Mulia dengan Berkurban

Ahmad Muhajir

Kerelaan pengorbanan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya, yang kini dirayakan dalam ritual kurban Hari Raya Idul Adha, meneladankan digjayanya sikap sabar, ikhlas dan takwa.

Setelah puluhan tahun sangat mendambakan memiliki anak laki-laki, tapi ketika Nabi Ibrahim AS menikmati masa-masa indah bersama si buah hati, ia diuji untuk rela membunuh putra kesayangannya itu. Sungguh perintah teramat berat dari Allah SWT yang bapak para nabi itu terima melalui mimpi.

Sedih tentunya. Ibrahim hanya mampu berkata kepada putra tersayangnya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi di saat tidur, bahwa aku diperintah Allah untuk menyembelihmu. Maka renungkanlah bagaimana pendapatmu tentang perintah itu?”

Tanpa ragu Ismail menjawab, “Ayahku! Laksanakanlah apa yang telah Allah perintahkan kepadamu. Semoga engkau akan menemuiku sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah-Nya.” (Qs. Ash-Shaffât [37]: 102)

Sebelum penyembelihan dilaksanakan, Ismail minta beberapa hal kepada ayahnya. Ismail meminta agar dirinya diikat kuat-kuat supaya nanti tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah. Pakaian yang ia kenakan diminta dilepaskan, agar tidak terkena darah, yang akan menyebabkan berkurangnya pahala dan terharunya ibunda bila melihatnya.

Ismail juga minta agar pedang yang digunakan untuk menyembelih ditajamkan, agar ringan rasa pedih dan penderitaan yang akan ia rasakan. Terakhir, Ismail minta bapaknya menyampaikan salam kepada sang ibu, dan memberinya pakaian yang ia tadi kenakan sebagai pengganti pelipur lara nanti.

Pedang pun telah Ibrahim genggam. Anak tercintanya telah ia baringkan dan mata pedang telah berada di atas pelipis si kecil. Dengan sabar, kedua hamba Allah yang shalih ini menerima perintah itu.

Namun Allah menyeru, “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata.” (Qs. Ash-Shaffât [37]: 104-106) Allah pun lantas mengganti sembelihannya dengan seekor domba.

Begitulah dasar disyariatkannya menyembelih hewan kurban saat Hari Raya Idul Adha. Teladan yang memberi hikmah bagaimana kompaknya sebuah keluarga untuk berkorban dan mengorbankan diri demi melaksanakan perintah Allah. Sungguh keteladanan paling monumental, dan sangat patut ditiru kaum muslimin sepanjang zaman.

Pesan Moral Spiritual

Kata ”qurbân” berasal dari qaraba–qarabu, yang berarti dekat. Menurut Dr. Attabiq Luthfi MA., maknanya mencapai posisi ”dekat” dengan Allah, sebagai hasil latihan (mujâhadah) menjalankan segala perintah Allah.

Proses menuju kedekatan kepada Allah bukan hal mudah. Sebab, imbuh Luthfi, ketika menjalankan proses, sering terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan Allah (untuk ibadah).

Dalam proses ini, akan terlihat ke mana keberpihakan seseorang. Apakah untuk dirinya ataukah untuk ibadah kepada Allah. Sehingga pertanyaan dalam bentuk muhâsabah (evaluasi diri) dalam konteks ini adalah: Mampukan kita mengorbankan keinginan dan kesenangan diri untuk berpihak kepada Allah agar ibadah kita menjadi capaian gerbang kedekatan kita kepada-Nya?

Menurut sejarawan muslim Ahmad Mansur Suryanegara, peristiwa kurban merupakan peristiwa sejarah yang masih harus berlanjut hingga masa kini. Peristiwa itu menggambarkan keteguhan sebuah keluarga menjalankan perintah Allah dengan sabar, ikhlas dan takwa.

Siti Hajar adalah contoh wanita tegar menjalani cobaan. Semangatnya mencari air di padang pasir, yang kemudian menemukan sumur zam-zam menjadi ”saksi bisu” sejarah besarnya keteguhan hati pejuang itu.

Ujian beruntun tak hanya Hajar alami ketika Ismail lahir. Menjalang dewasa, Ibrahim justru Allah perintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Kesedihan ibu mendengar kabar putra kesayangannya akan disembelih, membuat iblis tak tinggal diam. Berbagai macam cara iblis lakukan untuk menggoda Hajar agar penyembelihan Ismail digagalkan.

Namun Hajar yakin bahwa perintah Allah benar dan harus dilaksanakan. Hajar pun mengusir iblis yang menggodanya itu dengan melemparkan batu. ”Peristiwa ini menjadi bagian ibadah haji untuk melontar jumrah,” ujar sejarawan asal Bandung itu.

Peristiwa penyembelihan ini, imbuh Mansur, merupakan simbolisasi yang harus menjadi pelajaran penting bagi kaum muslimin untuk mampu menyembelih sifat kebinatangan manusia. ”Umat Islam diperintahkan agar mengelola kekayaan bumi dan seisinya ini untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan beribadah kepada Allah,” ujarnya.

Perintah berkurban memiliki dampak moral dan spitirual. Pelajaran pentingnya, paling tidak akan mendorong manusia untuk menumbuhkan sifat cinta Allah dan rasa saling menyayangi sesama manusia.

Juga, nilai-nilai tersirat dan tersuratnya. Melalui peristiwa ini Islam memberi orientasi untuk membangun basis peradaban yang lebih tinggi dan mulia. ”Dalam skenario Allah, semua akan memiliki nilai pelajaran yang tinggi,” tandas pendiri Himpunan Mahasiswa Sejarah Universitas Padjajaran itu.

===

Boks

Sabar

Pelajar paling berharga dari syariat perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya adalah sinyal kesabaran luar biasa yang ditunjukkan Khalilullâh itu.

Menurut Arvan Pradiansyah, motivator dan penulis buku The 7 Laws of Happiness (Kaifa, PT Mizan Utama) salah satu dari tujuh rahasia hidup bahagia adalah sabar.

Tapi bagi Arvan, definisi sabar tidak sesempit pengertiannya yang selama ini dominan dalam masyarakat, yaitu mengurut dada, sehingga menuntun kepada pemahaman bahwa sabar identik dengan penderitaan.

“Mengurut dada menunjukkan bahwa Anda terpaksa dan tidak ikhlas. Padahal, sabar sangat berbeda dengan terpaksa. Sabar adalah melakukan sesuatu dengan senang hati,” tulis Arvan.

Kesabaran, bagi Arvan, tak dapat dilepaskan dari peran Allah. Untuk menjadi sabar, manusia harus mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kekuatan dari-Nya. Kesabaran berbanding lurus dengan kedekatan kita kepada Tuhan.

Arvan memaparkan beberapa definisi sabar. Sabar adalah menunda respon diri untuk beberapa saat sampai diri kita benar-benar merasa tenang, dan pikiran kita dapat berfungsi kembali dengan baik. Dengan definisi ini, berarti sabar akan mengasah kecerdasan kita, terutama dalam menghadapi situasi marah.

Sabar adalah menyatukan badan dan pikiran di satu tempat. Arvan mencontohkan, saat kita terjebak macet, padahal kita sedang ditunggu klien di kantor. Akan terasa kita tak bisa sabar karena badan kita masih berada di mobil, sedangkan pikiran kita di kantor. Menyatukan badan dan pikiran, dapat membuat kita tenang dalam menghadapi suatu masalah.

Sabar adalah melakukan satu hal di satu waktu. Arvan memperkenalkan konsep mindfulness, yaitu upaya mencurahkan perhatian sepenuhnya pada apapun yang sedang kita lakukan.

Sabar juga sikap untuk menikmati proses tanpa terganggu pada hasil akhirnya. Seperti para penggemar bola, Arvan memberi contoh, yang sangat berbahagia ketika menonton langsung sebuah pertandingan. Kehadiran mereka langsung di lapangan atau menonton di depan televise yang menyisa waktu, bukan sekadar ingin mengetahui hasil akhir pertandingan yang digelar, tapi menikmati proses berjalannya pertandingan.

Selain itu, pungkas Arvan, sabar adalah menyesuaikan tempo kita dengan orang lain, dan bukan mengharap orang lain menyesuaikan dengan diri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: