Jamur Fans Klub

Banyak remaja kian mengidolakan artis. Pendidikan tak jarang terbengkalai. Perlu diberdayakan fans klub yang mendidik.

Melihat sekilas, sosok Firman (22), tak ubahnya seperti artis sungguhan. Segala gaya dan asoseris Slank, grup musik idolanya, ia miliki. Mulai dari jaket, tas, sepatu, bahkan gantungan kunci dengan gambar ‘plur’ atau ‘kupu-kupu’ yang terbentuk dari kata ‘Slank’. Menjadi anggota Slanker Fans Club (SFC) menghadirkan kesan tersendiri bagi mahasiswa Universitas Indraprasta itu.

Menurut pengakuannya, selama menjadi anggota SFC, ia merasa senang dapat mengenal banyak teman dari satu klub. Yang lebih membuatnya senang, ia bisa bertemu langsung dengan tokoh idolanya, anggota Slank, setiap kali konser. “Bisa ikut konser gratis cuma dengan membawa kartu anggota,” lanjutnya.

Lain lagi pengakuan Rizki, siswa kelas tiga SMU ini penggemar berat grup musik Gigi. Suatu pagi saat liburan sekolah, bersama teman-teman sesama penggemar Gigi yang tergabung dalam GIGIKITA, dari Jakarta ia pergi ke Cilacap untuk menyaksikan grup kesukaannya itu manggung. Awalnya ia hanya menyukai Thomas, pembetot bass gitar personel Gigi. Tapi lama-kelamaan ia menyukai semua personel grup itu.

Sejak 2006 ia selalu mengikuti kegiatan Gigi manggung ke manapun hingga ke Bali. Kadang ia harus patungan menyewa mobil atau bensin mobil temannya. Sering pula ia naik kereta untuk menyaksikan penampilan Gigi di daerah-daerah. “Kalau untuk kegiatan yang berhubungan sama Gigi, aku punya anggaran tersendiri,” ujar bangga.

Meski tidak sejauh Rizki, Yanuariska Pramita juga rela naik sepeda motor bersama teman-temannya dari Bekasi ke Tangerang atau wilayah sekitar Jakarta, hanya untuk melihat penampilan grup cadas J-Rocks. Konvoi lebih dari lima motor, sering ia lakukan untuk sekadar menonton aksi panggung sang idola.

Sudah sekitar lima tahun ia tergabung dalam J-Rockstar, perkumpulan penggemar J-Rocks, grup musik anak muda yang suka bergaya ala Jepang. Saat menonton band kesayanganya, Yanuariska juga suka berdandan ala Harajuku, dandanan khas Jepang mengikuti personel J-Rocks. Belum lagi //marchandise// J-Rocks yang lengkap ia koleksi. “Kadang minta sama orangtua, kadang juga nabung dulu,” ujar siswi kelas dua SMU 4 Bekasi itu.

Menurut Yanuariska, mengidolakan sebuah band membuatnya semakin banyak memiliki teman dari berbagai daerah. Selain itu, ia juga menjadi kian semangat belajar jika tahu band kesayangannya bakal manggung di sekitar Jabodetabek. “Kalau tahu mau ada konser, semua PR segera aku selesaikan biar bisa cepet datang,” kata dia.

Di Bandung, sudah sejak kelas lima SD, Lea Amalia menyukai band Cokelat. Sejak 2001, ia sudah bergabung dalam Bintang Cokelat, fans klub miliki Cokelat. Ia mengagumi band itu karena penampilannya yang sederhana dan perilaku mereka yang tidak urakan.

Sang vokalis, Kikan, selalu menjadi inspirasinya untuk sukses belajar. Karena sudah kenal baik, tak jarang Lea curhat kepada Kikan seputar masalah-masalah pribadi.

Bagi Lea, bergabung dalam fans klub memberinya banyak keuntungan. Disamping luas pergaulan, ia juga bisa tahu cara bekerja manajemen band. Saat awal gandrung dengan grup ini, suatu kali Lea bahkan pernah rela membolos sekolah untuk bertemu artis idolanya.

Perlu Diperhatikan

Terus munculnya band-band dan artis-astis baru, tentunya wabah klub-klub baru juga subur bermunculan. Bagi sebagian remaja, fans klub dapat menumbuhkan rasa perkawanan dan solidaritas mereka. Mereka rela melakukan apa saja, demi keinginannya dikenal sebagai “grupis klub” yang digemarinya.

Beberapa kemungkinan buruk bisa terjadi ketika seorang remaja bergabung dengan fans klub kesayangannya. Akibat pengidolaan yang berlebihan, ia tak segan membolos sekolah untuk bertemu, menghadiri konser atau kumpul-kumpul dengan sesama anggota klubnya. Belum lagi kemungkinan lain penyalahgunaan obat terlarang dan narkotika.

Di sinilah butuh penanganan khusus dan pengorganisasian klub-klub tersebut dengan baik. Sangat potensial keberadaannya menjadikan wadah positif bagi pengembangan skill remaja, baik dalam bermusik, sosial dan pendidikan.

Padepokan Rehabilitasi Slankers yang didirikan Iffet Veceha Sidharta, atau yang kerap disapa Bunda Iffet, dapat menjadi contoh. Manajer grup musik Slank yang juga berpengalaman mengasuh anak pengguna Narkoba itu mendirikan lembaga khusus menangani para fans Slank (slankers) yang ingin menyembuhkan ketergantungan narkoba. Kerja tulusnya ini mendorong Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memberinya PKS Award 2008 sebagai salah satu dari delapan wanita paling inspiratif di Indonesia.

Wabah Gila Idola

Demi idola, kaum remaja yang tengah dalam masa pencarian jati diri itu tak jarang rela mengikuti segala gaya berpakaian, penampilan, dan tingkah laku idola mereka. Segala perkembangan idola mereka ikuti. Bagi mereka, sosok yang diidolakan adalah sesempurna.

Fenomena terkini, banyak remaja, khususnya remaja putri, yang “tergila-gila” hingga rela menguras tabungan, jajan atau bahkan uang sekolah, untuk mengkoleksi seluruh benda maupun asoseris yang berhubungan idolanya. Tak jarang, demi seorang tokoh idola, remaja rela mengorbankan waktu belajar, bahkan sampai sampai berani mempertaruhkan nyawa demi sebuah tanda tangan.

Beberapa tahun lalu, dalam sebuah acara meet and greet dengan salah satu grup musik mancanegara di sebuah mall di Jakarta, ribuan remaja ABG yang hanya ingin melihat dari dekat wajah-wajah para idola mereka saling berdesakan dan terlibat aksi dorong-mendorong. Empat remaja putri tewas setelah pingsan karena kesulitan menghirup oksigen saat berimpit-impitan (Gatra, 03/01).

Pertanyaannya kemudian, mengapa remaja cenderung mengidolakan para selebritis itu hingga sedemikian? Beberapa ahli berpendapat, gandrungnya kaum remaja mengidolakan seseorang di luar lingkungan keluarganya, seperti pemusik atau artis film, karena tokoh idola di dalam rumahnya cenderung tak layak diidolakan.

Banyak keluarga kini tengah mengalami krisis tokoh idola. Baik karena orangtua yang jarang di rumah dan kurang mendidik anaknya, atau suasana lingkungan rumah yang kurang kondusif memberi mereka kenyamanan hidup. Situasi ini diperburuk dengan banyaknya tayangan televisi yang lebih menonjolkan unsur-unsur komersialisme dan hedonisme, dibandingkan tayangan bermutu yang penuh ajaran moral dan mendidik.

Demikian pula maraknya penggunaan komputer dan internet yang semakin memberi ruang bagi berkembangnya situs-situs yang tidak mendidik, sehingga orangtua makin kesulitan mengendalikan perilaku anak-anaknya.

Peran media sangat berpengaruh bagi remaja dalam memberi informasi tentang gaya hidup. Sayangnya, saat ini banyak media cenderung memberi penghargaan berlebihan kepada gaya hidup hura-hura dan glamor. Gambaran yang ditampilkan dalam sinetron ataupun acara televisi, misalnya, lebih banyak bersifat meninabobokan masyarakat, khususnya remaja, pada gaya hidup yang penuh kesia-siaan. (Ali Ibnu Anwar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: