Ketertarikan Sesama Jenis

Yayah Hidayah

Dosen Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta

Oh Tuhan. Mengapa aku dilahirkan seperti ini? Apa memang ini takdirku, atau inikah jalan hidup yang harus kutempuh? Menjadi homoseks sangatlah tersiksa, lahir maupun batin. Aku bagaikan hidup dalam perampasan moral, tradisi budaya yang mengungkungku, atau entah apalagi.

Aku sudah lelah tiada terkira. Hasrat hati ingin merengkuh jalan yang benar dan normal seperti orang kebanyakan, namun aku tak sanggup. Aku tak berdaya. Tuhanku.

Aku adalah salah seorang homoseks. Usiaku sudah lebih tiga puluh delapan tahun (38). Uangku banyak, karena aku seorang direktur dari sebuah perusahaan asing. Rumah dan mobil mewahku ada, fasilitas apapun tersedia dari kantor.

Secara materi, aku sudah berkecukupan, bahkan dibilang berlebih. Setiap wanita yang baru kukenal, pasti akan langsung naksir padaku, karena kebetulan aku termasuk berwajah cukup ganteng.

Namun aku heran pada diriku. Secantik apapun perempuan itu, aku tak tertarik padanya. Aku lebih tertarik hanya pada lelaki ganteng dan berkulit mulus. Wanita di sekelilingku banyak sekali, tak habis pikir mereka tertarik padaku. Apa karena aku ganteng, atau karena aku banyak uang?

Bundaku hampir setiap hari menelpon menanyakan, kapan aku menikah dan punya anak? Bahkan kakak dan adik-adikku juga selalu mengingatkanku untuk segera menikah.

Memang selama ini aku tak terbuka pada siapun, termasuk ibuku, bahwa aku seorang homoseks. Akupun belum pernah bercinta dengan seorang gadis atau seorang lelaki sekalipun. Aku malu tak terkira, kalau nantinya seseorang mengetahui bahwa aku seorang homoseks.

Selama ini aku selalu menjadi orang terbaik. Nilaiku dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi selalu bagus. Sekolah dan universitas negeri favorit terbuka menerimaku. Aku terkenal sebagai anak baik nan penurut, dan selalu menyenangkan orangtua, sekalipun aku sendiri kadang harus mengalah pada adik-adik dan kakakku.

Tuhan. Aku menyerah. Aku sudah lelah. Karena batinku tersiksa luar biasa. Aku menangis hingga susah lagi keluar air mata yang rasanya sudah kering. Aku berteriak sekencang-kencangnya di kamar mandi, hingga keluar keringat dingin dan badanku lemas. Aku berlari hingga aku jatuh pingsan. Aku berendam di sungai hingga badanku kedinginan. Tapi setelah sadar, aku tetap masih seperti ini.

Tuhan. Tolonglah aku. Bisakah otakku dioperasi agar pikiranku berubah, dan menjadi normal seperti laki-laki yang berkeluarga, berumah tangga dan bahagia? Perasaan iri dan cemburu terhadap teman-temanku yang normal, terkadang terlintas dalam pikiranku.

Aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk keluar dari penderitaan ini. Dengan konsultasi ke psikiater, berpura-pura pacaran dengan lawan jenis walau terpaksa, dan sudah berdoa. Namun belum ada ada hasil maksimal. Karena buktinya, aku masih tetap saja seperti semula.

Aku sedang menerka-nerka, kenapa aku bisa seperti ini? Apakah ini takdirku dari-Mu yang tak bisa diubah? Ataukah karena pengalaman dalam perjalanan hidupku, sehingga aku menjadi seperti ini?

Aku adalah anak keempat dari sepuluh saudara. Kakakku tiga orang, semua perempuan, dan adikku enam, lima perempuan dan adikku yang terkecil laki-laki. Ayahku adalah lelaki tangguh tapi sangat keras mendidik anak-anaknya. Semua anaknya dididik mandiri, dan tidak boleh bergantung kepada orang lain. Aku dididik lebih keras dari anak-anaknya yang perempuan.

Sementara ibuku adalah wanita yang sangat menyayangiku dan lembut kepadaku. Apabila ada pekerjaan atau perbuatanku yang tak disukai ayahku, ibuku sangat melindungi dan membelaku dengan sangat keras.

Ketika kecil, ayah dan ibuku sering bertengkar gara-gara ibu selalu membelaku. Suatu saat, ibu berkata pada ayah, “Tampar aku saja daripada kau tampar anakku yang lucu dan sangat manis ini!” Semua kakak dan adikku yang perempuan semuanya juga sangat menyayangiku. Mereka sangat lembut kepadaku.

Sejak kecil, aku memang takut dengan sosok laki-laki, seperti ayah. Dan aku sangat sayang kepada ibu. Sehingga membuatku secara tak sadar ingin selalu dekat dengan laki-laki dengan cara pendekatanku sendiri. Yaitu dengan mencintai laki-laki dan menyayangi wanita, seperti menyayangi ibu.

Ini berlanjut hingga sekarang. Aku tak menyalahkan ayah. Karena tujuannya pasti baik. Namun, apakah aku salah satu korban didikan ayah yang terlalu keras dulu?

Pengaruh Keluarga

Membaca pengakuan dan pengalaman lelaki ganteng nan malang di atas, sebutlah dia “N”, timbul rasa iba yang mendalam dan turut prihatin kepada kaum homoseks atau gay, yang berjuang keras dan terus berusaha sembunyi dalam hidupnya yang tertekan. Antara hasrat dan kenyataan. Terlebih, budaya masyarakat kita juga belum bisa menerima keberadaan gay. Ditambah larangan keras agama untuk penyaluaran hasrat seksualitas terhadap sesama jenis.

Pengalaman “N” patut menjadi perhatian bagi para orangtua, untuk berhati-hati mendidik putra dan putrinya. Memang tak semua kombinasi didikan ayah yang keras dan ibu yang lemah lembut akan menghasilkan gay. Karena ada pula kecenderungan gay disebabkan unsur genetika dan hormonal. Namun, pola didikan orangtua terhadap anaknya, juga dapat mempengaruhi terjadinya kejanggalan seksualitas anaknya. Antara lain karena hilangnya model ayah yang ideal, atau sikap ibu yang terlalu mesra kepada anaknya. Si kecil yang manis pun diperlakukan layaknya “pacar”.

Memang akan sangat berat untuk keluar dari kebiasaan hidup yang telah dijalani bertahun-tahun oleh orang seperti “N”. Namun bisa dicoba lagi, dan tak ada kata terlambat dalam memperbaiki jalan hidup ini. Karena dalam lubuk hatinya yang terdalam, ada kecemburuan ketika melihat teman-teman dekatnya sudah mempunyai keluarga dan berbahagia.

Sangat mungkin ia mencoba menguatkan keinginan itu untuk diwujudkan. Ia dapat melihat ke masa depannya, apakah mau terus hidup seperti saat ini? Atau coba bayangkan masa tuanya yang renta harus hidup sendirian. Apakah orang lain masih peduli dengannya?

Pasti akan sangat sulit untuk memulai, tapi coba dan coba lagi adalah jalannya. Misalnya dengan bersilaturrahmi kepada kakak atau adik-adik yang sudah berkeluarga. Lihat bagaimana keluarga mereka yang bahagia, dengan suara canda, tawa riang anak-anak mereka. Membuang jauh-jauh bayangan ayah yang seram, galak, atau keras, juga dapat menjadi picu awal usaha. Maafkan ia apalagi sekarang telah tiada.

Tak sedikit gay yang sembuh gara-gara menikahi seorang gadis. Terlebih jika gadis itu sudah mengenal dan mengetahui masalah kelainan seksual pasangannya. Hingga ia mau berjuang keras membantu kesembuhan suaminya. Bahkan ada seorang mantan gay yang sembuh berkat perjuangan ini, dan telah dikaruniai dua anak yang sehat dan lucu.

Berbagai jalan lain masih banyak yang harus dicoba dan ditempuh. Jika si gay seorang muslim, cobalah memohon bantuan Allah SWT, dengan berdoa lebih instens dan serius. Yakinlah pada kuasa-Nya. Ingat bagaimana umat Nabi Luth yang mencintai dan tertarik pada sesama jenis. Nabi Luth pernah menawarkan putrinya nan cantik untuk dinikahkan dengan umatnya, namun mereka menolak. Lantas apa balasannya dari Allah? Umat tersesat itupun dimusnahkan.

Sadar Diri

Bagi pengidap homoseksual, cobalah mulai dengan keterbukaan terhadap keluarga, terutama ibu. Terbukalah kepada kakak dan adik, terutama mereka yang sudah berkeluarga. Mintalah bantuannya untuk membantu mencarikan jalan keluar, atau bahkan mencarikan calon istri yang mengerti keadaan ini.

Bagi gay yang belum pernah melakukan “hubungan” dengan sesama jenis walau ada ketertarikan, seperti pengakuan “N” di awal cerita ini, menandakan kemungkinan ia belum menjadi gay yang murni. Dan masih ada harapan untuk menjalani hidup normal.

Pada masa putus asa dan kelelahan memuncak seperti yang dialami “N”, cobalah pertebal iman, membaca buku-buku yang dapat memberi penyegaran pikiran, berpikir positif, olah raga dan terutama menjauhi hura-hura kehidupan para gay. Semua itu pasti berat. Tapi cobalah dulu untuk dijalankan. Tanpa mau mencoba, akan sulit untuk berubah.

Patut diingat, cinta adalah hal sangat penting dalam dalam kehidupan antarmanusia. Cinta adalah pondasi kehidupan dalam perkawinan, pembentukan keluaraga dan pemeliharaan anak keturunan. Cinta birahi, tak diingkari Islam. Karena cinta itu merupakan emosi alamiah sifat manusia.

Islam tak menganggap hina atau memandang rendah cinta birahi. Islam hanya menyuruh agar mengontrol dan mengendalikan cinta tersebut. Dengan cara memuaskannya sesuai dengan syari’at. Yaitu pernikahan, yang tentunya bukan dengan sesama jenis.

Allah telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan dianjurkan untuk saling melengkapi, satu dengan lainnya. Jadi, jika ada keterikan sesama jenis, bahkan saling berhubungan sekalipun, pasti dijamin tak akan terpuaskan. Karena telah menyalahi kodrat dan ketentuan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: