Menghentikan Energi Teror

Islahuddin

Lagi-lagi Indonesia diguncang bom. Potensi teror sepertinya masih belum padam. Apa motivasi para teroris itu?

Salah seorang teroris yang menyerang Hotel Oberoi Mumbai India tertangkap kamera sedang membawa senjata. Tak ada keraguan apalagi ketakutan yang terpancar dari wajah muda yang diperkirakan masih berumur dua puluh tahunan itu. Para teroris yang menyerbu India itu seakan tidak memikirkan keselamatan mereka. Teror dan menebar ketakutan seakan menjadi tujuan yang paling penting bagi hidup mereka. Melebihi ketakutan mereka pada maut.

Bukan hanya India yang pernah menjadi fokus perhatian dunia tentang peristiwa teror. Sejumlah negara seperti Indonesia, Spanyol, Irlandia Utara, Irak dan tentunya Amerika Serikat pernah menjadi pusat perhatian dunia terkait terorisme. Saat ini seakan tak ada tempat yang benar-benar bebas dari ancaman teroris. Bahkan negara atau tempat yang diyakini paling aman sekalipun, bukan jaminan akan selalu damai.

Yang paling mutakhir adalah peristiwa di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton (Jum’at, 17/7), dua hotel yang diyakini paling aman di Indonesia malah menjadi sasaran empuk bagi teroris. Bahkan mereka leluasa menyerang kedua hotel tersebut dari dalam hotel. Bukan lagi hanya di luar hotel sebagaimana terjadi tahun 2003 lalu.

Teror dan teroris beberapa tahun ini memang tengah menjadi hantu menakutkan masyarakat dunia. Walau sebenarnya teror bukanlah suatu yang baru, namun tetap saja teror dan sang teroris membuat segenap manusia yang cinta damai was-was menghadapi fenomena ini.

Motivasi para teroris yang seakan tanpa takut, menimbulkan berbagai pertanyaan dan asumsi psikologis tentang diri para calon pelaku teror. Menurut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, masalah ideologi seringkali menjadi energi untuk menggerakkan teror.

”Ideologi tak jarang bersinergi dengan gagasan dan keyakinan agama, sehingga menjadi multiplikasi energi,” tandas Komaruddin. Dan energi ini akan mengeras dan memiliki daya rusak tinggi saat digerakkan amunisi rasa dendam dan frustrasi yang tidak tersalurkan, didukung teknologi perakitan bom yang canggih.

Simbiosis berbagai elemen inilah yang mungkin mengental pada diri teroris yang memilih bunuh diri sebagai katarsis untuk menyalurkan akumulasi emosi yang sudah lama membebani hidupnya. Dengan mencari pembenaran pada ayat-ayat kitab suci yang tafsirannya disesuaikan dengan situasi batin mereka, kematian diyakini sebagai emansipasi jiwa yang diberi lebel ”syahid”, agar terbebas dari beban hidup dan bisa tersenyum saat jalan kematian ada di depan mata, dan yakin surga telah menanti.

Para teroris, imbuh Komaruddin, memilih jalan kekalahan dan kematian yang dimanipulasi dan diyakini sebagai kemenangan dan kejayaan di surga. Mereka merasa telah membela agama dan bangsa. Padahal, tindakan mereka justru meninggalkan petaka dan fitnah ideologis berkepanjangan.

Pencuci Otak

Masalah pelaku langsung tindakan teror (eksekutor), tak lepas dari “kecanggihan” perekrut para kanditat teroris. Merekalah motor penggerak aksi teror untuk terus terjadi. Para “motor” itu tentunya punya bekal mumpuni untuk mempengaruhi dan “mencuci” calon teroris yang diistilahkan mereka sebagai “calon pengantin”.

Para aktor perekrut terbukti sangat jeli dan sukses merekrut pengikut baru. Sebab dalam masa relatif pendek, mereka berhasil melatih dan menjadi calon baru menjadi sangat militan. Metode training mereka sungguh hebat.

Di Indonesia, nama Nurdin M. Top dikenal sebagai aktor penting yang berperan menjadi perekrut calon militan ini. Terlepas benar atau tidak keberadaan sosok paling dicari aparat ini atau ia hanyalah aktor “bikinan” intelejen asing, semua masyarakat patut waspada jika ada sosok yang berpotensi menebar ideologi kekerasan kepada pihak lain.

Sukses para perekrut juga didukung faktor-faktor psikologis diri para eksekutor teror. Sayangnya, selama ini berbagai komentar dan analisis yang dikemukakan masih bersifat umum dan spekulatif. Akar masalah pun tidak kunjung terungkap.

Misalnya, jika terorisme digerakkan pemahaman dan keyakinan agama, kapan radikalisasi dan ekstremisasi itu bermula? Ajaran agama mana dan logika sosial bagaimana yang membuat para pelaku bertekad melakukan aksi bunuh?

Radikalisme hampir ada di semua agama. Sebut saja konflik Kristen Katolik dan Protestan di Irlandia yang sering berakhir dengan teror. Dialog dan komunikasi yang efektif diyakini akan menjadi alat tepat untuk mengurangi tumbuhnya teroris-teroris baru.

Perlu teknik komunikasi yang bagus agar teroris bisa diajak berempati pada posisi para korban. Perlu juga juga ditancapkan pertanyaan kepada para teroris, andaikan di antara korban itu ada keluarga mereka yang kemudian mengalami cacat atau menderita seumur hidup, apakah ini masih dianggap jihad di jalan agama? Bukankah para korban tak ubahnya keluarga mereka seagama, serumpun Melayu dan sebangsa?

Begitu banyak mata rantai keluarga, ekonomi, politik maupun agama yang dirugikan dan disengsarakan oleh sekelompok teroris itu.

Kaum yang Kecewa

Menurut Komaruddin, setiap orang mempunyai potensi berbuat nekad. Dan berkat potensi ini seseorang akan berani melakukan hal-hal ekstrem, sekalipun yang membahayakan jiwanya, seperti bahaya mendaki puncak Everest.

Potensi nekad yang terdapat pada tiap orang, kadang terejawantah dalam perbuatan konstruktif, atau sebaliknya, melakukan hal-hal destruktif yang negatif. Kenekadan desktruktif, bisa menjelma dalam bentuk aksi terorisme, seperti bom bunuh diri.

Nekad yang desktruktif dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama, untuk bertahan hidup (survive). Mereka melakukan hal-hal yang membahayakan jiwa orang lain, seperti mencuri rel kereta api guna menyambung nafas diri dan keluarganya. Kedua, ideologi. Untuk merealisasikan ideologi yang dianut, mereka menghalalkan berbagai cara, tak peduli akan menyengsarakan orang lain.

Ketiga, meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik. Karena kemiskinan tak jarang mendorong orang untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Keempat, balas dendam yang timbul dari rasa adanya ketidakadilan. Kelima, keinginan untuk menjadi berarti bagi diri, agama, keluarga, atau negara. Kadang cara untuk menjadikan dirinya berarti ini ditempuh dengan melakukan aksi teror. Menurut Komaruddin, dari sinilah kemudian psikologi “jihad” dan teroris bertemu.

Secara psikologis, aksi terorisme muncul dari adanya gejala delayed psychological responses, atau respon-respon dan penyaluran beban psikologis yang tertunda. Dalam konteks waktu, beban psikologis pelaku teror mungkin tidak dapat tersalurkan selama masa Orde Baru yang ketat. Akibatnya, berbagai residu dan borok sosial muncul ke permukaan. ”Ibarat bendungan jebol, sulit mengendalikan air hingga ke sawah dan kebun. Tembok irigasi pun berantakan,” ulas Komaruddin.

Dari sekian banyak sumber terorisme, rasa kecewa dan marah terhadap masa lalu adalah salah satu di antaranya. Orang semacam ini pasti ada di tiap negara, hanya berbeda kuantitas dan kualitas. Di Indonesia ada yang kecewa dengan Soeharto. Di Mindanao (Filipina) ada yang kecewa dengan Ferdinand Marcos. Di Malaysia ada yang kecewa dengan Mahathir.

Orang-orang yang kecewa dari ketiga negara ini, kemudian bertemu di Afganistan saat “megaproyek” mengusir komunis dari tanah Afganistan diluncurkan. Di sana mereka mendapat lahan dan meaning full life (arti hidup) dengan berjuang melawan komunisme dan hal-hal lain yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka.

Guna membenarkan tindakannya, mereka kemudian mencari justifikasi ajaran agama. Akhirnya, konsep jihad pun mereka bajak dan dijadikan alat untuk menjustifikasi tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan substansi jihad itu sendiri.

Potensi teror itu sepertinya masih belum padam. Baik karena aktor yang “mendidik” para calon teroris masih bebas mencari teroris baru, juga karena faktor kenekadan yang deskruktif masih berpotensi menjelma menjadi teror baru. Faktor-faktor ini perlu diminimalisir, salah satunya dengan memberi rasa keadilan kepada semua elemen. Sehingga tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenci orang lain.

Boks

Upaya Preventif

Sadarkah para teroris dengan kesalahan aksi mereka? Menurut Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, semua pelaku teror benar-benar sadar dan tidak menyesali tindakan teror yang telah mereka lakukan. Imam Samudra, misalnya, sangat yakin bahwa tindakannya selalu benar dan tak ada orang lain yang bisa mengubahnya.

Namun tersangka lain, seperti Ali Imron, menurut Sarlito, pernah merasa gundah dan menyesal telah membunuh sekian banyak nyawa yang sebenarnya tak berhak ia bunuh. Keraguan semacam inilah yang bisa dijadikan pintu masuk untuk menyadarkan para tersangka teroris bahwa tindakan meledakkan bom di lingkungan sipil adalah salah.

M Memang profesor di bidang psikologi ini mempunyai kajian tentang psikologi terorisme. Kajian ini juga memiliki tujuan untuk memberikan

Butuh tindakan preventif agar tindakan terorisme tidak terjadi. Menurut profesor bidang psikologi yang mendalami kajian psikologi terorisme ini, upaya preventif bisa dilakukan dengan cara pendekatan kepada para tersangka terorisme. Lalu di saat yang tepat, segera dilakukan pembelokan pikiran mereka yang sempat dipenuhi kebencian berlebihan pada pihak tertentu, seperti Amerika, termasuk warga sipilnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: