Rekat Jaringan dengan Silaturrahim

Shofiah Tidjani

“Barangsiapa ingin murah rezeki dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat hubungan silaturrahim.” (HR al-Bukhari)

Starbuck Café di wilayah Sarinah, Jakarta Pusat sore itu terlihat agak lengang. Namun di pojok café yang katanya milik kaum Yahudi itu terlihat sekelompok pria berpakaian rapi dan necis tengah asik berbincang, sambil menikmati secangkir kopi pahit dan makanan ringan di piring-piring kecil yang tersedia.

Mereka adalah para eksekutif muda dari beberapa kantor perusahaan advertising yang tengah asik mendiskusikan kemungkinan kerjasama bisnis antarperusahaan mereka, dan meningkatkan jaringan dari jejaring masing-masing perusahaan. Dua jam mereka habiskan di ruang sejuk ber-AC itu. Deal bisnis penguatan jaringan pun terjadi.

Di waktu berbeda satu minggu selepas Idul Fitri, sekelompok anak muda terlihat asyik bercengkrama penuh ceria di Pasar Festival Kuningan. Mereka alumni sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta yang melakukan reuni lebaran untuk angkatan mereka, sambil membicarakan pengembangan usaha bersama yang telah mereka lakukan selama ini. Komunitas mereka memang telah memiliki sebuah rumah produksi yang bergerak dalam bidang desain grafis kreatif.

Setelah lima tahun lulus dari perguruan tinggi tempat mereka belajar dan mengenyam pahit manis kenangan pendidikan, komunikasi tetap mereka lakukan. Silaturrahim mereka jalin dengan komunikasi intens memanfaatkan berbagai media, seperti SMS, internet dan buletin komunitas.

Kumpul-kumpul walau sekedar ngopi di café atau rumah makan, bukan lagi tren, tapi telah menjadi tradisi banyak kalangan pebisnis untuk meluaskan jaringan dan memuluskan bisnis mereka. Lapangan olahraga, seperti tenis atau golf, pun tak luput untuk dimanfaatkan sebagai ajang rekat diskusi pengembangan bisnis.
Klub-klub eksekutif kini marak bermunculan. Dalam komunitas ini mereka biasanya memiliki agenda membahas aneka masalah seputar bisnis atau hal lain. Banyak asosiasi bisnis di berbagai bidang juga muncul. Selain untuk mengakomodasi kepentingan anggotanya, asosiasi juga dimanfaatkan menjadi sebuah media interaksi antaranggota demi kemajuan bisnis mereka.
Gaya hidup yang kian meningkat, membuat banyak kalangan pebisnis menguatkan jaringan melalui undangan dinner (makan malam) di hotel berbintang atau restoran termahal sekalipun. Mereka sadar, sebesar apapun ongkos “sewa meja” dan makanan (food and beverage), akan lebih besar keuntungan yang mereka dapat dari jaringan silaturrahim dengan mitra bisnis.
Terlebih, dinner di hotel merupakan kegiatan makan yang sangat kental dengan nuansa privasi bagi yang mengundangnya. Berarti, apabila seseorang diundang ke acara tersebut, menandalkan orang bersangkutan sudah dianggap sebagai “bagian dari keluarga” dari pihak pengundang. Dan bagi yang diundang akan merasa mendapat kehormatan besar.

Hikmah Silaturahim

Bisnis, utamanya berdagang, merupakan salah satu sunah yang telah Rasulullah SAW teladankan. Tapi bisnis bagaimanakah yang akan membawa berkah?

Dalam sebuah hadits disebutkan, suatu ketika Rasulullah ditanya oleh Sahabatnya tentang usaha yang terbaik. Beliau menjawab: kerja dengan seseorang, dan semua jual beli yang mabrur. Dan jual beli yang mabrur, salah satunya adalah yang dilakukan dengan jalinan silaturrahim yang baik. Beliau menandaskan dalam sebuah hadits riwayat al-Bukahri, “Barangsiapa ingin murah rezeki dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat hubungan silaturrahim.”

Menurut Prof. Dr. Achmad Mubarok MA, Pengasuh Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) dan Guru Besar Psikologi Islam di banyak perguruan tinggi ternama di Jakarta, rezeki yang dihasilkan dari silaturrahim bisa berupa uang, makanan, persaudaraan, jaringan, pekerjaan, jodoh, pengalaman, ilmu dan sebagainya. “Rezeki artinya semua hal yang berfaidah (kullu mâ yustafâdu),” tulisnya dalam sebuah artikel tentang silaturrahim.

Uang yang kita terima, imbuh Mubarok, akan menjadi rezeki bila membawa faidah. Kenaikan pangkat menjadi rezeki jika membawa faidah. Isteri atau suami adalah rezeki jika membawa faidah. Jika kesemuanya tidak membawa faidah meski jumlahnya banyak, maka itu bukan rezeki, tapi bencana.

Dalam buku The Power of Network Marketing: Hikmah Silaturahmi dalam Bisnis, ustadz kondang Abdullah Gymnastiar atau popular disapa Aa Gym menyatakan, dengan bisnis kita akan bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Dengan bisnis pula kita akan merasakan bertambahnya saudara dan tersambungnya silaturahmi, dan semakin banyak orang yang merasa beruntung.

Aa sangat bersyukur dengan sukses bisnis pribadi dan lembaga yang diasuhnya (Darut Tauhid, Bandung), yang dirasa utamanya berkat keluasan jaringan silaturrahim. Aa sangat menyadari, keuntungan finansial dalam bisnis akan berarti tak seberapa dibanding keuntungan rekatnya persaudaraan dan silaturrahim. Dan berkah silaturrahim ia rasa lebih menguntungkan, karena ia yakin, pada saatnya nanti Allah SWT akan memberi keuntungan dunia yang sesuai dengan waktu dan jumlah sebanding dengan kadar kebutuhan dan kekuatan iman dirinya.

Di sebuah situs konsultan marketing (customerladder.com) dipaparkan sebuah kisah inspirasi terkait sukses seorang pedagang buahan lokal yang kini telah sukses menjadi importir mangga, berkat upaya silaturrahim yang ia lakukan.

Juragan asal Jawa Barat itu saat ini bisa mengekspor buah mangga andalan tanah air ke berbagai negara, termasuk Singapura dan Amerika yang selama ini dikenal ketat menyeleksi kualitas komoditas buah yang masuk ke negara itu. Mangga hasil ekspor juragan ini, bahkan konon sukses menjadi salah satu santapan pencuci mulut para pejabat Gedung Putih AS.

Dalam perjalanan merintis usaha mangga, si juragan berbekal networking dan jalinan pertemanan. Dulu, saat berhasil mengekspor mangga ke Singapura, ia dapatkan berkat koneksi seorang teman yang kebetulan tinggal di negeri singa itu. Suksesnya menembus pasar buah Amerika, terlahir berkat usahanya mengirim sample mangga lewat seorang teman yang kebetulan tengah menimba ilmu di negeri Paman Sam tersebut.

Fakta awalnya, si juragan hanyalah orang kampung, yang tidak memiliki latar belakang keterampilan maupun pengetahuan pertanian atau bercocok tanam. Ia awali segala usaha mangga hanya dari kegemarannya menyantap mangga.

Ia mulai usaha dengan menyewa beberapa batang pohon mangga, dan menggaji beberapa pemilik pohon yang turut merawat pohon tersebut. Pengetahuan budi daya mangga, gigih ia tambah seiring waktu dengan rajin membaca buku dan mengikuti seminar pertanian dan agrobisnis. Sistem usaha yang ia bina bersama petani pun bersifat kemitraan. Pemilik pohon mangga ia bina, tak sekadar menjadi petani tapi juga menjadi pakar mangga.

Sukses besar usaha lokalnya hingga memanca-negara, bukti buah dari jalinan pertemanan, relasi, networking, dan silaturahmi yang dirajut dan dimanfaatkan dengan baik. Tentunya disertai ikhtiar, istiqamah, dan kerja keras tak kenal putus asa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: