Berkah Masak Bersama

Yayah Hidayah

Kesannya remeh, namun memasak bersama dapat menjalin keharmonisan rumahtangga. Istri akan makin sayang kepada suami, dan suami akan kian cinta istriya. Hidup juga akan lebih sehat.

Memasak adalah kegiatan rutin sebagian besar kaum perempuan. Dulu, perkawinan identik dengan pembagian tugas, perempuan harus siap memasak, dan suami bertugas mencari nafkah.

Namun, paradigma ini sekarang mulai bergeser. Banyak perempuan, khususnya pekerja kantoran, enggan memasak. Mereka cenderung suka membeli makanan jadi untuk keluarga atau menyewa juru masak.

Keengganan mereka untuk memasak karena beberapa alas an. Seperti malas, repot, lelah bekerja seharian di kantor, kurang praktis, atau tidak terampil memasak. Padahal, aktivitas memasak banyak manfaatnya. Apalagi jika dilakoni bersama suami.

Agus Syamsuddin, seorang magister ilmu Syariah jebolan sebuah universitas di Iran sangat gemar membantu istrinya mengolah masakan di dapur. Sejak kuliah Agus memang hobi memasak.

Tapi bukan karena sang suami yang ahli memasak lantas membuat Sholihah Mukminah, sang istri, berleha-leha tanpa aktivitas berarti. Iin, begitu panggilan akrab sang istri sangat senang bisa memasak bersama suaminya.

Di samping belajar memasak menu lezat racikan suaminya, ia juga bisa lebih mendalami selera lidah sang suami. Hingga suatu saat ketika sang suami membutuhkan makanan yang disukai, Iin bisa lekas menyajikannya.

Menurut Rini Sutiyoso, istri mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sutiyoso, bagi perempuan yang sudah berumahtangga, memasak ibarat merajut tali cinta kasih antaranggota keluarga. Apalagi masaknya bareng suami. “Masakan yang dihasilkan bersama, dapat membuat hubungan suami-istri kian harmonis. Terlebih memasak makanan kegemaran suami maupun seluruh anggota keluarga,” ujar Rini.

Psikolog keluarga, Arie Radyaswati, membenarkannya. Menurut Arie, dalam hubungan suami-istri, ada tiga tempat yang tak bisa diwakilkan kepada orang lain. Yaitu: urusan tempat tidur, tempat makan, dan tempat umum. “Di ketiga tempat ini, suami dan istri harus selalu bersama,” kata lulusan magister psikologi Universitas Indonesia (UI) itu.

Menurut Arie, menemani suami di meja makan tak berarti istri harus pandai memasak. Yang penting, secara fisik istri hadir saat suami bersantap. Kebersamaan di meja makan, akan mengakrabkan hubungan istri dengan suami. “Apalagi hingga masak bareng, tentu ini lebih mengikat hubungan emosi pasangan suami-istri,” papar Arie.

Arie memberi tiga kunci keharmonisan rumah tangga. Kunci utama adalah komunikasi. Komunikasi yang baik akan memperkuat keterikatan emosional suami-istri. Kunci kedua adalah kebersamaan dengan melibatkan anak-anak, sehingga suami bisa dekat dengan anak-anak. Kunci ketiga, jangan abaikan perkawinan.

Banyak cara yang bisa dilakukan agar perkawinan senantiasa hangat dan menyenangkan. “Cobalah luangkan waktu untuk berduaan dengan suami,” saran Arie. Dari mulai masak, makan, hingga nonton berdua di tempat romantis.

Atau, napak tilas ke tempat ‘bersejarah’ lokasi pertama pasangan suami-istri bertemu. “Kebersamaan ini dibutuhkan untuk merenda masa depan. Dan menikmati kebersamaan dengan pasangan merupakan kesempatan yang harus selalu disediakan,” tandas Arie.

Soal masak berdua, Arie menilai, romantisme suami-istri tak harus diwujudkan dengan memberi materi kepada pasangan. Memasak bersama pasangan pun dapat membangkitkan kembali gairah cinta yang memudar. “Cari resep masakan favorit Anda berdua, dan pilih waktu yang longgar untuk coba memasaknya bersama,” sarannya.

Apapun hasilnya, cobalah buat sesuatu bersama-sama. Semuanya tentu akan terasa lebih menyenangkan dan menantang. “Kebersamaan Anda dengan pasangan saat memasak akan menumbuhkan kembali ekspresi sayang,” tegas Arie.

Boks 1

Teladan Rasul

Di antara kesalahan sebagian suami ialah menolak untuk melakukan beberapa tugas rumah tangga. Anggapan mereka, melakukan tugas rumah berarti mengurangi kedudukan dan menurunkan atau menjatuhkan kewibawaan di hadapan isteri.

Pendapat ini sungguh keliru. Karena Rasulullah SAW pun kerap melakukan tugas-tugas rumah tangga seperti menjahit pakaian sendiri, memerbaiki sandal, dan tugas-tugas rumah tangga lainnya. (HR Ahmad, juga disebutkan dalam //Jâmi’ ash-Shaghîr//).

Terlebih lagi dalam keadaan darurat, seperti istri sedang repot, sakit, atau setelah melahirkan. Suami dapat meringankan beban ini dengan membantu memandikan dan menyuapi anak, atau memasak. Di samping menyenangkan istri, memasak bersama keluarga juga dapat menguatkan ikatan keluarga.

Boks 2

Khasiat Masak Bersama

  • Masakan yang dihasilkan bersama, dapat membuat hubungan suami-istri kian harmonis. Terlebih memasak makanan kegemaran suami maupun seluruh anggota keluarga.
  • Dalam hubungan suami-istri, ada tiga tempat yang tak bisa diwakilkan kepada orang lain. Yaitu: urusan tempat tidur, tempat makan, dan tempat umum. Di ketiga tempat ini, suami dan istri harus selalu bersama.
  • Masak bareng, akan lebih mengikat hubungan emosi pasangan suami-istri.
  • Masak bersama pasangan akan melahirkan kebersamaan yang bermanfaat untuk merenda masa depan. Menikmati kebersamaan dengan pasangan, merupakan kesempatan yang wajib disediakan.
  • Romantisme suami-istri tak harus diwujudkan dengan memberi materi kepada pasangan. Memasak bersama pasangan pun dapat membangkitkan kembali gairah cinta yang memudar.
  • Kebersamaan Anda dengan pasangan saat memasak akan menumbuhkan kembali ekspresi sayang.

Boks 3

Manfaat Memasak

1. Lebih sehat.

Penjelasannya sangat sederhana. “Orang dulu” cenderung lebih sehat, karena makanan kemasan belum sebanyak sekarang. Karena kesibukan, saat ini banyak pasangan muda yang tidak memiliki pembantu rumah tangga, cenderung melewatkan acara memasak. Mereka memilih memesan makanan dari restoran cepat saji atau warung.

Akibatnya, semakin banyak orang menderita obesitas, atau penyakit lain yang diakibatkan gaya hidup tak sehat. Dengan memasak sendiri di rumah bersama pasangan, kita bisa menentukan menu yang seimbang dan berganti-ganti. Hasilnya, kita mengonsumsi makanan yang bergizi, dengan beragam vitamin dan mineral yang diperlukan untuk kesehatan.

2. Menghargai waktu.

Makin banyak kegiatan di luar rumah, makin membuat kita kurang memiliki waktu berlama-lama di dapur. Memasak memang membutuhkan waktu, namun jika kita memahami alasan untuk melakukannya, maka kita akan mampu mengalahkan semua kesibukan lain yang kurang positif selepas bekerja. Seperti sekedar iseng menonton tv, bermain Facebook, atau lainnya.

3. Hemat dan memuaskan.

Memasak sendiri di rumah, jelas lebih hemat secara ekonomi, dibanding membeli makanan dari luar rumah. Selain itu, dengan memasak, kita bisa menyusun menu yang berbeda setiap hari. Terus makan di warung setiap hari, juga akan membuat kita lekas bosan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: