Pamrih Kegigihan

Ada asumsi, OKB (Orang Kaya Baru) cenderung lupa diri. Padahal, banyak tokoh dunia yang dulunya hidup susah dan miskin, ketika sukses dan kaya tak lupa kulitnya, mereka malah kian dermawan. Ibarat padi, kian matang, dadapun kian tunduk. Sukses mereka adalah pamrih kegigihan.

Ketika berumur 11 tahun, Warren Buffet hanyalah seorang loper koran. Waktu luanganya selepas sekolah dan bekerja loper ia memanfaatkan untuk keliling lapangan golf, mencari bola golf yang hilang. Bola yang ia temukan lalu dijual dengan harga murah ke pemain golf yang ingin bermain di sekitar lapangan itu.

Pada umur 14 tahun, saat duduk di bangku SMU, ia memulai bekerja mandiri, sehingga memiliki uang 1,200 dollar untuk membeli 40 hektar tanah pertanian, yang kemudian ia sewakan kepada para petani lokal untuk diolah. Di usia sedini itu ia sudah mampu menciptakan //passive income// dari sewa lahan.

Sejak usia belasan tahun, Warren yang dikenal sangat cerdas di bidang matematika itu, sudah mulai mencoba mandiri dengan bermain saham. Kala itu, ia membeli saham //Cities Services// seharga 38.25 dolar persaham. Lalu, ia segera menjualnya saat saham itu naik menjadi 40 dolar.

Sebuah keuntungan yang lumayan besar baginya saat itu. Tapi, ia kemudian menyesal. Karena, dalam setahun, saham itu sebenarnya mampu mencapai nilai 200 dolar.

Sejak itulah, ia mendapat pelajaran, bahwa bermain saham harus panjang jangka waktunya. Dan ini bekalnya saat menjadi raja saham dan membeli Berkshire Hathaway, sebuah unit usaha yang kini telah berhasil dikembangkannya hingga memiliki anak usaha lebih dari 60 jenis.

Tahun 2008 lalu, Warren berhasil menggeser Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia setelah bercokol selama nyaris 13 tahun berturut-turut. Walau menurut versi Majalah //Forbes// bulan lalu, Warren kembali berhasil digeser Gates. Dengan perkiraan pendapatan bersih 44 miliar dollar AS pada 2005, ia menduduki urutan kedua orang terkaya di dunia menurut //Forbes//.

Meski diklaim sebagai peringkat atas orang terkaya dunia, Warren selalu menekankan pola hidup sederhana. Bahkan, sangat sederhana. Betapa tidak. Ia hidup bersahaja dengan hanya tinggal di rumah bernilai 31 ribu dolar di kota kecil Omaha. Rumah yang tak memiliki pagar dan hanya memiliki tiga kamar tidur itu ia beli setelah menikah 50 tahun lalu. Padahal, jika mau, dengan kekayaannya ia bisa membeli beberapa istana sekaligus.

Tak hanya itu. Sampai kini ia mungkin satu-satunya jutawan yang masih sering menyetir sendiri mobilnya. Ketika harus bepergian, ia juga tak mau menggunakan pesawat jet pribadi layaknya para konglomerat lain. Padahal ia memiliki perusahaan rental pesawat jet pribadi.

Selain menerapkan pola hidup sederhana, ia juga menerapkan manajemen yang sangat bersahaja untuk semua bisnisnya. Ia beri kepercayaan penuh pada semua manajer perusahaannya. Dalam setahun, ia hanya menulis sebuah surat kepada CEO dari perusahaan-perusahaannya. Isinya tentang tujuan yang harus dicapai oleh perusahaan yang ia tuangkan dalam dua perintah: Pertama, jangan sampai merugikan uang pemilik saham. Kedua: jangan lupa peraturan nomor satu.

Di samping tak pernah membawa hanphone maupun laptop, Warren juga tak pernah mau bersosialisasi di klub-klub orang kaya. Waktu luangnya setelah tiba di rumah, ia gunakan untuk membuat popcorn, dan menonton TV. Bill Gates, saingannya sebagai orang terkaya di dunia, awalnya tidak berminat untuk menemui Warren, karena tidak melihat adanya kesamaan dalam diri mereka. Tapi lima tahun lalu, Bill mencoba mengagendakan pertemuan dengan Warren hanya selama 30 menit. Setelah bincang-bincang, obrolan bersama Warren ternyata berlangsung selama 10 jam.

Selain sederhana, Warren juga dikenal sangat dermawan dan filantrofis yang suka memberi sebagian penghasilannya untuk kepentingan sosial. Tak tanggung-tanggung, ia dermakan uang senilai 30 miliar dolar Amerika, kepada Yayasan Bill and Melinda Gates, yayasan milik Bill Gates. Sungguh sumbangan terbesar dalam sejarah.

Sumbangan itu setara dengan sekitar 80 persen kekayaan yang dimilikinya. Dengan sumbangan sebesar itu, bisa dikatakan ia hanya mewariskan sedikit bagian kekayaan kepada ketiga anaknya. Tapi Warren berkilah bijak, “Saya memberikan bagian yang cukup kepada anak-anak saya, sehingga mereka merasa bisa melakukan apa saja. Namun saya tidak memberi lebih, sehingga mereka merasa tak harus melakukan sesuatu (untuk mendapatkan keinginan mereka).”

***

Peduli Kemiskinan

Siapa yang tak kenal Zinedine Zidane? Kepiawaiannya mengolah si kulit bundar membuat namanya sangat dikenal seantero jagad.

Terlepas dari kontroversi yang ditimbulkan akibat ulah menanduk Materazzi pemain Italia, Zizou begitu panggilan akrab Zidane, adalah pesepakbola yang sangat berbakat. Ia menjadi figur paling penting saat mengantarkan Perancis menjadi juara dunia pada 1998. Perannya juga sangat signifikan mengangkat moral tim ketika Perancis yang kurang bersinar di awal Piala Dunia 2006 lau, akhirnya berhasil mencapai partai final.

Pria keturunan Aljazair yang lahir di Perancis 23 Juni 1972 ini, merupakan seorang anak imigran yang mencoba mengubah nasib di negeri Menara Eiffel itu. Layaknya imigran minoritas, Zidane pun tumbuh dalam lingkungan yang keras dan jauh dari kecukupan. Anak dari lima bersaudara ini sadar, ia mungkin tak akan bisa menempuh pendidikan yang tinggi layaknya orang lain yang berkecukupan. Karena itu, ia memilih menekuni hobinya, sepakbola untuk memperbaiki garis hidup.

Dalam sebuah wawancara dengan media lokal Perancis, Zidane mengatakan, bakat bukanlah apa-apa tanpa latihan terus menerus. Teknik saya tinggi bermain sepakbola yang dimilikya adalah berkat latihan keras. Motivasi Zidane untuk giat berlatih adalah ucapan ayahnya, ”Sebagai imigran, kita harus bekerja lebih giat dari orang lain, dan kita tak boleh mudah menyerah.”

Niatnya mengubah nasib melalui sepakbola menemui jalan terang saat bakatnya ditemukan oleh Jean Varraud yang mengajaknya berlabuh di klub Cannes, saat ia baru berusia 16 tahun. Berkat latihan keras, setahun kemudian ia sudah dipercaya masuk ke tim senior dan bermain di divisi pertama liga Perancis.

Dari sana, kemampuannya makin meningkat. Dan langsung menarik klub liga utama Perancis, Bordeaux untuk mengontraknya. Karirnya di lapangan hijau makin bersinar, dan membawanya melanglang buana ke berbagai tim elit dan kaya di Eropa.

Puluhan prestasi profesional ia dapatkan, termasuk rekor pemain termahal dunia dan pemain terbaik dunia tiga kali, tahun 1998, 2000, dan 2003. Sukses Zidane menjadi bukti perjuangan sejak kecil untuk merubah nasib melalui sepakbola nyatalah sudah.

Meski sudah sukses, Zidane tak melupakan masa sulit ketika kecil. Ia sangat peduli pada negara-negara dunia ketiga, atau negara tertinggal di dunia. Sejak pensiun dari lapangan hijau, Zidane dipercaya menjadi Duta UNDP (United Nations Development Program), badan PBB urusan program pembangunan dunia.

Tak lelah ia berkampanye untuk membantu negara-negara miskin mencapai kesejahteraan, seperti yang dicanangkan dalam //The Millennium Development Goals.// Selain berkeliling ke berbagai negara untuk mengkampanyekan antikemiskinan, ia juga beberapa kali mengadakan pertandingan sepakbola amal untuk mengumpulkan dana bagi masyarakat negara miskin.

Terakhir, bersama //Danone//, perusahaan produk-produk olahan susu, ia giat mensosialisakan peningkatan gizi di negara-negara miskin dan berkembang. Ketulusan Zidane, bukti menjadi sukses tak boleh lupa dengan kesusahan orang lain.

***

Memulai dari Nol

Jika sarapan, Lee Myung-Bak hanya makan ampas gandum. Karena tak punya uang, saat makan siang ia hanya mengganjal perutnya dengan meminum air. Untuk makan malam, ia kembali harus memakan ampas gandum. Dan, untuk ampas itu pun, keluarganya tak mampu membeli. Mereka harus mengais dulu ampas hasil penyulingan sake, minuman khas masyarakat Jepang. Masa kecil Lee sungguh harus dilewati dengan memakan sampah!

Terlahir di Osaka, Jepang, pada 1941, dari keluarga buruh tani. Ia kemudian besar di sebuah kota kecil, Pohang, Korea. Saat remaja, Lee menjadi pengasong makanan murahan dan es krim untuk membantu keluarga. “Tak terpikir bisa membawa makan siang untuk di sekolah,” aku Lee dalam otobiografinya //There is No Myth// yang diterbitkan kali pertama pada 1995.

Meski sangat miskin, Lee punya tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Karena itu, ia belajar keras untuk memperoleh beasiswa agar bisa meneruskan sekolah SMU.

Akhir 1959, keluarganya pindah ke ibukota, Seoul, untuk mencari penghidupan lebih baik. Namun, nasib mereka tetap terpuruk, orangtuanya hanya bisa menjadi penjual sayur di jalanan. Saat itu, Lee mulai lepas dari orangtua, dan bekerja mandiri menjadi buruh bangunan. “Mimpi saya ingin menjadi pegawai,” kisahnya.

Lepas SMA, karena prestasinya bagus, Lee berhasil diterima di perguruan tinggi terkenal, Korea University. Untuk membiayai hidupnya, ia bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Saat kuliah inilah, awal mula titik balik kehidupannya terjadi sejak berkenalan dengan dunia politik. Lee terpilih menjadi anggota dewan mahasiswa, dan terlibat dalam aksi demo antipemerintah. Karena ulahnya ini ia sempat dipenjara percobaan pada 1964.

Hukuman ini nyaris membuatnya tak bisa diterima sebagai pegawai Hyundai Group. Sebab, pihak perusahaan khawatir, pemerintah akan marah jika Lee diterima di perusahaan itu. Namun, karena tekadnya kuat, Lee memutar otak. Ia kemudian membuat surat ke kantor kepresidenan, dengan isi bernada sangat memelas, yang intinya berharap pemerintah jangan menghancurkan masa depannya. Surat itu menyentuh hati sekretaris presiden, yang kemudian memerintahkan Hyundai untuk menerima Lee sebagai pegawai.

Di perusahaan ini, Lee menunjukkan bakatnya. Ia mendapat julukan “buldozer”, karena dianggap selalu bisa membereskan semua masalah, sesulit apapun. Salah satu karya fenomonalnya adalah mempreteli habis sebuah buldozer, untuk dipelajari cara kerja mesinnya. Di kemudian hari, Hyundai memang berhasil memproduksi buldozer.

Kemampuan Lee mengundang kagum pendiri Hyundai, Chung Ju-yung. Berkat rekomendasi pimpinannya itu, prestasi Lee terus melesat. Ia langsung bisa menduduki posisi tertinggi di divisi konstruksi, meski baru bekerja selama 10 tahun. Divisi ini pada periode 1970-1980 menjadi mesin uang Hyundai.

Setelah 30 tahun di Hyundai, Lee mulai masuk ke ranah politik dengan menjadi anggota dewan pada 1992. Tahun 2002, ia terpilih menjadi Wali Kota Seoul. Lima tahun kemudian (2007), lelaki yang masa kecilnya sangat miskin dan sengsara itu, menjadi orang nomor satu di Korea Selatan. Sebuah pembuktian, bahwa dengan perjuangan dan keyakinan, setiap orang memang berhak untuk sukses. “Success is My Right,” tandas Andrie Wongso. (ahmad taufiq)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: