Hak Demokrasi Kaum Buta Huruf

Hak Demokrasi Kaum Buta Huruf

Sebut saya Satina, seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani, bersama teman-temannya ia kini aktif mengikuti bimbingan Keaksaraan Fungsional di rumah Fifin, warga Desa Cakru, Kecamatan Kencong, Jember, Jawa Timur. Kegiatan yang telah berjalan selama empat tahun itu telah menamatkan tujuh angkatan Warga Sukses Baca, yang terdiri dari warga umur 25 hingga 45 tahun.

Bermula dari bimbingan belajar mengaji, yang hanya terdiri dari 10 orang warga, Fifin melihat banyak dari kelompok belajarnya yang belum bisa baca tulis. “Menyadari pentingnya membaca dan menulis, akhirnya saya bersama rekan-rekan berinisiatif mengadakan bimbingan keaksaraan fungsional bagi warga,” jelasnya kepada Majalah Qalam.

Sukses menamatkan sepuluh warga selama enam bulan, akhirnya Fifin membuka kesempatan bagi warga lain. Tak hanya dari kalangan ibu-ibu saja, bimbingan juga diikuti kaum bapak warga setempat.

Melalui arahan Dosen Universitas Muhammadiyah Jember, Fitriatul Mufidah, beberapa mahasiswa ditugaskan meneliti perkembangan bimbingan tersebut. Muarrofah, salah seorang mahasiswa alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, dan ketua kelompok penelitian itu menjelaskan, ada sepuluh kelompok di Desa Cakru yang menggelar kegiatan semacam ini.

Untuk sementara waktu, para peneliti menggunakan media papan huruf dan angka untuk membantu aktivitas bimbingan. “Itupun, para peserta bimbingan belum mampu menyerap pengajaran secara maksimal,” tukas Muarrofah.

Menurut data terakhir, Indonesia memiliki sekitar 32.379 desa, dengan keseluruhan jumlah penduduk diperkirakan mencapai 266 juta jiwa. Sayangnya 15 persen dari jumlah itu terancam buta huruf. Terkait hak pilih dalam demokrasi, prosentase sebanyak ini bukanlah angka yang sedikit.

Minimnya kemampuan tingkat membaca dan menulis masyarakat, terutama warga pedalaman, tentu akan besar pengaruhnya terhadap kesuksesan Pemilu 2009. Terlebih, ditambah keruwetan akibat perubahan cara memilih dari mencoblos kepada mencontreng, yang sangat membingungkan para pemilih, khususnya kalangan buta huruf.

Kendala psikologis yang umum dirasakan kalangan buta huruf adalah ketakutan mereka untuk berhadapan dengan petugas. Walau saat pemilihan di tempat pemungutan suara (TPS) telah disediakan petugas yang bertugas melayani mereka. Rasa minder atas kemiskinan dan ketidaktahuan informasi menjadi pemicu ketakutan mereka.

Tak heran jika kegagalan pemilihan Caleg seperti yang dikehendaki masyarakat, sungguh sangat memungkinkan. Maka, menjadi tugas para pelayan TPS itu untuk menciptakan iklim yang sejuk dan bersahabat dengan kalangan buta huruf ini, agar mereka tidak kehilangan kesempatan memberi suara yang menjadi hak dasarnya sebagai warga negara.

Dari sukses dan gagalnya Pemilu tahun ini, pekerjaan besar yang diemban pemerintah mendatang adalah fokus dan upaya keras mengentaskan buta huruf. Agar dalam pesta demokrasi selanjutnya, tak ada lagi kekhawatiran salah pilih atau manipulasi lainnya yang diakibatkan ekses buta huruf masyarakat.

Program semisal bimbingan Keaksaraan Fungsional seperti yang masif dilakukan warga Desa Cakru, Jember, sangat patut menjadi panutan bagi ribuan desa-desa lainnya di Indonesia, untuk kreatif memberantas buta huruf secara mandiri. Ali Ibnu Anwar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: