Istiqamah Mendidik Anak

Yessi HM. Basyaruddin Lc.

Redaktur Majalah Al-Ummah

Sambil menimang-nimang boneka, seorang anak berbicara pada temannya, ”Kita pura-pura ada di Mal, ya.” Dengan muka cemberut, anak lainnya menjawab, ”Jangan. Kita pura-pura ada di pengajian aja!” Kedua anak yang masih polos itu terus beradu argumen demi memenangkan keinginan masing-masing, sementara saya tertawa melihat polah mereka. ”Wah, ini baru perbedaan budaya,” gumam saya dalam hati.

Berbicara tentang anak, berarti kita akan berbicara tentang pola dan budaya. Karena, setiap perilaku anak, pasti tak jauh dari pola hidup orangtua dan lingkungannya. Maka tak aneh jika lingkungan terdekat anak menciptakan suatu kebiasaan, maka si anak akan merasa nyaman dan ketagihan dengan dunia itu.

Karenanya, peran orangtua dan lingkungan terdekat anak, dinilai sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan. Tentu, kebaikan menurut ajaran Allah SWT, dan bukan sekedar kebaikan berdasarkan penilaian baik-buruk orang-orang sekitar.

Coba kita perhatikan anak pertama pada cerita di atas. Ia sangat nyaman dengan lingkungan mal yang diciptakan orangtuanya. Tapi anak kedua, ia begitu asing dengan dunia mal, dan lebih tertarik dengan dunia pengajian yang diperkenalkan orangtuanya.

Jelas, keduanya merekam dengan baik setiap gerakan, perkataan dan perilaku orangtua mereka. Sehingga dapat disimpulkan, anak adalah peniru paling handal. Sebuah pepatah bijak mengatakan, ”Barangsiapa membiasakan sesuatu sejak kecil, maka ia akan terbiasa dengannya hingga dewasa.

Miris rasanya melihat perkembangan mental-sosial anak-anak zaman sekarang. Selain kehilangan jati diri sebagai bangsa Timur dalam hal kegilaan gaya busana, makanan, dan pola hidup ala Barat, pola hidup masyarakat sekitar juga memaksa mereka untuk dewasa sebelum waktunya.

Dapat Anda lihat dengan mudah tren remaja ABG masa kini  yang suka berbusana, mengenakan aksesoris hingga make up, persis seperti orang dewasa. Belum lagi aneka fasilitas, seperti kendaraan, handphone, dan materi-materi berlebih lainnya, yang sebetulnya belum mereka perlukan.

Tak hanya itu, kita juga mudah melihat kebiasaan mereka merokok, nongkrong dan pacaran di tempat-tempat terbuka. Sayangnya, hampir semua orang menutup mata dan bersikap tak mau ambil pusing dengan perilaku mereka itu. Seolah, apa yang mereka lakukan sudah lumrah dan dimaafkan di negeri ini. Konsekwensinya, jumlah kehamilan di luar nikah dan aborsi yang dilakukan para remaja terus tajam meningkat.

Tergerusnya moral mereka tentu tidak tercipta begitu saja. Orangtua dan lingkungan terdekat, pasti sedikit banyak menyumbang tersebarnya epidemi mematikan ini. Sikap kurang bijaksana orangtua mendudukkan mereka di atas kursi pesakitan.

Berbicara dari hati ke hati kepada mereka, tentu akan lebih mereka hargai dibanding sikap kasar orangtua. Bermusyawarah mencari jalan terbaik, dan mendengar apa yang mereka inginkan, juga tidak kalah penting.

Tapi, tentu kita tak dapat bermimpi, anak-anak akan berubah hanya dengan satu atau dua kali obrolan. Orangtua perlu konsistensi melakukan langkah-langkah pendekatan. Atau dalam bahasa agama dikenal dengan istiqamah. Perintah ini telah Allah titahkan dalam beberapa firman-Nya (Qs. Yûnus [10]: 89, dan Fushshilat [41]: 6).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: