Labeling pada Anak

E. Rachmalia Utami, S.Psi

Therapist, Assessment Psychology di Lembaga Terapi Anak Berkebutuhan Khusus Kasandra Persona.


Suatu pagi, seorang ibu menghardik anaknya, “Soal seperti ini saja kamu tak bisa. Dasar bodoh! Coba lihat temanmu, Budi. Ia pandai dan jadi juara kelas!”

Ucapan tersebut rasanya biasa kita dengar ketika banyak orangtua geram terhadap kesalahan atau kekurangan anaknya, sengaja atau tidak. Ironisnya, ucapan menyudutkan itu justru banyak dilontarkan orangtua tanpa sadar akan dampaknya bagi anak.

Pemberian label atau labeling dengan kata “bodoh”, “dasar anak nakal”, “dasar anak penakut” dan sebagainya, tak disadari rentan meninggalkan luka di hati anak. Efek negatif pada perkembangan psikologis anak pun muncul. Ia menjadi tak bersemangat dan kurang termotivasi. Belum lagi, ingatan buruk pelabelan itu akan terus melekat dalam ingatannya.

Labeling merupakan pemberian nama atau sindiran, negatif atau positif, pada diri seseorang. Tindakan ini sering kita lakukan spontan, tanpa sadar dan sengaja. Jika labeling yang terucap bernuansa positif, seperti “anak pandai”, itu akan indah terdengar dan menyisakan efek positif. Namun, jika label yang diberikan negatif dan kata-kata yang kurang enak didengar, seperti “kamu bodoh, dasar penakut, dasar anak gak tau diuntung,” dan sebagainya, tentunya efek negatifnya tak terhindarkan. Apalagi jika pelabelan diucapkan bersama emosi dan kecewa terhadap anak.

Labeling negatif pada anak sering terjadi, karena orangtua cenderung menaruh harapan dan obsesi terlampau besar kepada si anak. Tapi kenyataannya si anak tak mampu menggapainya. Jika labeling ini sering terjadi pada anak, dampaknya akan menurunkan minat, semangat, motivasi, bahkan akan mempengaruhi rasa percaya diri anak. Biasanya, labeling yang dilontarkan keluarga dekat, seperti ayah, ibu, kakak, atau adik, memiliki pengaruh besar pada anak yang bersangkutan.

Karena, tanpa disadari, dukungan dan tumbuhnya rasa percaya diri anak lebih banyak ia peroleh dari orangtua atau keluarga terdekatnya. Anak yang suka diberi pujian dan dukungan positif dari keluarga terdekatnya, biasanya anak menjadi berpreatsi di lingkungan sosialnya.

Labeling negatif akan terus menyertai dalam pembangunan karakter anak. Dampaknya banyak sekali, di antaranya timbul rasa kurang percaya diri, dan luka hati juga akan terus bersemai di hati si anak. Selain itu, semangat dan motivasi untuk berprestasi anak juga akan menurutn. Parahnya, anak yang dilabelkan negatif, cenderung akan menarik diri dari lingkungan sosial. Labeling negatif pada anak juga akan mendidiknya untuk tidak santun kepada orang lain. Labeling negatif akan lebih berbahaya, jika tidak segera dikikis dan dibiarkan menjadi karakter anak.

Untuk mengikis kebiasan labeling negatif, perlu tekad dan pengetahuan. Juga, kesadaran orangtua kebiasaan mereka itu berdampak sangat negatif pada psikologis anak. Jika itu disadari, orangtua harus mulai belajar untuk memberi label positif kepada anaknya.

Dalam situasi apapun, orangtua harus mampu terbiasa menggunakan bahasa-bahasa positif. Karena dengannya, anak tentu akan merasa lebih dihargai, dan rasa percara diri mereka pun timbul. Di samping itu, anak juga akan terbiasa menggunakan bahasa-bahasa yang positif dan santun kepada orangtuanya, akan lebih menghormati dan menghargai orangtua maupun masyarakat.

Mengubah Dampak

Dari sekian banyak dampak buruk yang akibat lebeling negatif, sudah saatnya para orangtua memicu langkah untuk menguranginya. Bahkan berupaya keras menggantinya menjadi labeling positif.

Apa yang harus dilakukan? Pertama, harus ada kesadaran. Orangtua perlu sadar dan tahu kemampuan anak yang sebenarnya, agar dapat mengurangi obsesi yang mereka inginkan dari anaknya. Menggapai kesadaran ini bukan melalui proses yang instan. Tapi harus melwati proses panjang mendidik dan mengasuh anak, hingga mereka benar-benar mampu mandiri.

Ketika orangtua sadar dan mengetahui kemampuan anak yang sesungguhnya, maka saat si anak tak mampu menyesuaikan diri dengan harapan dan obsesi orangtuanya, tentu orangtua tak akan kecewa. Menghadapi kondisi keterpurukan atau kekurangan anak, orangtua yang bijak akan mulai melakukan kebiasaan labeling postif. Mereka akan menyemangati, “Ya sudah. Nanti belajar lebih giat lagi,” “Nanti jangan diulangi lagi, ya,” dan sebagainya. Dan berbagai bahasa-bahasa positif yang terdengar indah dan tidak melukai hati anak, namun mendorongnya memperbaiki diri.

Kedua, selalu memberi penghargaan kepada anak, baik dalam bentuk materi maupun sikap dan ucapan positif terhadap anak. Sebagai orangtua, akan menjadi keuntungan dan kebaikan jika kita mampu memberikannya kepada anak. Karena, penghargaan yang kita berikan tak langsung mengajarkan anak agar bisa dan mau memberi penghargaan. Baik dalam bentuk prestasi belajar, sikap rajin, kemandirian, dan sebagainya. Akan lebih indah jika mereka dewasa kelak, mereka mampu memberi penghargaan berupa materi.

Karena itu, mulailah untuk senantiasa memberi suatu penghargaan terhadap keberhasilan, bahkan kegagalan anak sekalipun. Yang paling ringan adalah membiasakan untuk mengucapkan, “Thank you, sayang,” “Pertahankan prestasimu, sayang,” “Mama bangga dengan keberhasilanmu,” “Terimakasih kamu telah menjadi juara,” dan sebagainya.

Jika orangtua mampu bersikap demikian, tentu anak akan bangga, memiliki percaya diri dan semangat juang untuk berprestasi. Anak-anak akan tumbuh mandiri, terampil dan cerdas. Dengan label positif, secara psikologis, anak akan menjadi lebih tenang dan percaya diri, serta terbiasa bersikap positif kepada orang lain. Secara emosional, anak dididik untuk bisa mengendalikan diri dan menghargai kemampuan orang lain.

Mari mulai memberi label positif terhadap kesuksesan maupun kegagalan anak. Jika ia memang sedang gagal, maka dengan senang hati iapun akan semangat meraih kesuksesan kembali di lain kesempatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Labeling pada Anak”

RSS Feed for QALAM MAG Comments RSS Feed

Good! Saya setuju.
Apa yg baik yg ditanamkan kepada anak, hal yg baik itu pula yg terpancar dari anak kita.


Where's The Comment Form?

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: