Ironi Geng Perempuan

Belum cukup satu tahun berita Geng Nero rebak, awal 2009 lalu kembali terulang video perkelehian antar geng siswi perempuan di salah satu SMU di Kupang. Gejala apakah ini?

Tangan-tangan lembut itu tiba-tiba menjadi kekuatan untuk menjatuhkan lawan. Geng perempuan mulai berulah. Perkelahian antargeng perempuan, nampaknya tengah menjadi tren baru di kalangan remaja putri. Dalam teori psikologi, tindak kekerasan yang dilakukan oleh geng perempuan ini disebut bullying. Atau tindakan agresi dengan tujuan menyakiti orang lain, baik fisik maupun mental.

Bullying, biasanya dilakukan karena tradisi balas dendam, sebagai akibat dari perlakuan serupa yang pernah diderita pelaku. Rasa ingin menunjukkan kekuasaan karena korban tak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, mendatangkan kepuasan tersendiri bagi pelaku bullying.

Perilaku ini bisa dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya, saat belajar dengan cara meniru, terutama dalam hal kekerasan. Para remaja meniru tindak kekerasan dari banyak tempat. Misalnya orangtua, televisi, teman, bahkan sekolah.

Hasil penelitian Yayasan Sejiwa yang dilakukan di 40 sekolah pada April 2006 menunjukkan, salah satu penyebab bullying adalah kelirunya pendidikan disiplin dari guru dan orangtua. Anak-anak yang mendapat perlakukan keras dari orangtua, akan merasa puas jika telah melakukan kekerasan kepada orang lain.

Tindak kekerasan remaja ini juga dipengaruhi oleh informasi, terutama televisi. Program televisi dengan sistem rating, banyak stasiun televisi seperti berlomba menyajikan adegan kekerasan secara gratis setiap hari. Utamanya sinetron-sinetron remaja, yang kerap menampilkan gaya hidup anak-anak sekolah yang berkelompok dalam geng-geng, dan melakukan persaingan tak sehat dengan geng lainnya.

Penelitian Pediatrics yang dilakukan beberapa periset, seperti Dimitri A. Christakis MD. MPH., dan Frederick Zimmerman PhD., di rumah sakit Seattle Children’s Hospital Research Institute dan University of Washington School of Medicine, menyimpulkan bahwa perilaku agresi yang dilakukan anak usia remaja, sangat berhubungan dengan kebiasaannya dalam menonton tayangan di televisi.

Tugas Bersama

Menurut Psikolog Mukodi Msi. yang juga Direktur Lembaga Pendidikan, Agama, dan Sosial (L-PaS) Yogyakarta, dalam konteks ini, pembinaan secara berkelanjutan bisa dijadikan pilihan bijak. Pembinaan tak hanya melibatkan guru. Tapi orangtua siswa dan masyarakat.

Selain itu, pihak sekolah pun harus lebih kreatif dan inovatif mengembangkan potensi peserta didiknya. Lebih-lebih di level SMP dan SMA. Karena di masa-masa inilah tahap yang paling krusial dan menentukan.

Mewabahnya komunitas geng-geng remaja, hendaknya dijadikan ajang introspeksi sistemik. Khususnya bagi lembaga pendidikan, orangtua dan masyarakat. Di samping sebagai wahana untuk mengoptimalkan organisasi-organisasi kepemudaan yang ada. Sehingga, ketika para peserta didik (remaja) terpuaskan, geng-geng baru juga akan tereduksi, dan para remaja juga dapat selalu terpantau secara sosial, komunal, dan kultural. (fathurroji)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: