Menyambut Kelahiran Sang Purnama

Telah terbit purnama di tengah kita.

Maka tenggelam semua purnama.
Seperti cantikmu tak pernah kupandang.
Aduhai wajah ceria.
(Syeikh al-Barzanji)

Bulan ini umat Islam akan lebur dalam euforia ritual menyambut kelahiran Sang Purnama, Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi, demikian umat Islam menyebutnya. Ritual ini memiliki daya tarik spiritual yang menyedot gairah umat Islam untuk merayakannya. Tanggal 12 Rabiul Awal itu menjadi titik awal timbangan kecintaan dan kekaguman umat Islam kepada Sang Nabi.

Tengok saja misalnya, bagaimana orang Madura menyiapkan diri menyambut Maulid. Panitia pelaksana perhelatan ini sudah dibentuk beberapa minggu sebelumnya. Bagi masyarakat Madura, momentum ini bukan sekadar rutinitas tahunan. “Ada spirit dan motivasi tertentu, ketika para santri memperingati Maulid Nabi,” jelas KH. Imam Khodri, Direktur MMI Pondok Pesantren Mathlabul Ulum, Lenteng, Sumenep.

Menurut Imam, Maulid di pesantrennya diperingati meriah. Beberapa kegiatan keagamaan dan lomba-lomba digelar. Seperti ceramah agama, dibaan, lomba marawis, busanah muslimah, dan cerdas cermat.

Antusiasme menyambut Maulid Nabi juga terlihat pada masyarakat Talango, sebuah pulau kecil di timur Sumenep. Menurut Ust. Mastur, pengurus musholla al-Kamul, Talango, menjelang Maulid Nabi, masyarakat Talango nampak sangat gembira. Seperti akan melaksanakan hajatan, mereka sibuk belanja berbagai kebutuhan, termasuk buah-buahan.

“Setiap Maulid, buah-buahan pasti melimpah ruah. Itulah gambaran kegembiraan mereka menyambut kelahiran Sang Nabi,” kata Mastur. Puncak acara Maulid ditandai pembacaan berzanji bersama, dan ceramah agama oleh seorang kiai dari luar Talango.

*Sugesti Maulid*

Kehadiran Nabi Muhammad tak hanya telah melahirkan peradaban baru. Beliau juga menjadi sosok transformer sejati yang gemilang mengubah tatanan mental umatnya dari jahiliah menjadi umat yang maju dan berperadaban.

Dalam konteks itu, Maulid Nabi menawarkan sugesti bagi umat Islam untuk terus menyalakan perjuangan agama Allah di dada mereka. Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi, panglima besar kerajaan Turki Utsmani, termasuk salah seorang yang berhasil memetik hikmah Maulid Nabi. Ia buktikan dengan kobaran semangat, berjuang melawan tentara Salib.

Banyak pengalaman spiritual dan perubahan sikap yang dialami umat Islam pascaMaulid Nabi. Seperti bertambahnya kecintaan kepada Nabi Muhammad, keyakinan akan kebenaran risalah beliau, dan intinya mendapat ketentraman batin.

Dalam psikologi agama, perubahan sikap kebergamaan lazim disebut konversi agama. Konversi agama bermakna sebuah pertumbuhan atau perkembangan spiritual, yang mengandung perubahan ke arah yang cukup berarti. Konversi agama menunjukkan adanya perubahan emosi yang tiba-tiba, ke arah mendapat hidayah Allah SWT. Menurut Prof. Dr. Zakiyah Darajat, konversi agama terjadi, salah satunya karena adanya sugesti atau bujukan dari luar. Dan peringatan Maulid Nabi termasuk salah satu bentuk sugesti itu.

Umat Islam yang gelisah dan mengalami kegoncangan jiwa, akan dengan sangat mudah menerima Maulid Nabi sebagai sugesti bagi dirinya. Karena, orang yang sedang gelisah atau goncang jiwanya, berhasrat ingin segera lepas dari penderitaannya.

Memaknai Maulid Nabi, berarti keharusan untuk mengubah sikap individu. Dari yang semula angkuh menjadi cinta, dari putus asa menjadi semangat, dan seterusnya. Tak ayal, jika Michael H. Hart menobatkan Nabi Muhammad sebagai manusia paling berpengaruh dalam perubahan sejarah manusia.

*Makna Maulid*

Maulid atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebenarnya bukan Hari Raya Islam. Karena Hari Raya Islam hanya dua: Idul Fitri dan Adha. Di balik kemeriahan menyambut momen ritual ini, ada makna pentingnya sebagai simbol kedamaian dakwah Islam.

Perhelatan ini merupakan salah satu wujud ekspresi pengagungan dan penghormatan umat Islam kepada Nabi kecintaannya. Lebih dari itu, Maulid Nabi sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah. Karena Rasulullah adalah kekasih-Nya. Ekspresi kecintaan ini mestinya dilanjutkan dengan kearifan untuk meneladani seluruh aspek kehidupan beliau, bukan sekadar aspek ritual dan akhlak beliau saja.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perayaan Maulid Nabi atau muludan, pernah dimanfaatkan Wali Songo sebagai sarana dakwah. Ketika muludan, banyak digelar aneka kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat), sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid Nabi disebut juga perayaan Syahadatain, yang oleh lidah masyarakat Jawa diucapkan Sekaten.

Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga (gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu), yang ditabuh di halaman Masjid Demak saat perayaan Maulid. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam memasuki pintu gerbang ‘pengampunan’, yang disebut ”gapura” (berasal dari bahasa Arab ghafura, artinya Dia Mengampuni).

Pada masa kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata ‘gerebeg’ artinya mengikuti. Yaitu mengikuti Sultan dan para pembesarnya keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, ada pula perayaan Gerebeg Poso untuk menyambut Idul Fitri, dan Gerebeg Besar, menyambut Idul Adha.

++Box

*Sejarah Maulid*

Dalam sejarah perjuangan Islam, tercatat Sultan Salahuddin al-Ayyubi (pemimpin Dinasti Bani Ayyub 1174-1193 M), menjadi pioner yang mempopulerkan peringatan Maulid Nabi.

Inisiatifnya menggelar Malid, bermula dari kemirisannya mendapati dunia Islam yang kala itu tengah kehilangan semangat juang (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah). Karena secara politis mereka terpecah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, maka bangsa-bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris) sangat mudah menyerang mereka. Kebangkitan perlawanan inilah yang kemudian melahirkan Perang Salib atau The Crusade.

Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Ia menghimbau agar hari lahir Nabi Besar itu, 12 Rabi’ul-Awwal, tidak berlalu begitu saja tanpa diperingati. Ia ingin umat Islam di seluruh dunia merayakannya secara massal.

Ide ini sebenarnya bukan gagasan murni Salahuddin. Tapi usul iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, Atabeg (semacam Bupati) di Irbil, Suriah Utara. Untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani, Muzaffaruddin sering menggelar peringatan Maulid Nabi di istananya. Hanya saja perayaannya bersifat lokal dan tidak rutin dilaksanakan setiap tahun.

Awalnya, gagasan Salahuddin ditentang para ulama yang menganggapnya sebagai tindakan bid’ah. Tapi Salahuddin menegaskan, bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syi’ar Islam, bukan ritual. Ketika ide itu diajukan kepada Khalifah an-Nashir, khalifah setuju. Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci Makkah dan Madinah) menginstruksikan seluruh jamaah haji agar segera mensosialisikan peringtan itu ketika tiba di kampung halaman masing-masing.

Salahuddin pertama menggelar peringatan Maulid Nabi pada tahun 1184 M. (580 H.). Dimeriahkan dengan sayembara penulisan riwayat dan puji-pujian kepada Nabi dengan bahasa indah. Pesertanya, seluruh ulama dan sastrawan. Sayembara dimenangkan Syaikh Ja`far al-Barzanji. Karyanya dibukukan dalam Kitab Barzanji, yang hingga kini sering dibaca masyarakat di kampung-kampung saat peringatan Maulid Nabi, atau pengajian malam Jum’at.

Berkat upaya Salahuddin ini, semangat umat Islam menghadapi Perang Salib kembali bergelora. Pada 1187 M. (583 H.) Yerussalem berhasil direbut kembali dari tangan bangsa Eropa. Masjid al-Aqsa pun dapat menjadi masjid seperti sedia kala hingga hari ini. (Moh. Hamzah Arsa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: