Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

Muhtadi Abdul Mun’im M.A.

Mahasiswa S3 ICRS Universitas Gajah Mada

Ketika seorang anak melakukan kesalahan, tak jarang orangtua memberinya hukuman fisik untuk tujuan pembelajaran. Dengan menerapkan hukuman-hukuman fisik secara ketat, perilaku anak diharapkan dapat lebih terkendali, dan anak menjadi lebih patuh kepada orangtua. Hukuman fisik dinilai sebagai suatu sarana agar anak dapat merenung dan tidak lagi melakukan kesalahan-kesalahan. Tapi, benarkah hukuman fisik itu efektif bagi pendidikan anak?

Dalam menjalani kehidupan bersama anak, orangtua kerapkali dihadapkan pada situasi untuk bersikap atau merespon secara tepat terhadap kesalahan-kesalahan anak.

Respon orangtua terhadap kesalahan anak, secara sadar atau tidak, sering menggunakan kekerasan fisik maupun non-fisik sebagai bentuk hukuman. Kekerasan fisik dilakukan dengan memberi rasa sakit pada tubuh anak agar ia jera. Kekerasan non-fisik dilakukan dengan cara memberi anak rasa takut dan ketidak-nyamanan pada anak.

Ketika seorang anak kedapatan memukuli adiknya, ada orangtua yang merasa perlu untuk memberi pukulan kepada si anak sebagai hukuman. Tujuannya, ingin memberi pelajaran bahwa memukul orang lain itu tidak boleh, karena bisa menyakitinya. Atau ketika seorang anak bersikap kurang ajar atau kasar kepada orangtua, pukulan kadang juga digunakan. Pesannya, agar anak tak lagi mengulangi perbuatannya.

Ancaman dan kekerasan verbal juga kerap digunakan sebagai cara mendidik anak, dan digunakan sebagai sarana efektif bagi orangtua untuk meraih kewibawaan dan kekuatan dari rasa takut anak. Banyak orangtua beranggapan, bahwa ketakutan anak pada hukuman fisik, akan berdampak pada sikap anak hingga mudah dikendalikan. Selain itu, agar anak juga tunduk kepada keinginan orangtua.

Sayangnya, sadar atau tidak, para orangtua cenderung lebih banyak menuntut anak untuk melaksanakan sikap maupun keterampilan-keterampilan yang sebenarnya tidak mereka miliki. Anak lebih banyak diminta melakukan apa yang orangtua ‘katakan’, bukan apa yang mereka ‘lakukan’.

Misalnya, untuk menghentikan teriakan anak yang mengganggu, orangtua lantas membentak anaknya untuk diam. Atau, seorang ibu yang tangkas merampas mainan yang sedang diperebutkan kedua anaknya sambil berkata, “Kan ibu sudah bilang, jangan berebut mainan. Sekarang, mainan ini Ibu ambil!” Atau, seorang bapak yang memukul anaknya yang tidak sopan karena memukuli ibunya.

Dengan contoh kejadian-kejadian ironis di atas, manakah yang akan mudah direkam dan dicontoh oleh anak, apakah perkataan atau perilaku (sikap) orangtuanya? Apakah anak akan berhenti melakukan kesalahan-kesalahan dengan kesadaran, ataukah karena alasan ketakutan? Adakah manfaat yang diperoleh ketika orangtua menghukum anaknya dengan cara kekerasan?

Dalam sebuah penelitian di Skotlandia (Republika Online, 22/10/2008) diungkap, delapan dari sepuluh orangtua mengaku tidak menemukan manfaat dari penggunaan kekerasan dalam mendidik anak. Hanya sedikit orangtua yang menganggapnya memiliki dampak positif.

Dengan hukuman keras, mungkin anak dapat diajarkan untuk disiplin dan bisa belajar dari kesalahan. Tapi di sisi lain, anak yang diperlakukan penuh kekerasan, rentan menghadapi trauma, dendam, bahkan kelak suka melakukan kekerasan pula.

Kontra-Produktif

Secara psikologis, kekerasan yang digunakan dalam mendidik anak, akan menjadi kontra-produktif, karena ada beberapa hal negatif yang timbul, sebagai reaksi dari kekerasan mereka dapatkan:

Pertama, kebencian. Anak akan menjadi tidak mudah berkomunikasi dengan orangtua, dan berusaha untuk selalu menghindar. Kedua, dendam. Secara negatid, dendam akan memicu anak untuk melakukan kekerasan yang sama kepada orangtua bila memiliki kesempatan, atau ia akan melampiaskannya kepada orang lain.

Ketiga, pemberontakan. Mendidik anak dengan kekerasan, bukan membuatnya akan menuruti keinginan orangtua, tapi anak biasanya akan menentang dan melakukan hal yang berlawanan dari kehendak orangtuanya. Bahkan, sifat-sifat kemunafikan bisa muncul dalam diri anak, karena mungkin ia tak berani melakukan kesalahan di hadapan orangtua, tapi di belakang mereka, si anak akan berbuat semaunya. Keempat, trauma. Si anak akan menjadi pendiam dan bersikap defensif akibat kekerasan yang dideritanya.

Secara biologis, sifat dari kekerasan dan hukuman, akan ditanggapi anak sebagai suatu ancaman. Otaknya akan beroperasi secara defensif jika berada dalam tekanan dan ancaman. Pada tahap ini, peningkatan aliran darah tubuhnya akan menuju ke bagian otak, yang menjadi pusat mempertahankan dirinya. Sedangkan pada bagian otak yang menjadi pusat pemikiran, terjadi penurunan aliran darah.

Keadaan semacam ini, membuat otak berpusat pada modus mempertahankan diri, sehingga kurang mampu untuk membuat perencanaan, mendeteksi pola, menerima informasi, kreatif, mengklasifikasi data, dan melakukan pemecahan masalah (Becky A. Bailey, 2004, h. 252).

Kekerasan v.s Konsekuensi

Mengingat dampak negatif penggunaan kekerasan dalam mendidik anak, lalu adakah cara yang lebih efektif bagi anak untuk belajar dari kesalahan, kekeliruan, keteledoran, dan kekhilafan yang dilakukannya?

Penulis Kids Are Worth It, Barbara Coloroso menuturkan bahwa anak bisa saja belajar dari kesalahan dan mengubah perilakunya tanpa kekerasan, bahkan tanpa hukuman. Semakin sebuah hukuman ditingkatkan, justru tak akan mengajarkan anak sesuatu yang sifatnya membangun.

Menurut Barbara, disiplin yang bermakna memberikan pengertian dalam hidup, merupakan kata kunci bagi anak untuk belajar dari kesalahannya. Sebab, disiplin memiliki empat kelebihan dibandingkan dengan hukuman. Yaitu dapat menunjukkan anak tentang perbuatan salah yang dilakukannya, membuatnya memahami kesalahan, memberikannya jalan untuk penyelesaian, dan menjaga harga diri anak. Berbeda dengan hukuman yang cenderung akan menjatuhkan harga diri anak (Republika Online (24/12/2008).

Sementara Becky melihat, anak dapat belajar dari kesalahannya dengan cara bukan diberi hukuman, tapi dengan ‘konsekuensi’. Yaitu ‘hukuman’ yang didasarkan pada penilaian orangtua tentang mana yang benar dan salah, baik dan buruk. “Konsekuensi lebih didasarkan pada kesadaran diri yang diperoleh melalui perenungan terhadap pengalaman hidup anak,” tulis Becky.

Perbedaan antara hukuman dan konsekuensi, terletak pada pengendalian atas diri anak. Pada hukuman, kendali anak sepenuhnya berada di bawah kontrol orangtua, sedangkan pada konsekuensi, anak diberikan wewenang terhadap diri dan bertanggungjawab atas pilihannya.

Secara konseptual, konsekuensi dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, konsekuensi alamiah. Yaitu terjadinya sesuatu dengan sendirinya, sesuai dengan hukum sebab-akibat. Contoh, konsekuensi alamiah bagi seorang anak yang berlari di lantai licin adalah terjatuh. Atau, anak yang suka mengganggu teman-temannya akan menerima konsekuensi alamiah dijauhi teman-temannya.

Kedua, konsekuensi normatif, yang dibuat berdasarkan campur tangan orangtua tentang nilai-nilai yang hendak diajarkan kepada anak. Pada bagian ini, orangtua menetapkan norma, nilai, dan aturan yang hendak diajarkan kepada anak. Ketetapan norma tersebut dilakukan dengan cara memberi anak pilihan-pilihan, sehingga ia memiliki informasi itu sebelumnya. Dengan begitu, anak akan memahami tentang konsekuensi dari pilihannya, belajar dari kesalahannya, belajar memperbaiki, dan belajar bertanggungjawab.

Dengan konsekuensi, anak diberi wewenang menentukan pilihan. Orangtua berfungsi sebagai pembimbing, agar anak menentukan pilihan yang baik dan benar. Jika anak, secara sengaja atau tidak, melakukan pilihan yang salah, konsekuensi-konsekuensi yang telah diberitahukan sebelumnya harus diterapkan dengan tegas.

Dalam kasus orangtua meminta agar anaknya meletakkan krayon pada kotaknya setelah dipakai, misalnya, tapi kemudian si anak tidak memperhatikan, maka suatu ketika saat si anak kebingungan mencari krayonnya yang tidak ada di kotak, ada beberapa sikap yang mungkin dilakukan orangtua: Pertama, marah dan memberi hukuman. Orangtua akan memarahi anaknya, dan membiarkannya mencari sendiri krayon yang hilang itu sebagai hukuman. Sikap semacam ini tidak menyelesaikan masalah anak. Sebab membiarkan anak sendirian mencari krayon, akan membuatnya frustasi dan merasa terasing.

Kedua, permisif dan toleran, atau memanjakan anak. Orangtua akan mencarikan atau meminta orang lain untuk mencarikan krayon yang hilang. Bila tidak ketemu, orangtua langsung memberi solusi akan membelikannya lagi. Sikap ini akan menghalangi anak untuk belajar dari kesalahannya, sehingga anak tak akan pernah tahu tentang keteledorannya.

Ketiga, empati dan membantu mencarikan solusi. Dalam situasi seperti ini, orangtua akan memahami perasaan anak yang sedang kebingungan, lalu bersama anak ia akan mencari krayon tersebut. Dengan cara ini, anak akan mengalami pembelajaran tentang kelalaian yang telah dilakukan akibat pilihannya sendiri. Dari pengalaman itu, diharapkan anak tak lagi teledor, dan mampu menjadi pribadi yang bertanggungjawab.

Prinsip dari ‘konsekuensi’ adalah mengajarkan anak untuk bersikap disiplin. Anak diberi kesempatan untuk memilih, meski itu pilihan yang salah, dan mau memperbaiki kesalahannya dengan penuh tanggungjawab. Anak-anak sungguh dapat belajar memeriksa perilaku mereka sendiri, menyadari akan kebutuhan, prioritas diri, dan masalah mereka. Yang paling penting, anak akan memiliki kemampuan menyelesaikan konflik (masalah) mereka sendiri dengan cara yang lebih baik.

Bahan Bacaan:

Becky A. Bailey, Easy to Love, Difficult to Discipline, Jakarta: Gramedia, 2004

http://www.republikaonline.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: