Ironi Anak Cerdas yang Terabaikan

Tata Septayuda

Pengadilan Koroner Singapura, Rabu (29/7), menetapkan kematian David Hartanto Widjaja, mahasiswa Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura, yang tewas awal Maret lalu, adalah perbuatan bunuh diri. David (22) adalah mahasiswa genius asal Indonesia di jurusan elektronik yang pernah memenangi olimpiade matematika di Meksiko 2005.

Keluarga David yang hadir dalam sidang tersebut keluar dari persidangan sebelum hakim Victor Yeoh membacakan secara tuntas keputusannya. ”Kami sudah tahu, keputusan hakim pasti suicide (bunuh diri). Sejak awal persidangan ini sudah diarahkan sebagai bunuh diri, bukan dibunuh,” kata Hartono Widjaja, ayah David.

Hartono mengatakan, keluarga tidak akan menang karena yang dihadapi adalah sebuah tembok bernama Pemerintah Singapura. ”Seharusnya Pemerintah Indonesia membantu dan mendukung perjuangan kami. Ada anak bangsa mendapat musibah di negeri orang, tetapi tidak secuil pun bantuan yang diberikan pemerintah. Padahal anak bangsa ini pernah mengharumkan nama Indonesia,” katanya.

Hartono mengakui, selama ini Kedutaan Besar RI di Singapura selalu mendampingi keluarga di persidangan, tetapi tidak ada bantuan hukum atau dukungan diplomasi antarpemerintah yang diberikan Pemerintah RI.

Kasus putusan pengadilan Singapura terhadap kematian David di negeri singa itu, menunjukkan aib ketidakpedulian Pemerintah Indonesia terhadap aset bangsa dan sumbangsih aset tersebut untuk bangsa. Fenomena ini menjadi penguat tidak jelasnya arah pembangunan masa depan bangsa Indonesia. Penyebabnya, bisa jadi karena urusan masalah “internal” penyelesaian problem ketidakbecusan mengurus SDM anak-anak cerdas di dalam negeri saja belum terwujud.

Menurut Amril Muhammad, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas/Berbakat Istimewa (Asosiasi CB/BI), di Jakarta, Rabu (28/1), terdapat sekitar 2,2 persen anak usia sekolah yang memiliki kualifikasi cerdas istimewa. Dan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, ada 52,9 juta anak usia sekolah.

Artinya, terdapat sekitar 1,05 juta anak cerdas/berbakat istimewa di Indonesia. Akan tetapi, jumlah siswa cerdas/berbakat istimewa yang sudah terlayani di sekolah akselerasi masih sangat kecil, yaitu 4.510 orang.

Ini menunjukkan, baru sekitar 0,43 persen siswa cerdas/berbakat istimewa yang terlayani. Namun, layanan pendidikan yang didapatkan anak-anak cerdas istimewa ini belum mampu memunculkan keunggulan mereka.

“Kompetensi anak-anak ini tidak menonjol, baru sekadar mengembangkan kepintaran. Karena itu, harus ada perbaikan dalam layanan pendidikan pada anak-anak ini,” kata Amril. Belum optimalnya potensi kebijakan pemerintah mengakomodasi anak-anak cerdas istimewa di kelas-kelas akselerasi, menurut Amril, bukanlah satu-satunya metode yang tepat. Sebab, kebutuhan yang dipenuhi baru pada cepatnya selesai masa studi, belum pada pengembangan potensi serta keunggulan kompetensi anak-anak tersebut.

Amril menambahkan, banyak anak cerdas istimewa di daerah justru merasa enggan memilih kelas akselerasi. Ada ketakutan jika mengikuti metode yang ditawarkan pemerintah saat ini, mereka akan tertekan dan kehilangan masa remaja mereka.

Ekodjatmiko Sukarso, Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Depdiknas, mengakui jika penanganan terhadap anak-anak cerdas/berbakat istimewa yang sebenarnya diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Perlindungan Anak belum optimal. Citra kelas akselerasi yang selama ini diandalkan untuk melayani anak-anak ini justru belum dirasakan manfaatnya karena keistimewaan mereka tidak terlihat.

Menurut Ekodjatmiko, pembenahan sudah mulai dilakukan dalam layanan pendidikan di kelas-kelas akselerasi. Anak-anak cerdas istimewa dengan IQ di atas 125 itu belajar bersama untuk bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Di luar mata pelajaran tersebut, anak-anak cerdas istimewa bergabung dengan siswa reguler lainnya.

Butuh Layanan Khusus

Menurut data, baru 9.551 siswa cerdas dan berbakat istimewa mendapat layanan khusus di sekolah. Diperkirakan ada 2,2 persen anak usia sekolah atau 1,05 juta anak sekolah memiliki kualifikasi cerdas istimewa.

Amril menilai, berbeda dengan anak berkebutuhan khusus yang mendapat pelayanan melalui sekolah luar biasa (SLB) dan anak normal di sekolah umum, anak cerdas dan berbakat istimewa belum mendapat pelayanan terbaik.

Pelayanan terbaik itu bisa beragam bentuk. Tahap awal, kecerdasan dan bakat anak dinilai. Nilai itu dijadikan dasar penyusunan program individual oleh guru dan psikolog pendamping.

Jenis pelayanan yang ada baru kelas akselerasi di 318 sekolah. Padahal juga dibutuhkan penguasaan substansi. Adapun kemampuan verbal dan komunikasi juga harus baik agar apa yang mereka sampaikan mewakili kecerdasan mereka. Program pengayaan juga dibutuhkan sesuai dengan minat anak.

Dia menyarankan, setiap kota dan kabupaten setidaknya memiliki satu sekolah khusus anak cerdas dan berbakat, tidak perlu mahal, tetapi dikelola guru yang kompeten dan kreatif. ”Anak-anak itu butuh ruang berekspresi dan bereksperimen sesuai kecerdasan dan bakatnya. Lepas dari kekakuan birokratisasi pendidikan,” ujarnya.

Sementara menurut Fisikawan Prof Yohanes Surya, potensi ribuan anak genius kurang terasah baik. Diduga beberapa penyebabnya adalah karena pengajaran kurang baik dan pelajar kurang dimotivasi agar mengeluarkan kemampuan terbaik.

Surya mengatakan, penelitian di dunia menyebutkan, ada satu orang genius dari setiap 11.000 orang. Jadi dari 230 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 20.900 orang jenius. ”Mereka punya IQ minimal 160 atau setara Einstein,” ujarnya.

Anak Indonesia yang semula tak pernah menang kompetisi tingkat dunia kini sering memetik medali emas pada kompetisi sains dunia. Dia membuktikan itu dengan mendidik anak-anak pedalaman Papua.

”Mereka perlu motivasi untuk memunculkan kemampuan terbaik. Manusia secara naluriah perlu berada dalam kondisi kritis untuk bisa mengeluarkan potensi terpendamnya,” ujarnya.

Boks

Prestasi Tak Dihargai

Meski kurang diperhatikan, ternyata tak sedikit prestasi yang terus ditoreh anak-anak Indonesia untuk mengharumkan negeri ini. Baik di ajang regional maupun internasional.

Seperti ajang IMO yang baru mulai diikuti utusan Indonesia sejak 1998, tapi telah berhasil mengumpulkan 3 medali perak, 12 perunggu, dan 25 penghargaan (honourable mentions), seperti diberitakan di situs resmi penyelenggaranya, www.imo-official.org.

Bahkan telah banyak torehan sejarah lain yang dibuat oleh ACI, seperti: Jonathan Pradhana Mailoa, yang menjadi juara utama (The Champion) pada Olimpiade Fisika Dunia ke 37 di Singapura tahun 2006. Jonathan mendapatkan nilai tertinggi (The Absolute Winner) baik dalam ujian teori maupun eksperimen dengan nilai 29,7 untuk ujian teori dan 17,10 dalam eksperimen.

Ia mengalahkan saingan utama Yang Suo Long dari China yang meraih nilai 29,6 untuk teori dan 16,45 untuk eksperimen. Prestasi Jonathan termasuk istimewa karena mengalahkan 385 siswa terbaik dunia yang mewakili 84 negara.

Lalu, Septinus George Saa pemenang First Step to Nobel Prize in Physic (semacam nobel “junior” untuk bidang fisika tingkat dunia). Di usianya yang ke-17, siswa kelas tiga SMA Negeri 3 Buper, di Jayapura, Papua ini berhasil menjadi juara dengan riset berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Network of Identical Resistor.

Dengan riset tersebut, ia menemukan cara menghitung hambatan antara dua titik rangkaian resistor tak hingga yang membentuk segitiga dan hexagon.

Yogi Ahmad Erlangga, pemecah rumus persamaan matematika Helmholtz. Alumni jurusan penerbangan ITB, yang kini menjadi dosen di jurusan yang sama ini lebih dikenal sebagai ilmuan matematika Belanda (Dutch Matmatichisian), tempat di mana ia menyelesaikan riset S3.

Metoda Yogi tersebut dapat digunakan untuk menemukan minyak bumi 100 kali lebih cepat dari sebelumnya, sebagaimana dinyatakan oleh perusahaan minyak internasional, Shell. Yogi menggunakan metode dengan cara membuat profil 3 dimensi dari cadangan minyak, berdasarkan metode numeric untuk persamaan Helmholz. Selain itu, penemuan Yogi juga digunakan dalam perancang Blu-Ray, keping DVD super yang memiliki kapasitas puluhan Giga Bytes (GB).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: