahalanya dibanding dengan pahala ibadah seumur hidup.

Tapi, jangan lantas merasa cukup dengan ibadah pada malam Lailatul Qadr, dan setelah itu tidak beribadah lagi sepanjang hayat? Kita justru secara normal harus menyadari bahwa masih banyak ibadah kita yang kurang maksimal, atau bahkan sangat kurang. Maka perlu adanya back up pahala, untuk menutupi kekurangan-kekurangan itu.

Selama hidup, kita juga harus banyak beribadah kepada Allah untuk menutupi nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan tiada putus. Tapi karena kesibukan maupun kelemahan iman kita, maka banyak kewajiban ibadah itu tidak bisa kita penuhi. Dengan Maha Pengasihnya, Allah memberi kita peluang agar bisa mengimbangi nikmat-nikmat tersebut. Karenanya dibukalah malam Lailatul Qadr.

7. Kejar Level Taqwa

Ayat tentang puasa di atas, ditutup dengan kalimat la’allakum tattaqûn (agar kamu bertakwa). Artinya, tujuan utama puasa Ramadhan adalah untuk membangun kesadaran takwa dalam pribadi seorang muslim.

Takwa, seperti dikatakan Ubai ibn Ka’ab RA kepada Umar ibn Khaththab, bahwa orang yang bertakwa itu seperti orang berjalan di tempat yang banyak durinya. Kanan kiri bawah atas ada duri. Apa yang akan ia lakukan? Tentu ia akan sangat berhati-hati, jangan sampai duri menggores tubuhnya.

Maka, jika Anda dapat berhati-hati dari pandangan yang haram, harta yang haram, atau dosa-dosa kecil apalagi besar seperti Anda berhati-hati dari duri, itulah takwa. Berarti, takwa merupakan totalitas kehati-hatian seorang hamba dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah. Jangan sampai sedikitpun dari yang ia lakukan dimurkai Allah.

Dengan berpuasa, seseorang telah mengendalikan nafsunya. Dan hanya dengan mengendalikan nafsu, seseorang secara bertahap akan naik ke level takwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: