Derita Anak Palestina

Akibat perang, anak-anak Palestina menderita tekanan psikologis dan trauma. Anak-anak di Gaza kini akrab dengan bahasa-bahasa yang merefleksikan pengalaman mengerikan mereka.

—–

Siapa sangka, huruf A yang biasa dikenalkan untuk kata “Apple” atau huruf B untuk kata “Ball” kini telah berubah makna di mata anak-anak Palestina. Huruf A menjadi “Apache”, jenis helikopter tempur yang digunakan Israel menyerang Gaza, huruf B menjadi kata “Blood” (darah), huruf C untuk kata Coffin (peti mati), dan huruf D sebagai kata “Destruction” (kehancuran).

Mengerikan. Menurut cerita Amal Yunis, seorang guru di Gaza, ketika ia menempelkan gambar apel (Apple), bunga (Flower) dan kelinci (Rabbits) dengan warna-warna mencolok untuk membuat anak-anak senang melihatnya, malah anak-anak itu mengubah maknanya. Siswa-siswi kecil yang tak berdosa itu menyandingkannya dengan kata-kata mengerikan. Seperti “Fear” (takut), “Flee” (mengungsi) dan “Fire” (api, kebakaran).

Maklumlah, ledakan bom, deru pesawat tempur, hingga bunyi rentetan senjata, selalu menghiasi kehidupan mereka. Jangan heran jika obrolan anak-anak Palestina melulu berkutat seputar senjata, pemboman dan pertempuran. Tapi anak-anak berumur tiga tahunan, seperti anak laki-laki Umi Faras, wanita Palestina, bahkan hingga kini masih sering gemetar dan menjerit ketakutan jika mendengar suara-suara bising di luar rumah. Ia akan menangis dan berteriak, “Ibu, bom, bom!” tutur Umi Faras.

Sementara Ala` al-Shawwa, bocah perempuan Gaza berusia enam tahun, kini tak percaya lagi dengan dongeng-dongeng yang diceritakan ibunya sebelum ia tidur. Ala` selalu berkata kepada ibunya, “Tidak Bu. Anak perempuan berbaju merah itu tidak dimakan srigala. Tapi ia dibunuh orang-orang Israel.”

*Merampas Sifat Anak*

Perilaku anak-anak di Gaza, seperti anak laki-laki Umi Faras atau al-Shawwa, menunjukkan begitu buruknya masa-masa menakutkan dan penuh tekanan mereka alami selama berminggu-minggu akibat serangan brutal Israel. Trauma akibat perang ini telah merampas sifat anak-anak mereka.

“Mereka lupa apa itu damai, gembira dan lucu. Mereka hanya ingat tentang perang, darah dan kematian,” ungkap Fadl Abu Hayen, Direktur Center for Social Rehabilitation and Crisis Management.

Anak-anak di Gaza sekarang, telah kehilangan masa kanak-kanak, yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan keriangan dan kehangatan. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Queen, Kanada menyebutkan, pola kekerasan yang dialami anak-anak Palestina mengakibatkan dampak psikologis yang sangat serius dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya.

Serangan keji pasukan Zionis Israel selama 22 hari ke Jalur Gaza, menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak Gaza yang mungkin akan terbawa sepanjang hayat. Mereka bukan hanya mendengar deru pesawat tempur dan ledakan bom yang menakutkan, tapi juga menyaksikan bagaimana rumah mereka hancur, ayah, ibu dan saudara-saudara mereka meninggal menyedihkan.

Mengobati luka psikologis anak-anak Gaza adalah tugas berat, selain tugas membangun kembali fisik wilayah Gaza. “Anak-anak banyak yang kesulitan untuk kembali melakukan aktivitas rutinnya,” kata Dr. Rawya al-Burno, konsultan psikiatri di Gaza.

Menurutnya, kerusakan akibat serangan Israel di Gaza tak terhitung besar materinya, apalagi kerusakan psikologi yang dialami anak-anak. Butuh waktu sangat panjang untuk memulihkannya. Anak-anak di Gaza, imbuh Dr. Rawya, mengalami trauma psikologis hebat. Mereka kehilangan rasa aman, tak bisa tidur, fokus, kehilangan nafsu makan, dan tidak mau lepas dari jangkauan orangtua mereka.

Tiga minggu pertama tahun baru, anak-anak Gaza tak bisa lelap tidur akibat bunyi ledakan-ledakan. Sekarang, sulit bagi mereka untuk kembali menjalani kehidupan normal. “Banyak anak menunjukan perilaku “berlebihan”, seperti suka mengompol,” papar Dr. Rawya.

Untuk mengikis trauma psikologis ini, sekolah-sekolah UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East), badan urusan pengungsi Palestina, membuat program untuk mengurangi sedikit demi sedikit rasa takut yang menghinggapi anak-anak Palestina. Salah satu kegiatannya, meminta para siswa menulis surat untuk semua anak-anak di dunia.

Salah seorang anak Palestina menulis dalam suratnya, “Nama saya Aseel. Saya berumur delapan tahun. Saya punya hak untuk hidup, belajar dan bermain. Tapi orang-orang Israel merampas itu semua dari saya.”

Aseel mengakui, menulis surat bisa membantunya meringankan perasaan. Ia tulis surat itu untuk anak seusianya yang tak mengalami perang, seperti yang menimpanya di Gaza. Dengan kepolosan anak-anaknya Aseel bertanya, “Mengapa anak-anak lain bisa menikmati hidup, sedangkan kami tidak?”

Selain menulis surat, guru-guru di sekolah juga mengajak siswa-siswanya untuk menggambar. Cara ini diharap menjadi media mereka untuk mengungkapkan pengalaman dan perasaan batin. Aktivitas lainnya adalah membuat forum diskusi dan berbagi pengalaman selama perang dengan teman-teman sekelas. Serta membuat drama kecil agar anak bebas menunjukkan perasaan dan situasi yang pernah membuat mereka ketakutan.

Menurut Dr. Rawya, membuat drama psikologis menjadi satu satu cara tercepat untuk mengatasi tingkat stress pascatrauma yang dialami anak-anak Palestina. Karena, dalam drama itu mereka bisa memainkan kembali situasi perang di ruang yang aman. Dan mereka bisa cepat menyingkirkan, bahkan menaklukan rasa takut mereka terhadap peristiwa yang baru saja mereka alami.

*Hidup dalam Ketakutan*

Samir Zaqut, psikolog Gaza Community Mental Health Programme, lembaga non-pemerintah yang beroperasi di Gaza menyatakan, serbuan mutakhir Israel ke Gaza akan terus jadi bayang-bayang mengerikan dan tak terlupakan bagi anak-anak Palestina. Serangan bom dan peluru kendali rentan menyebabkan tekanan pascatraumatis pada diri mereka. Seperti depresi, insomnia, bahkan kemungkinan besar skizofrenia.

Lembaga lain yang berkiprah di Gaza di bawah bendera Save the Children menguatkan perkiraan itu. Dalam pengamatan lembaga itu, 40% anak-anak di Gaza kini mengidap insomnia. Angka itu masih di bawah pengamatan al-Awdah Hospital Observational Study, yang memperkirakan 55% anak usia 5-11 tahun mengidap penyakit susah tidur itu.

Kajian kilat Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang khusus anak-anak, Unicef, menunjukkan fakta lebih mencengangkan. Dilaporkan, Gaza sekarang menjadi tempat paling berbahaya bagi anak-anak. Sebanyak 53% anak-anak di Gaza tak lagi percaya bahwa orangtua mereka bisa melindungi mereka dari kekerasan. Malah 93% merasa tidak aman di manapun mereka berada.

Perang telah membuat anak-anak Palestina hidup dalam ketakutan. Seakan bom berikutnya akan mengenai rumah mereka. Banyak di antara mereka kini enggan makan, kehilangan nafsu bermain, jarang bicara, dan memeluk erat orangtua mereka setiap saat. “Mereka dibayangi ketakutan. Terutama malam hari karena gelap tanpa penerangan listrik,” ujar Sajy Elmaghinni, petugas Unicef di Gaza, seperti dikutip harian Hurriyet. (Ainurrahman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: