Gunung Es Aborsi

Menurut WHO, Indonesia adalah jawara jumlah kematian ibu dan anak di kawasan Asia Tenggara. Salah satu angka pendukung kuatnya: aborsi.

——

Awal Februari lalu, masyarakat Inggris digemparkan dengan hadirnya pasangan orangtua mungil. Alfie Patten yang baru berusia 13 tahun, harus menjadi ayah dari Maisie Rixane, janin yang dikandung kekasihnya, Chantelle Steadman, yang juga baru berusia 15 tahun. Usia yang sangat belia untuk ukuran seorang ibu.

Pergaulan bebas di Inggris dan negara-negara Barat lain, sebenarnya bukan hal aneh. Namun mempunyai anak dari hubungan bebas, apalagi dalam usia belia, tetap dianggap bukan peristiwa wajar bagi masyarakat Barat. Karena, oborsi biasanya lebih dipilih, daripada memelihara janin.

Beruntung orangtua kedua bicah belia itu mensupport agar Maisie meneruskan kehamilan dan mempunyai anak. Kejadian ”menyimpang” seperti ini, mungkin jarang terjadi di dunia masyarakat Timur, termasuk Indonesia. Sebab, kehamilan di luar nikah, masih tabu dan menjadi aib besar, apalagi harus berakhir dengan aborsi.

Namun, aborsi bukan hanya dimonopoli pasangan tak resmi. Karena banyak pula dilakukan kalangan berstatus pernikahan resmi dengan berbagai alasan. Frekuensi aborsi sangat sulit dihitung secara akurat. Karena aborsi sangat sering tidak dilaporkan, kecuali jika terjadi komplikasi, sehingga perlu perawatan khusus di Rumah Sakit.

Berdasarkan perkiraan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pada 2006 ada sekitar dua juta kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Berarti, ada dua juta nyawa yang dibunuh setiap tahunnya secara keji, tanpa banyak yang tahu.

*Kehamilan Tak Diinginkan*

Menurut data Departemen Kesehatan (Depkes), jumlah aborsi yang terdata jauh lebih sedikit dibandingkan angka sesungguhnya. Dari jumlah yang tertera, sekitar 70-80% aborsi dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah. Berarti, ada sekitar 20% atau sekitar 500 ribu aborsi dilakukan oleh remaja putri yang belum menikah. Jumlah itu mungkin bertambah besar, mengingat banyak aborsi yang tidak dilaporkan, atau hanya dikabarkan sebagai pendarahan biasa.

Pada workshop advokasi ”Kehamilan Tidak Diinginkan” (KTD) yang digelar Kisara di Denpasar awal Februari lalu terungkap, kasus-kasus kehamilan yang tidak diinginkan semakin banyak ditemui di Pulau Bali. Kondisi ini bahkan disinyalir sebagai fenomena gunung es, dan menimpa sebagian besar remaja putri Bali yang belum menikah. Jika tak ditangani serius, kondisi ini akan menjurus pada upaya aborsi yang ilegal dan tidak aman.

Klinik Kisara di pulau dewata itu pada empat bulan pertama (September-Desember 2008), bahkan telah menangani konseling 177 kasus KTD. Terdiri dari 156 kasus (88%) terjadi pada anak usia 10-24 tahun, sisanya 21 kasus (11,9%) terjadi pada remaja putri berusia di atas 21 tahun. Secara keseluruhan, menurut rilis BKKBN, tingkat KTD di Bali mencapai 18.582 kasus pada 2006.

Menurut pakar kesehatan reproduksi, Mangku Karmaya, pencegahan KTD harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pemberian informasi yang tepat mengenai masalah seks dan kesehatan reproduksi, hingga sosialisasi pencegahan KTD. Lebih penting lagi, remaja yang telanjur mengalami KTD membutuhkan jaminan untuk tidak mengalami diskriminasi dan layanan aborsi yang aman.

Hasil penelitian Organisasi Kesehatan Internasional (WHO), separo dari jumlah kematian bayi di Indonesia adalah akibat aborsi tak aman. Angka kematian itu menempatkan Indonesia di urutan pertama jumlah kematian ibu dan anak di Asia Tenggara. Setiap tahun, diperkirakan 19.000 perempuan Indonesia meninggal dunia akibat komplikasi saat kehamilan, persalinan, dan setelah melahirkan. Yang mengkhawatirkan, berdasarkan penelitian di 10 kota besar dan enam kabupaten, dari dua juta kasus aborsi, 70% di antaranya dilakukan diam-diam oleh tenaga medis yang tidak memiliki izin.

Alasan para wanita hamil untuk melakukan aborsi bermacam-macam. Yang paling utama, alasan-alasan non-medis. Alasan lainnya, masih terlalu muda (terutama mereka yang hamil di luar nikah), aib keluarga, atau sudah memiliki banyak anak. Ada pula orang yang menggugurkan kandungan karena tak mengerti apa yang mereka lakukan. Mereka tak tahu keajaiban-keajaiban yang dirasakan seorang calon ibu saat merasakan gerakan dan geliatan anak di dalam kandungannya.

Alasan-alasan seperti ini nyatanya sering dilontarkan para wanita yang mencoba meyakinkan diri bahwa membunuh janin dalam kandungannya adalah boleh dan benar. Padahal, semua alasan-alasan itu tak berdasar. Dari data aborsi yang dikeluarkan WHO, tercatat lebih dari separuh atau 57% pelaku aborsi adalah perempuan yang berusia di bawah 25 tahun. Bahkan 24% dari mereka adalah wanita remaja berusia di bawah 19 tahun.

Di negara-negara sekuler, perilaku aborsi memang hanya sering menjadi perdebatan medis, dan hanya sedikit masuk dalam perdebatan etis. Di Amerika Serikat, aborsi kehamilan di luar nikah mencapai 82%. Para wanita muda yang hamil di luar nikah di sana cenderung mudah memilih membunuh anaknya sendiri. Bayangkan jumlahnya di Indonesia dengan adat Timurnya, yang menganggap kehamilan di luar nikah sebagai aib besar keluarga dan masyarakat.

*Resiko Fisik dan Mental*

Apapun alasannya, aborsi akan meninggalkan resiko yang tak dapat dihindarkan. Bukan hanya dari sisi kesehatan dan keselamatan fisik, namun pelaku aborsi juga akan dihantui gangguan psikologis.

Resiko kesehatan, aborsi dapat mengakibatkan kematian. Baik akibat pendarahan, atau karena pembiusan yang gagal, maupun akibat infeksi serius di sekitar kandungan. Secara jangka panjang, aborsi akan berakibat pada kondisi rahim yang bias sobek, dan rentannya berbagai penyakit kanker, seperti kanker payudara, indung telur, leher rahim, hati, dan berbagai penyakit lainnya.

Dari sisi kesehatan mental, beberapa hal bisa dialami oleh perempuan pelaku aborsi. Misalnya untuk KDT, pelaku bisa kehilangan harga diri, sering histeris jika mengingat perbuatan yang dilakukannya, atau mimpi buruk berulang kali mengenai si jabang bayi. Di luar itu, pelaku aborsi akan dipenuhi perasaan bersalah yang tak dapat mudah hilang bertahun-tahun.

Menurut psikolog dari Universitas Paramadina Jakarta Zikri Neni, dengan kultur dan norma-norma Timur yang lekat pada masyarakat Indonesia, wanita yang mengalami KDT cenderung memilih mengakhirinya dengan aborsi. Persaaman malu dan punya ada harga diri, menjadi alasan utama mereka memilih melakukan aborsi. Selain itu, alasan-alasan teologis juga menghantui para pelaku dengan perasaan berdosa dan bersalah.

Walau Neni sangat mengecam hamil di luar nikah, tapi ia juga tidak menganjurkan aborsi. Dengan tidak melakukan aborsi, menurut Neni, akan memberi pelajaran kepada remaja yang mengalami kehamilan pranikah untuk bertanggungjawab. Selain itu, pihak keluarga seharusnya melarang aborsi. Sebab, perilaku aborsi yang disetuji, akan mendorong perilaku serupa bagi orang yang mengetahuinya jika mengalami hal serupa. “Biarlah mereka dididik untuk bertanggungjawab. Itu agar mencegah orang lain melakukan hal serupa,” tandas Neni kepada Majalah Qalam. (Islah)

*Mendidik Tanggungjawab*

Zikri Neni, Dosen Psikologi Universitas Paramadina dan Universitas Nasional (Unas), Jakarta

Bagaimana pendapat Ibu melihat fenomena aborsi remaja yang saat ini tampak sangat besar?

Fenomena aborsi bagi remaja, dimulai dari pergaulan bebas yang mereka jalani. Apalagi saat ini, untuk melakukan hubungan di luar nikah sangat memungkinkan, dan tak perlu biaya besar. Mereka bisa melakukan di hotel, motel, kos, bahkan rumah sendiri. Hal ini harus diwaspadai oleh semua pihak, khususnya keluarga.

Pencegahan yang seharusnya dilakukan?

Keluarga harus menjadi benteng utama menghalangi terjadinya hubungan bebas ini. Pendidikan dalam keluarga harus menjadi hal yang membuat para remaja memahami posisi dan tanggungjawab mereka, dan bagaimana mereka berperilaku dalam keseharian. Bahkan orang tua harus mengetahui segala perbuatan anak mereka untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan.

Misalnya, ketika keluarga akan mengadakan acara ke luar rumah, namun ada salah seorang anak yang tak mau ikut, orangtua harus mengetahui alasan sang anak menolak ikut. Namun bukan berarti menimbulkan kecurigaan antaranggota keluarga. Komunikasi harus dijalin.

Selain keluarga?

Harus ada peran dari remaja sendiri. Bahkan, kalau bisa mereka menghindari praktik pacaran. Sebab, selain menggangu belajar, pacaran juga akan menimbulkan batasan-batasan dalam pergaulan.

Juga, pacaran menimbulkan konsekuesi untuk melakukan tugas yang seharusnya belum menjadi tanggungjawabnya. Seperti keharusan memberi perhatian lebih pada pasangan yang seharusnya belum layak untuk dilakukan. Selain itu, bukan tak mungkin mereka melakukan hubungan bebas.

Dalam kasus kehamilan pranikah, apakah aborsi atau melanjutkan kehamilan yang kebanyakan dipilih pelaku?

Aborsi. Kita berada dalam masyarakat yang menghargai norma ketimuran yang sangat kuat. Kehamilan pranikah merupakan hal yang melanggar norma. Karena malu, dan berusaha menutup malu, akhirnya mereka melakukan aborsi.

Semua agama juga menganggap aborsi sebagai perilaku yang buruk dan berdosa. Bahkan, dalam masyarakat timbul terminologi “anak haram”, bagi anak yang dilahirkan di luar nikah.

Selain itu, sekarang orang bisa dengan mudah mencari oknum atau klinik yang melayani aborsi. Seperti layaknya hukum ekonomi, ada permintaan maka akan ada penawaran. Besarnya permintaan untuk praktik aborsi, membuat penyedia jasa juga meningkat.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh remaja atau keluarga jika kehamilan luar nikah terlanjur terjadi?

Sebaiknya dibiarkan saja kehamilan itu berlanjut. Jangan akhiri dengan aborsi. Biarlah mereka (para pelaku) dididik bertanggungjawab. Ini juga untuk mencegah orang lain melakukan hal yang sama. Aborsi tak akanmenjadi efek jera bagi masyarakat, jika masih ada orang yang melakukannya. (islah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: