Kualitas Tidur dan Mimpi Pengaruhi Prestasi

H. Fuad Nashori

Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia, Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

Tidur merupakan arena bagi manusia untuk memperoleh ketentraman hidup. Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu tidur sebagai penentraman dari pada-Nya.” (Qs. al-Anfâl [8]: 11). “Tidur” (al-nu’as), menurut Adnan Syarif (2002) adalah tidur yang terlelap.

Tidur yang lelap akan memberi efek penting dalam kehidupan manusia. Kalau itu tercapai, maka tidurnya berpotensi untuk berkualitas. Kualitas tidur adalah suatu keadaan di mana tidur yang dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran saat terbangun.

TABEL 1

Mimpi berkualitas adalah mimpi yang banyak menggambarkan hal-hal benar dan berkaitan dengan masa lalu dan masa depan, juga menghasilkan optimisme serta kepastian bagi individu yang mengalaminya. Salah satu aspek penting pada mimpi berkualitas adalah mimpi yang mengandung kebenaran (ar-ru`ya ash-shâdiqah, ar-ru`ya ash-shâlihah, penulis menyebutnya mimpi nubuwat).

Nabi bersabda, “Mimpi baik datangnya dari Allah dan mimpi buruk (polusi) datangnya dari setan.” (HR. al-Bukhari dari Abdullah ibn Qatadah). Hadits lain mengungkapkan, “Mimpi yang benar adalah salah satu dari empat puluh enam cabang kenabian.” (HR. al-Bukhari dari Anas ibn Malik)

TABEL 2

Pengaruhi Prestasi Belajar

Belajar adalah usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku, yang juga merupakan pengalaman berinteraksi dengan lingkungan (Rumini dkk, 1995). Sedangkan prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil dari aktivitas belajar berdasarkan pengukuran dan penilaian, berupa angka atau nilai maupun indeks prestasi.

Tidur yang berkualitas akan menjadikan kondisi fisik dan psikis seseorang terasa segar dan nyaman ketika mereka terbangun. Al-Quran menggambarkannya sebagai penentraman (Qs. al-Anfâl [8]: 11). Hal senada dikatakan oleh James B. Maas (2002) bahwa proses tidur, jika diberi waktu yang cukup dan lingkungan yang tepat, menghasilkan tenaga yang luar biasa.

Tidur juga memulihkan, meremajakan serta memberi energi pada tubuh dan otak. Sebab, sepertiga (8 jam) atau seperempat (6 jam) hidup manusia dalam sehari, jika dilewati dengan tidur, akan berpengaruh besar terhadap dua pertiga lainnya, dalam hal kewaspadaan, energi, suasana hati, berat badan, persepsi, daya ingat, daya pikir, kecekatan reaksi, produktivitas, kinerja, ketrampilan komunikasi, kreativitas, keselamatan, dan kesehatan prima.

Bagaimana tidur bisa menghasilkan efek-efek seperti itu? Secara garis besar, bila seseorang tidur secara nyenyak dan dengan waktu yang cukup, maka ada dua proses fisiologis yang terjadi.

Pertama, Pemulihan dan Pertumbuhan. Yang pasti, pada saat tidur pasokan darah ke otak meningkat. Meningkatnya pasokan darah ini berkaitan dengan posisi tubuh seseorang, Saat tidur, tubuh seseorang dalam posisi horisontal, maka peredaran darah akan berlangsung lebih lancar. Efeknya, pemulihan dalam tubuh akan berlangsung lebih lancar.

Selain itu, sekresi hormon pertumbuhan oleh kelenjar pituitari (kelenjar yang mengatur pertumbuhan, metabolisme, pematangan) akan mencapai puncaknya saat tidur delta. Tidur delta adalah tahapan tidur paling terlelap atau nyenyak. Hormon pertumbuhan merangsang pertumbuhan dan perkembangan serta memperbaiki jaringan tubuh. Terutama bagi anak dan remaja, tidur nyenyak yang tidak terganggu sangat penting untuk membantu pertumbuhan dan pematangan mereka.

Kedua, Peningkatan kekebalan terhadap infeksi. Ketika tidur nyenyak, senyawa protein-karbohidrat pengatur sistem kekebalan meningkat. Hal ini berperan besar dalam meningkatkan kekebalan terhadap infeksi. Dikatakan oleh Michael Irwin (Maas, 2002), bahwa kekurangan tidur, meskipun sedikit, menurunkan respons kekebalan tubuh.

Fakta juga menunjukkan bahwa kematian sel tumor meningkat pada saat orang tidur. Sebaliknya, jika kekurangan tidur, ketahanan terhadap infeksi menurun drastis. Orang yang sakit membutuhkan istirahat yang cukup untuk meningkatkan kekebalan. Orang yang sehat pun butuh tidur cukup dan nyenyak agar kekebalannya optimal.

Dalam keadaan daya ingat, daya pikir, persepsi, dan kesehatan yang prima, mahasiswa siap berkonsentrasi saat kuliah berlangsung. Konsentrasi memegang berperan penting bagi seorang mahasiswa untuk merekam, mengingat dan selanjutnya mengembangkan pelajaran yang diperoleh di perguruan tinggi. Kemampuan merekam, mengingat dan mengembangkan materi pelajaran akan memungkinkan mahasiswa memperoleh prestasi yang optimal.

Sebaliknya, dengan kualitas tidur yang jelek, yang ditandai kondisi fisik dan psikis tidak nyaman saat tidur, akan menghasilkan daya ingat, daya pikir serta persepsi yang menurun. Biasanya, konsentrasi belajar menjadi tidak optimal dan proses merekam pengetahuan menjadi gagal.

Perlu disampaikan bahwa tidur memiliki beberapa tahapan. Dua tahapan yang dianggap paling penting adalah tahapan tidur delta dan tahapan tidur REM (Rapid Eye Movement).

Yang menarik pada saat tidur REM ada dua kejadian. Pertama, terjadi penyimpanan dan retensi daya ingat. Juga, terjadi pengaktifan neuron yang intensif dan yang menyebar ke atas dari batang otak. Hal ini akan meningkatkan penyimpanan, retensi ingatan serta pengingatan kembali, termasuk juga kategorisasi informasi.

Kedua, organisasi dan reorganisasi ingatan. Berbagai informasi yang telah tertancap dalam ingatan ditata sebagaimana penataan folder dalam komputer. Dalam keadaan tidur, otak mengganti, memodifikasi dan meningkatkan ingatan sesuai kebutuhan.

Berdasarkan konseling dan wawancara yang penulis lakukan terhadap beberapa mahasiswa dengan kualitas tidur jelek, seperti tidur sangat larut (sesudah pukul 24), kesulitan untuk tidur atau sering terbangun, mereka mengaku memiliki prestasi belajar yang rendah. Sebaliknya, ketika ditanyakan pada mahasiswa yang berprestasi tinggi tentang kebiasaan hidup mereka, maka diketahui bahwa mahasiswa yang memiliki prestasi bagus mampu menjalani tidur secara baik, seperti tidur di awal waktu dan bangun lebih awal, waktu tidur cukup.

Di samping itu, mimpi yang berkualitas, yang ditandai oleh mimpi positif serta kemampuan menjaga jarak dan mengambil hikmah dengan mimpi buruk, menjadikan seseorang dapat menyongsong kehidupan yang terjaga secara optimal. Kondisi psikis yang positif, seorang mahasiswa akan dapat mengerahkan konsentrasinya untuk belajar. Dari sanalah akhirnya prestasi yang optimal dapat dicapai.

Salah satu tanda mimpi berkualitas adalah diperolehnya mimpi yang memiliki unsur pengetahuan masa depan. Mimpi yang demikian biasa disebut mimpi nubuwat (Fuad Nashori, 2002). Dengan mimpi nubuwat itulah dalam diri seseorang terbentang pengetahuan.

Pengaruhi Prestasi Puncak

Prestasi puncak adalah prestasi optimal yang dicapai seseorang setelah menekuni bidang tertentu. Prestasi yang dapat kita tunjukkan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori besar, yaitu prestasi jangka pendek (1-5 tahun), jangka menengah (sepanjang hidup kita di dunia) dan jangka panjang (dunia-akhirat).

Tidur berkualitas akan meningkatkan kewaspadaan, energi, suasana hati, berat badan, persepsi, daya ingat, daya pikir, kecekatan reaksi, produktivitas, kinerja, ketrampilan komunikasi, kreativitas, keselamatan dan kesehatan (Maas, 2002). Setiap individu yang hidup dan bekerja dengan mengharapkan hasil optimal, membutuhkan kualitas-kualitas tadi. Dengan kualitas seperti suasana hati, persepsi dan daya ingat yang baik dalam bepekerja akan memberi hasil yang baik pula.

Riset Timothy Roehrs dan Thomas Roth (Michigan, USA) membuktikan bahwa kewaspadaan meningkat secara signifikan jika orang yang biasanya tidur cukup mendapatkan tambahan dua jam lagi.

Sebaliknya, ketika seorang karyawan kurang tidur, maka proses pemulihan dalam tubuhnya tidak akan optimal. Akibatnya, ketika berangkat atau saat di tempat kerja ia bisa memperoleh resiko kecelakaan. Stanley Cohen menemukan fakta bahwa dalam waktu empat hari, setelah orang-orang di negara Barat kehilangan satu jam tidur pasca pergantian musim semi, terjadi peningkatan tujuh persen kematian akibat kecelakaan dibandingkan dengan seminggu sebelumnya dan seminggu setelahnya.

Para ahli psikologi Barat, mempercayai bahwa penemuan-penemuan cemerlang dari para ilmuwan dan sastrawan ternama, dihasilkan oleh otak yang mampu mereorganisasi ingatan, sehingga terbentuk ide baru. Friedrich August Kekule von Stradonitz mengaku bahwa ia menemukan struktur molekuler benzena atau cincin benzena dalam tidurnya (Maas, 2002; Purwanto, 2003). Begitu pun William Shakespeare yang memperoleh ide Novel Hamlet, Macbeth dan Richard III melalui mimpi (Chopra, 2003). Namun, mereka juga tidak percaya bahwa mempelajari (baca: mengetahui) sesuatu yang baru dapat dilakukan dalam mimpi. Benarkah?

Jawabannya, menurut psikologi Islami (Nashori & Mucharam, 2002), salah satu cara manusia memperoleh pengetahuan adalah melalui mimpi. Mimpi bisa pula berisi pengetahuan yang berasal dari Allah SWT. Seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan jasmani, nafsani, dan ruhaninya sebelum tidur, lebih berkemungkinan memperoleh mimpi yang benar.

Dengan mimpi yang mampu menghasilkan ilham, seseorang akan terbentuk untuk menyelesaikan pekerjaan dengan memperoleh ide melalui mimpi. Sebagaimana Ibnu Sina mendapatkan banyak ide untuk penulisan buku-buku besarnya melalui mimpi.

Di Barat, ada yang menghabiskan sekitar 11 jam sehari sepanjang hidupnya untuk tidur, dengan harapan, berbagai ide bisa datang melalui mimpi. Dia seorang ilmuwan yang cemerlang, pemusik handal dan pelukis MONALISA yang terkenal itu, Leonardo da Vinci.

Sekalipun perlu diingat bahwa ilham yang diperoleh seseorang saat tidur tidak selalu berasal dari Allah, namun seperti diungkapkan Nabi, bisa pula datang dari setan. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa seseorang dapat memperoleh petunjuk sesat melalui mimpi. Seorang dukun, misalkan, bisa membunuh 42 wanita setelah memperoleh ide melalui mimpi. Maka, sekalipun dalam mimpi terdapat ide atau ilham, tapi ilham itu bisa menginspirasi perbuatan salah dan destruktif.

Mimpi berkualitas selau minim hal-hal negatif-konstruktif. Kalaupun terjadi, seseorang akan mampu mengambil hikmah dan menjaga jarak dari mimpi itu. Mampu menjaga jarak berarti tidak menceritakannya kepada orang lain, dan menyadari bahwa apa yang dialaminya bukanlah realitas, maka mimpi buruk tidak akan mengganggu aktivitas.

Akan tetapi, mimpi buruk yang berkaitan dengan pelanggan, bisa menjadi petunjuk bahwa ada relasi yang lebih baik dan perlu follow-up. Atau yang berkaitan dengan teman kerja, memberi pelajaran bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Dalam hadis, diungkapkan bahwa seseorang yang banyak berdzikir akan dapat mencapai keunggulan (baca: prestasi puncak). Kalau konteksnya bahasan di atas, maka dapat disebutkan bahwa untuk memperoleh prestasi puncak, seseorang bisa mengupayakan mimpi berkualitas yang dapat diperoleh melalui aktivitas yang melibatkan dzikir kepada Allah. Urutannya sebagai berikut: dzikir – membuat hati tenang – mimpi berkualitas – kinerja puncak.

<p style="text-align: justify;%

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: