Plus Minus MLM

Sukses MLM disebabkan kemampuannya menggaet anggota melalui pendekatan psikologis. Hati-hati bahaya materialistik dan hedonistiknya.

Bisnis berbasis Multi Level Marketing (MLM) dianggap sangat menguntungkan semua pihak yang terlibat. Bisnis dengan sistem pemasaran melalui banyak level (up line/down line) ini, polanya membentuk jaringan berbentuk vertikal atau horizontal yang korelatif.

Di balik bayangan keuntungan, menjalankan bisnis bersistem MLM, perlu diwaspadai dampak negatif psikologisnya. Seperti obsesi yang berlebihan untuk mencapai target penjualan, tidak kondusifnya suasana yang kadang mengarahkan diri pada pola hidup hedonis, dan kecenderungan untuk berhenti bekerja formal karena terobsesi mendapat harta banyak dalam waktu singkat.

Dalam sistem ini, seorang mitra akan diperlakukan berdasarkan target-target penjualan kuantitatif material yang mereka capai. Akibatnya, jiwa mereka terkondisi menjadi materialistik, dan melupakan tujuan asasinya untuk dekat kepada Allah (Qs. al-Qashash [28]: 77, dan al-Muthaffifîn [83]: 26).

Setidaknya ada tiga sudut pandang psikologis yang digunakan dalam training MLM. Pertama, psikologi humanistik. Biasanya, kandidat disoroti status, fungsi, dan peran kemasyarakatannya yang belum membanggakan, sehingga perlu peningkatan. Penjelasannya menggunakan standar perbandingan dikotomis antara “sukses” dan “kurang sukses”. Tujuannya, agar kandidat merasa bisa mencapai taraf yang lebih baik bila ikut MLM.

Kedua, psikologi behaviorisme yang menekan pada reward-punishment. Dalam MLM tidak dikenal sistem gaji. Tapi menggunakan sistem komisi dari penjualan dan perluasan jaringan. Saat meyakinkan kandidat baru, selalu diutarakan bahwa sistem reward pekerjaan konvensional tak akan cukup mewujudkan standard ‘kesuksesan’. Artinya, perlu menambah pekerjaan dari MLM, agar penghasilannya bisa memadai.

Ketiga, psikologi kognitif. Serupa dengan yang banyak digunakan dalam training-training motivasi, dalam penyaringan kandidat MLM, si kandidat diyakini kemampuannya untuk memenuhi target, dan mengikuti MLM.

M. Munir Chaudry, Ph.D, Presiden The Islamic Food and Nutrition of America (IFANCA) telah mengeluarkan edaran tentang produk MLM halal. IFANCA mengingatkan umat Islam untuk meneliti kehalalan suatu bisnis MLM, sebelum bergabung atau menggunakannya. Yaitu, dengan mengkaji aspek marketing plannya (rencana pemasaran), apakah ada unsur skema piramida yang merugikan downline atau tidak. Kemudian, apakah ia memiliki catatan positif? Dan apakah produknya mengandung zat-zat haram?

Bila perusahaan lebih menekankan aspek target penghimpunan dana, dan menganggap produk tidak penting, apalagi uang pendaftarannya cukup besar, maka patut dicurigai sebagai money game ala judi. Terakhir, harus diperhatikan apakah perusahaan menjanjikan kaya mendadak tanpa bekerja?

Selain kriteria penilaian di atas perlu diperhatikan pula transparansi penjualan, pembagian bonus dan komisi penjualan, pembukuan perpajakan, jaringan dan level, motif dan tujuan bisnis, kehalalan produk, tidak ada excesive mark up harga produk maupun barang, serta eksploitasi pada jenjang manapun. (shofia tidjani)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Plus Minus MLM”

RSS Feed for QALAM MAG Comments RSS Feed

mau tanya nih…
sebenernya yg dinamin moneygame seperti pa?
unsur skema paramida yg kaya gimana?
thanx….


Where's The Comment Form?

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: