Ketika Anak Tidak Mandiri

Sofyan Badrie

Diah (26 tahun), ibu muda itu terlihat sangat letih bersandar di pojok dinding ruang tunggu periksa dokter di Rumah Sakit Muhammadiyah Jakarta (6/6). Di pangkuannya Wahid (2 tahun) menangis kencang ia biarkan. Sementara Aulia (7 tahun), anak pertamanya terus merengek menarik-narik lengan Diah meminta dilayani dipegangi air mineral kemasan yang sebenarnya bisa ia minum sendiri.

Karena anak pertama, sejak awal Diah memang begitu memanjakan Aulia. Apapun yang dimintanya selalu dituruti dan dilayani. Sampai urusan menungkan air minum ke gelas dan mengawalnya minum dengan gelas yang dipegangi. Sampai usianya tujuh tahun saat ini, Aulia masih enggan minum sendiri. Makan juga demikian, ia lebih suka disuapi ibunya.

Siang itu ketika Diah harus memeriksakan Wahid yang mengalami demam tinggi di rumah sakit terkenal di Jakarta itu, ia kelelahan melayani Wahid yang terus manja untuk urusan kecil memegangkan air mineral kemasan untuk diminumnya.

Dalam bahasa sehari-hari menurut asumsi umum, kelakuan Wahid kecil mungkin tepat dikonotasikan sebagai anak yang tidak mandiri. Yaitu anak yang tidak mampu makan atau mandi sendiri. Sebaliknya, anak yang mandiri berarti anak yang segala aktivitasnya, baik makan, mandi, berpakaian, bermain, dan lain-lain mampu ia lakukan sendiri. Tanpa harus dilayani lingkunganya.

Menurut Taqiyuddin an-Nabhani (dalam at-Tafkîr –Hakikat Berpikir Tentang Hidup), anak yang mandiri merupakan anak yang mampu memenuhi berbagai kebutuhannya, baik naluri (gharîzah) maupun fisik (hâjah al-’udhawiyyah), oleh dirinya sendiri secara bertanggungjawab, tanpa bergantung pada orang lain. Ia dapat mengerti bahwa orang lain juga mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, bukan hanya terhadap dirinya sendiri.

Anak yang mandiri, imbuh an-Nabhani, tidak akan berteriak minta diambilkan makan dan tidak rewel. Ia akan melayani diri sendiri mengambil makanannya sendiri. Jika ada anggota keluarga yang belum makan, anak mandiri tak akan mengambil dan menghabiskan semua makanan, tapi hanya akan mengambil bagiannya saja. Jika mengetahui ibunya sedang bekerja di dapur atau mengisi pengajian, ia akan beraktivitas sendiri atau bersama teman-temannya tanpa mengganggu kesibukan ibunya.

Naluri Berkembang

Sebenarnya, setiap bayi memiliki naluri berkembang untuk mandiri. Misalnya, mereka perlahan belajar untuk tengkurap, merangkak, berjalan, makan, dan minum sendiri. Ketika belajar berjalan, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa, walaupun sering jatuh dan menangis. Itu merupakan upaya naluriah untuk menjadi manusia mandiri.

Hanya saja, lingkungan sering kurang tanggap dan kondusif terhadap proses kemandirian anak, sehingga anak diperlakukan secara salah. Akibatnya, anak justru menjadi tidak mandiri.

Orangtua juga kerap salah dalam memperlakukan anak mereka. Seperti suka serba melarang, tidak membiarkan bayi mereka berekplorasi, atau terlalu mengkhawatirkan keselamatan anak dengan sering berkata ”jangan”. Akibatnya, anak menjadi sangat pencemas dan penakut.

Menurut pakar psikologi Goleman mengutip penelitian Jerome Kagan tentang sifat penakut bawaan, sifat itu biasanya disebabkan para ibu yang melindungi anak-anaknya dari pengalaman buruk. Tapi upaya ini justru akan menghasilkan anak yang terus dihantui ketakutan hingga mereka dewasa.

Menurut penelitian itu, ibu-ibu yang secara konsisten mendorong mereka menghadapi dunia, mampu menghasilkan anak yang tidak penakut. Dan penelitian ini membantah anggapan bahwa “anak-anak harus dilindungi dari kesulitan hidup”.

Mandiri Mental dan Fisik

Kemandirian dapat diartikan sebagai keterampilan untuk membantu diri sendiri, baik kemandirian fisik maupun psikologis. Kemandirian fisik adalah kemampuan untuk mengurus diri sendiri, sedangkan kemandirian psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah yang dihadapi. Dan kemandirian secara fisik sangat berpengaruh terhadap kemandirian psikologis.

Menurut Hurlock, perilaku tidak mandiri secara fisik, ditunjukan dengan tidak terpenuhinya tugas perkembangan anak pada setiap tahapannya. Sementara perilaku tidak mandiri secara psikologis akan membentuk anak yang sulit beradaptasi dengan lingkungan, sangat tergantung pada orang lain, tidak percaya diri, menjadi pengekor dan tidak bisa membuat keputusan sendiri.

Boks 1

Menumbuhkan Kemandirian Anak

Disepakati oleh para pakar, kemandirian anak harus dibina sejak dini. Dan beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan orangtua yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi mandiri:

v Tumbuhkan Rasa Percaya Diri

Rasa percaya diri penting guna membangun kemandirian. Rasa itu dapat tumbuh jika anak diberi kepercayaan untuk melakukan hal yang mampu ia kerjakan sendiri. Misalnya, saat bayi sudah bisa memegang botol sendiri, bantu ia supaya benar-benar bisa melakukannya.

v Resiko Anak Belajar

Jangan takut rumah kotor saat anak belajar makan atau berjalan. Sebab itu resiko yang harus dihadapi. Sediakan saja plastik besar di bawah meja makan untuk memudahkan Anda melakukan pembersihan.

v Beri Kepercayaan

Hal terbesar yang dapat menghambat rasa percaya diri anak adalah kekhawatiran dan ketakutan orangtua. Perasaan ini sering membuat orangtua mengerjakan pekerjaan anak yang sebenarnya bisa mereka lakukan sendiri. Berilah kepercayaan kepada anak, tapi tentunya yang sesuai dengan usia mereka.

v Komunikasi Terbuka

Sediakan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka. Bila anak Anda tertutup, pancing dengan pertanyaan ringan tentang kegiatannya hari itu. Jangan langsung melarang bila Anda tidak setuju dengan kegiatannya. Tanyakan dulu apa alasannya melakukan itu. Kalau si kecil bertanya tentang suatu hal, beri penjelasan yang mudah ia mengerti.

v Kebiasaan

Salah satu peranan orang tua dalam kehidupan sehari-hari adalah membentuk kebiasaan. Kalau anak sudah terbiasa dimanja dan selalu dilayani, ia akan menjadi anak yang selalu tergantung kepada orang lain.

v Disiplin

Kemandirian erat berkait dengan disiplin. Sebelum seorang anak dapat mendisiplinkan diri sendiri, ia harus didisiplinkan dulu oleh orang tuanya. Syarat utama pendisiplinan adalah pengawasan dan bimbingan yang konsisten dan konsekuen. Bagi orangtua pekerja, yakini betul bahwa pengasuh anak mampu konsisten dan terampil memberlakukan disiplin belajar yang Anda terapkan kepada anak Anda.

v Jangan Terus ‘Menyuapi’

Memberikan kursus untuk belajar tambahan, bukan cara yang tepat untuk mendidik anak. Sebab guru les biasanya cenderung suka terus ‘menyuapi’ muridnya tanpa melatih kemandirian anak didiknya.

Boks 2

Pola Asuh yang Salah

  • Pengasuhan Over Protektif

Terlalu memberi perlindungan yang berlebihan dengan alasan sayang, akan membatasi anak untuk mengembangkan dirinya, dan memasung kreativitas anak hingga ia tumbuh menjadi anak yang serba ragu, takut dan cemas.

Ia tidak akan memiliki kepercayaan diri untuk bertindak sesuatu. Ujung-ujungnya, orangtua juga yang akan repot dibuatnya, sebab si anak menjadi sangat tergantung pada orangtuanya.

  • Terlalu Memanjakan Anak

Tidak memanjakan anak merupakan perjuangan berat bagi orangtua yang mengalami masa lalu yang menyedihkan. Biasanya, mereka tak ingin anak kesayangannya mengalami hal serupa. Tak jarang mereka salah memberi kasih sayang berlebihan, dan melayani semua kebutuhan anak tanpa memberi kesempatan anak untuk melakukannya sendiri.

  • Memaksa Anak Mewujudkan Harapan Orangtua

Tanpa sadar, banyak orangtua kadang suka memaksakan keinginan pada anak. Anggapannya, sesuatu yang orangtua pandang baik untuk anak, itulah yang terbaik, padahal anak tidak menyukainya.

  • Orangtua tidak demokratis

Anak bukanlah obyek, sehingga ia tak boleh diperlakukan semena-mena. Ia adalah manusia, hanya dalam bentuk yang lebih kecil dan muda. Ia memiliki keinginan, harapan dan perasaan. Ia butuh untuk dihargai, didengarkan pendapat dan diakui keberadaannya.

Maka, setiap kali akan melakukan sesuatu untuk anak, orangtua sepatutnya menanyakan pendapat anak, apa keinginannya, apakah ia senang atau tidak. Memperlakukan anak seperti itu akan membuat mereka memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi, sehingga akan menjadikannya anak yang mandiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: