Mudik, Silaturrahim Membawa Berkah

Islahuddin

Tradisi mudik, bukan monopoli masyarakat Indonesia. Walau melelahkan, tapi berkah silaturrahimnya banyak.

Rina namanya, janda satu anak itu rela berdesak-desakan naik kereta api, hanya untuk mengobati rasa kangennya kepada buah hati di kampung halaman. Untuk acara pulang kampung ini, Rina rela menyisihkan uang Rp 1,5 juta. Rencananya, ia akan dua minggu berada di Kulonprogo, kampung halamannya.

Rp 76 ribu ia peruntukkan untuk ongkos bolak-balik naik kereta api Progo jurusan Yogyakarta. Biaya makanan di kereta ia siapkan Rp 40 ribu. Untuk memenuhi keperluan selama berhari raya di kampung, ia perkirakan menghabiskan Rp 900 ribu. Selain merogoh kocek dari gaji bulanannya, ia juga harus merogoh uang tabungan demi bisa sampai ke kampung halaman.

Lain lagi, Herman, ayah dua anak ini minimal harus menyiapkan uang Rp 5 juta untuk pulang ke Pamekasan Madura. Uang sebanyak itu ia alokasikan untuk membeli bensin mobilnya sekitar Rp 1,2 juta. Sisanya ia persiapkan untuk oleh-oleh dan biaya hidup selama di kampung halaman.

Mudik! Aktivitas mahal ini tetap populer tiap kali akhir Ramadhan menjelang. Kampung halaman menjadi tujuan utama. Orang rela menghabiskan uang yang tidak sedikit sambil berdesak-desakan naik bus, kereta api, atau kapal laut untuk ketemu keluarga.

Sejak era Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi, mudik menjadi pemandangan lazim. Mereka rela berdiri antre berjam-jam untuk mendapatkan karcis dengan harga wajar. Maklum, saat musim mudik harga karcis kerap dinaikkan secara berlebihan.

Kampung halaman menjadi kerinduan yang terus dinanti. Karena di sanalah para pemudik mempunyai identitas diri. Di sana pula mereka bias merenung asal diri mereka. Tanah rantauan hanya menjadi tempat mencari nafkah, tapi kampung halaman adalah tempat kembali.

Tradisi mudik banyak menarik perhatian sejumlah penulis. Makna yang mendalam menjadikannya tak pernah kering untuk diulas. Budayawan Jacob Soemardjo dalam Tradisi Mudik Tradisi Primordial? Menuturkan bahwa secara historis mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa, yang sudah ada jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri.

Saat itu, mudik dilakukan untuk membersihkan pemakaman dan doa bersama untuk dewa-dewa yang dilakukan setahun sekali. Tujuannya, untuk memohon keselamatan kampung halaman. Namun sejak masuknya pengaruh Islam, tradisi mudik seperti ini berangsur terkikis, karena dianggap tindakan syirik. Maka aktivitas pulang kampung setahun sekali pun muncul lewat momentum Idul Fitri.

Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam bukunya Sedang Tuhan pun Cemburu (1994) menyatakan, orang beramai-ramai mudik itu sebenarnya sedang setia kepada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya.

Lebih jauh, budayawan Umar Kayam dalam Seni, Tradisi, Masyarakat (1981) mengungkapkan, ketika orang-orang desa memutuskan pergi ke kota dan menetap atau tinggal sementara, nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan dari miliu (lingkungan) kebudayaannya yang lama (desa) dikonfrontasi oleh nilai-nilai lain dari miliu yang baru (kota).

Artinya, mudik bisa terjadi karena sebelumnya ada proses urbanisasi akibat ketimpangan pembangunan antara kota dan desa. Kota selalu memiliki daya pikat bagi masyarakat desa yang ingin menaikkan taraf hidupnya secara cepat.

Tradisi Universal

Tradisi mudik, bukan monopoli masyarakat Indonesia. Di Amerika Serikat (AS) juga terjadi. Jika di Indonesia mudik berlangsung kala Idul Fitri, di negeri Paman Sam itu mudik dilakukan saat perayaan hari Thanksgiving (November) dan Natal (Desember).

Zaman dulu, masyarakat AS memiliki kebiasaan untuk mengucapkan terima kasih ketika panen mereka telah berhasil dengan baik. Tradisi inilah yang diejawantahkan pada perayaan Thanksgiving Day. Semua anggota keluarga, termasuk anak-anak yang sudah tinggal berpencar, berkumpul bersama, melakukan kenduri dengan hidangan daging ayam kalkun.

Sementara di Cina berlangsung kala tahun baru Imlek dan festival musim semi. Dua perayaan ini merupakan masa mudik terbesar bagi masyarakat negeri Tirai Bambu itu. Jutaan warga Cina dari seluruh penjuru dunia, akan berupaya pulang kampung untuk berkumpul bersama dengan sanak saudara selama 15 hari saat masa perayaan tahun baru.

Budayawan Sujiwo Tejo menyebut mudik sebagai kegiatan balik ke porosnya. Kehidupan manusia bisa diibaratkan kehidupan tata surya di angkasa. Semua mengitari kepulangan atau poros yang sama, yaitu matahari. Tapi, bersamaan itu, semua juga berlaku bagaikan satelit yang mengitari planet masing-masing, mengitari poros kepulangannya sendiri-sendiri.

Dari sisi teologis, KH. Hasyim Muzadi menyebutkan mudik menyiratkan makna terdalam dari proses penciptaan manusia oleh Sang Khaliq. Tradisi mudik tak lain adalah sebuah proses panjang perjalanan manusia menuju asal usul sejatinya, sang Pencipta.

Para pemudik senantiasa menyiapkan berbagai bekal yang akan dibawa pulang untuk diberikan kepada sanak saudara. Begitu pula ketika manusia akan pulang ke kampung akhirat akan membawa bekal yang akan disodorkan kepada sang Khaliq. Artinya, tradisi mudik juga merupakan sebuah latihan bagi manusia untuk pulang ke kampung sejatinya di akhirat.

Boks

Berkah Silaturrahim

Setiapkali lebaran, terminal bus, stasiun kereta dan bahkan pelabuhan dan bandara dipenuhi oleh calon penumpang. Jalan raya pantura macet total menjelang hari lebaran. Mau kemana mereka, dan

Apa sebenarnya yang dicari para pemudik dari tradisi mudik yang memaksa mereka berletih dan bersusah payah? Apa yang mendorong mereka rela melakukannya. Menurut Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, ada dua hal yang mendorong kekuatan mereka. Pertama, tradisi mudik lebaran sudah terjadi ratusan tahun. Dan sebuah tradisi pasti memiliki kekuatan luar biasa dalam menggerakkan aktivitas sosial. Dan tradisi juga menjadi benteng dari nilai-nilai budaya.

Kedua, tradisi mudik menjadi lebih kuat karena di dalamnya ada nuansa agama, yaitu silaturrahim. Dan karena manusia adalah makhluk sosial, maka dorongan untuk bertemu keluarga dan teman-teman lama di kampung halaman menjadi fitrah sosial yang mesti mereka wujudkan. ”Bagi santri, mudik menjadi bernuansa religius karena silaturrahim memang perintah agama,” tandas pakar psikologi Islam dan pengasuh Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) itu.

Menurut Mubarok, secara harfiah, silaturrahim artinya menyambung persaudaraan atau menyambung tali kasih sayang. Agama melarang jotekan atau marahan. Suami isteri yang sedang marahan, oleh Islam ditolerir hanya bolah terjadi selama tiga hari saja. Lebih dari itu, mereka diancam dengan dosa.

Sebenarnya, silaturrahim tidak terbatas untuk masa Idul Fitri saja. Setiap saat, kita dianjurkan untuk menebar salam, menebar silaturrahim. ”Dengan silaturrahim, fitnah bisa diredam, salah faham bisa terkoreksi, permusuhan bisa menurun,” imbuh Mubarok.

Menurut hadis Nabi, siaturrahmi mengandung dua kebaikan: menambah umur dan rezeki. Maksud menambah umur bukan bertambah tahun, tetapi makna usianya. Ada orang yang umurnya pendek, tapi makna hidupnya panjang. Sebaliknya, ada orang yang umurnya panjang tapi justru tak bermakna apa-apa.

Silaturrahim, imbuh Mubarok, akan menambah makna umur kita karena di dalamnya ada unsur perkenalan, publikasi, belajar, apresiasi di samping rezeki.

Silaturahmi juga bisa menambah rezeki, yang bisa berupa uang, makanan, persaudaraan, jaringan, pekerjaan, jodoh, pengalaman, ilmu dan sebagainya. ”Rezeki artinya semua hal yang berfaidah (kullu mâ yustafâdu),” tandas Mubarok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: