Remaja Underachiever

Septiana Runikasari

Adi adalah siswa salah satu sekolah unggulan di Jakarta yang mengikuti tes Minat dan Bakat di LPTUI. Selama ini prestasi Adi di sekolah hanya mendapat nilai maksimal 70, itupun pada satu pelajaran saja, yaitu komputer. Namun demikian, hasil tes minat dan bakat menunjukkan bahwa Adi memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Orangtua Adi sangat heran, lantas menghubungi LPTUI untuk meminta waktu konseling dengan psikolog.

Saat menemui psikolog, ayah Adi menjelaskan dengan berapi-api bahwa Adi yang saat ini baru naik kelas tiga SMP tak pernah terlihat belajar di rumah. Sehari-hari ia hanya membaca komik dan menonton televisi, sehingga ayah Adi menjadi sangat cerewet pada anak bungsunya itu.

Kedua kakaknya yang berusia terpaut cukup jauh dengan Adi, satu sudah lulus sarjana dan yang satu lagi duduk di bangku kuliah di Fakultas Kedokteran sebuah universitas di Bandung. Ayah Adi ingin agar Adi juga memiliki prestasi seperti kakak-kakaknya.

Sementara itu, ibu Adi merasa tak bisa terus menerus mendampingi Adi belajar. Adi sendiri merasa kalau di rumah ia memang sudah tak ingin belajar, karena merasa sudah seharian belajar di sekolah, mulai pukul 7.15 hingga 15.00 petang. Belum lagi dilanjutkan les, dan baru sampai di rumah pukul delapan malam.

Sejak kelas tiga SMP, Adi sudah sangat jarang mengerjakan hobinya bermain bola, karena ia sudah diarahkan untuk memusatkan perhatian pada Ujian Nasional (UN) di akhir tahun. Orangtua Adi sangat cemas melihat perilaku belajar anak bungsunya itu. Mereka berharap Adi rajin dan tekun belajar, dan lulus UN.

Ciri-ciri

Apa yang terjadi pada Adi? Kecerdasan umumnya di atas rata-rata, tapi mengapa prestasi sekolahnya tidak sesuai? Kasus seperti Adi dikenal dengan sebutan underachiever. Yaitu orang-orang yang memiliki potensi tinggi, tapi prestasi yang mereka tampilkan berada di bawah potensi yang dimiliki.

Biasanya orang-orang seperti ini memiliki ciri-ciri perilaku sosial emosional sebagai berikut:

* Self esteem yang rendah, kurang merasa berharga untuk tampil di antara teman-teman atau keluarganya.

* Memiliki konsep diri yang tidak realistis, kadang merasa sebagai anak yang gagal atau tidak berguna.

* Menghindari komunikasi, resiko, dan tidak berdaya. Atau cenderung menunggu diajak orang lain.

* Pasif. Ia akan taat terhadap perintah hanya sekedar saja.

* Agresif dan suka memberontak.

* Menolak perintah atau instruksi dari tokoh otoritas (orangtua, guru dan lain-lain).

* Menyalahkan orang lain kalau ada masalah.

* Kurang konstruktif dalam kelompok.

* Tidak memiliki tokoh identifikasi dan teman dekat.

* Kurang fleksibel dan berkreativitas rendah.

Bagaimana perilaku mereka di sekolah?

* Bersikap negatif terhadap sekolah.

* Suka berkata kalau ia bosan belajar.

* Tugas-tugasnya tidak selesai.

* Tidak pernah puas dengan hasil kerjanya (perfeksionis).

* Konsentrasi mudah terganggu.

* Bermasalah dalam disiplin di sekolah.

* Suka menyalahkan guru atau teman kalau ada masalah.

* Prestasi akademiknya rendah.

* Tidak mempunyai target, dan ambisinya kurang.

* Berteman dengan siswa lain yang juga tidak puas.

Perilaku-perilaku demikian tampak pada Adi. Di sekolah ia kurang berani tampil, meski ia sebenarnya memiliki kemampuan. Ia menjadi cenderung menyendiri dan tak mau bergaul. Saat hari libur, ia memilih diam di rumah, membaca komik atau bermain playstation.

Perilaku ini juga cerminan dari sikap pasif-agresif sebagai penolakan terhadap perintah-perintah belajar yang diberikan ayahnya. Adi hanya akan beranjak dengan malas-malasan saat orangtuanya mengajak untuk mengikuti aktivitas di luar rumah. Saat ini ia ternyata tidak memiliki teman dekat, meski orangtuanya sudah mendorong dan memberinya waktu untuk bermain atau bergabung dengan beberapa orang teman.

Rumah dan Lingkungan

Ada beberapa penyebab yang berasal dari rumah yang bisa membuat anak menjadi seperti Adi. Antara lain: situasi keluarga yang tidak stabil. Misalnya, si anak tahu bahwa ayahnya selingkuh, sehingga hubungan kedua orangtuanya tidak harmonis lagi. Atau, si anak merasa harus berkompetisi dengan saudaranya, dan ia kurang mendapat kesempatan pengayaan sosial dan edukasional.

Atau si anak kerap terlalu tergantung pada ibu. Misalnya, ibu yang selalu membantu dan mengambil keputusan untuknya. Atau, ayah yang terlalu dominan, kurang menghargai anak, dan sering memberi hukuman berat. Selain itu, orangtua yang tidak realistis dalam menetapkan target dan memaksakan nilai-nilai tertentu terhadap anak-anaknya juga menjadi penyebab lahirnya anak seperti Adi. Misalnya, anak merasa sudah belajar seharian, tapi tetap dianggap belum belajar kalau di rumah ia hanya membaca komik.

Atau, orangtua yang tidak pernah memberi penghargaan atas prestasi anak-anaknya sekecil apapun. Juga orangtua yang jarang berbagi ide, kepercayaan, kasih sayang dan kesepakatan dengan anak-anaknya. Atau orangtua terlalu memanjakan dan melindung anaknya sehingga tidak menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri anak-anaknya. Dan orangtua jarang memberi contoh positif, sehat dan teratur, serta gaya hidup prestastif.

Sementara itu, ada beberapa penyebab yang berasal dari luar rumah atau lingkungan sekolah. Antara lain: anak bersekolah di sekolah yang sangat tinggi standarnya, hingga membuat kepercayaan diri anak turun karena ia jarang memiliki pengalaman keberhasilan.

Perlakuan guru juga dapat menjadi salah satu penyebab anak menjadi underachiever. Ada guru-guru yang cenderung memiliki ekspektasi tinggi, bertindak otoriter, atau kurang memberi penghargaan bagi siswa.

Salah pilih teman juga bisa menyebabkan seorang remaja menjadi underachiever. Pada usia remaja, teman menjadi segalanya bagi mereka, dan pada saat ini pula mereka sangat sulit menolak pengaruh dari teman. Daripada ditinggalkan teman, mereka lebih baik mengalahkan prestasi belajarnya.

Tugas Orangtua

Ada beberapa tugas orangtua terhadap anak yang underachiever:

1. Ciptakan gaya hidup sehat dengan membangun harmoni antara kondisi fisik, mental, dan emosional anak. Misalnya dengan memberi nutrisi yang baik, latihan atau olahraga, serta pengelolaan stres.

2. Cari bantuan konseling untuk anak dan seluruh keluarga jika perlu. Jika seluruh keluarga ikut terlibat konseling, diharapkan perubahan dapat lebih cepat terjadi karena dukungan dari seluruh keluarga. Perubahan perilaku bukan hanya dari anak, tapi juga anggota keluarga lainnya.

3. Cari guru pembimbing untuk membantu anak mengatasi kelemahan dalam pelajaran-pelajaran tertentu.

4. Komunikasikan harapan yang tinggi terhadap anak dengan rasa cinta, penuh pujian, kebanggaan dan respek.

5. Adakan pertemuan keluarga untuk menetapkan target jangka pendek dan panjang, serta membuat aturan-aturannya. Dan buatlah semacam “kontrak” (kesepakatan bersama).

6. Jadikan keluarga sebagai sistem pendukung dan unit pemecahan masalah yang bermanfaat bagi anak, dipandu orangtua yang menjalankan peran pemimpin tapi berbasis cinta.

7. Menekankan kerja keras sebagai kunci sukses, dengan usaha individual, motivasi dari dalam diri, komitmen dan kepercayaan diri sebagai resep keberhasilan.

8. Rancang waktu-waktu beraktivitas di sekitar rumah selama 25 hinga 35 jam perminggu. Misalnya untuk membaca, melakukan hobi, olahraga, dan lain-lain, atau mengeksplorasi lingkungan bersama-sama sebagai sumber belajar.

9. Cobalah untuk tertarik pada aktivitas anak di sekolah dan rumah. Dorong anak untuk menceritakan aktivitas mereka.

10. Jangan membandingkan antarsaudara. Pandanglah setiap anak sebagai individu yang memiliki keunikan kualitas dan kemampuan.

11. Bantu anak mengelola waktu dan menetapkan prioritas.

12. Dorong anak untuk memiliki minat di luar sekolah. Ketika hasil belajarnya buruk, jangan cepat-cepat menuding kegiatan luar sekolah sebagai sumber masalah, dan menghukum anak untuk tak boleh lagi berkegiatan.

13. Bantu anak mendapatkan mentor/pembimbing yang dapat menjadi model menyangkut suatu karir atau kualitas personal yang diinginkan. Misalnya, membuka jalinan interaksi dengan paman yang bisa menjadi model peran. Atau Anda sendiri yang berusaha untuk dapat menjadi model bagi anak.

14. Batasi waktu menonton TV, dengan membuat kesepakatan-kesepakatan yang realistis.

15. Konsisten dan tenang menghadapi naik turunnya prestasi anak. Fokuskan pada masalah, dan jangan bertindak emosional.

Orangtua dan Sekolah

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk menjalin kerjasama dengan guru dalam mengatasi masalah anak underachiever:

Pertama, berkonsultasi secara berkala dengan guru-guru untuk memonitor perkembangan prestasi anak. Kedua, terlibatlah dalam aktivitas sekolah, Anda akan bisa lebih mengerti apa yang diharapkan sekolah dari siswa-siswanya dan bagaimana mereka memperlakukan siswa. Ketiga, pastikan bahwa guru anak Anda ikut menyadari adanya masalah underachievement ini, dan akan melakukan usaha untuk mengarahkan anak Anda.

Keempat, pastikan anak Anda bisa mengikuti kelas remedial atau konseling individual/kelompok jika diperlukan. Kelima, tanyakan pada pihak sekolah, apakah ada cara belajar tertentu di sekolah yang mesti dikuasai anak. Dan jika ada, usaha apa yang dilakukan sekolah untuk mengajarkannya, dan apa dukungan yang bisa diberikan orangtua di rumah.

Keenam, tanyakan pada pihak sekolah, apa saja yang mereka lakukan agar kurikulumnya menantang, bermakna secara personal, dan rewarding untuk anak. Kembangkan terus kerjasama dengan pihak sekolah yang disesuaikan dengan permasalahan spesifik anak. Karena upaya ini merupakan suatu hal yang patut dan berharga dibangun orangtua untuk mengoptimalkan prestasi anak, baik secara akademik maupun non akademik sesuai bakat dan minat anak.

Sementara itu, jangan lupa untuk terus melakukan perbaikan internal di dalam rumah yang dapat lebih mendorong anak untuk mau berprestasi. Sesuaikan dengan kondisi perkembangan psikologis anak, terutama remaja yang sedang berada dalam masa perubahan menjadi dewasa. Komunikasikan usaha-usaha yang dilakukan orangtua dengan sekolah, sehingga tak ada salah satu pihak yang merasa disalahkan sebagai penyebab anak menjadi underachiever.

Bagi Anda, para orangtua, kenali secara dini gejala underachiever ini. Carilah informasi tentang minat dan bakat anak yang sesungguhnya untuk bisa mengetahui apakah prestasi sekolahnya sudah optimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: