Introspeksi Diri

KH. Bahri As’ad, S.Pd.I

Banyak ujian, cobaan, musibah, bahkan mungkin adzab dari Allah SWT, telah dirasakan bangsa Indonesia. Mulai dari masalah ekonomi, bencana alam, tenggelamnya pesawat, tabrakan kereta api dan lain-lain. Kalau kita tidak berhati-hati dan tak lekas mengubah sikap kita kepada Allah, maka hal serupa tak mustahil akan terulang di masa mendatang. Sebab, tak ada yang bisa memberi garansi di dunia ini kecuali Allah.

Ujian dan cobaan dari Allah kepada umat manusia, baik menyangkut diri, keluarga, bangsa maupun negara adalah Sunnatullâh atau hukum Allah yang bisa terjadi kapan dan di mana saja. Bahkan hujan yang seharusnya menjadi nikmat Allah, bisa berbalik menjadi musibah atau adzab, manakala manusia tak mau mensyukurinya.

Untuk mengantisipasi cobaan itu, kita perlu mengetahui apa penyebabnya. Menurut al-Qur`an, ada tiga penyebab timbulnya adzab Allah. Pertama, karena perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah sudah merata bahkan menjadi kebanggaan di kalangan kita. “Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri setelah penduduknya sudah lenyap bahwa kalau kami menghendaki tentu kami adzab mereka karena dosa-dosanya.” (Qs. al-A’râf [7]: 100)

Kedua, kita tak pernah mengintrospeksi diri, apakah perbuatan kita sudah sesuai dengan aturan-aturan Allah atau justru menentangnya. Atau mungkin kita sering takabur kepada Allah, sehingga kita merasa aman dari adzab-Nya. Padahal orang yang merasa aman dari adzab Allah tergolong orang yang rugi (Qs. al-A’râf [7]: 97-99).

Ketiga, kita mungkin ingkar dan tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. “Apabila kalian bersyukur, maka akan Aku tambah nikmat kepada kalian. Namun apabila kalian kufur, maka siksa-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrâhîm [14]: 7)

Keempat, rusak dan hancurnya moral bangsa. Patut diingat, kejayaan suatu bangsa sangat erat terkait dengan moral dan budi pekertinya. Belajar dari kehancuran kaum Aad, Tsamud, Madyan dan lain-lain yang al-Qur`an ceritakan, menunjukkan kehancuran sebuah bangsa karena kerusakan moralnya. Mereka mendustakan Nabi Allah yang telah diutus, sebenarnya, untuk mengangkat derajat dan martabat mereka sendiri.

Tak salah kiranya penuturan Imam Syauqi, penyair kondang asal Mesir, ”Suatu umat akan jaya dan abadi bila akhlak dan budi luhur masih ada padanya. Sebaliknya, umat itu akan hancur bila akhlak dan budi luhur telah lenyap dari mereka.”

Untuk itu, agar kita terhindar dari cobaan dan adzab Allah, maka kita harus menghindari segala perbuatan amoral. Dengan memperkuat iman dan selalu meningkatkan kualitas takwa kepada Allah, berupaya melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, insyâ`llâh nikmat dan berkah dari Allah yang kita gapai tanpa putus. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. al-A’râf [7]: 96)

Atas segala musibah yang sudah terjadi dan kita alami, kita harus menyikapinya dengan sabar dan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: