Sembilan Wasiat Rasulullah (Bagian Pertama)

??????????? ?????? ??????? ??????? ???????????? ?????: ??????????? ?????????????? ??? ???????? ????????????????? ??????????? ??? ???????? ?????????? ?????????? ??? ???????? ??????????? ?????? ???????? ??????? ??????????? ?????????? ???? ??????????? ???????? ??? ??????????? ?????? ???????? ???????? ???????? ????????? ???????? ???????? ???????

“Tuhanku telah berwasiat kepadaku dengan sembilan perkara, dan aku wasiatkan kepada kalian (untuk melaksanakannya): Tuhanku berwasiat (1) agar aku berlaku ikhlas, baik secara tersembunyi atau terang-terangan; (2) agar bersikap adil, baik di saat ridho maupun marah; (3) agar bersikap sederhana, baik dalam keadaan kaya atau miskin; (4) agar aku memaafkan orang yang zhalim kepadaku; (5) agar aku memberi kepada orang yang mencekalku; (6) agar aku menyambung silaturrahim dengan orang yang memutuskannya; (7) agar aku menjadikan diamku untuk berpikir; (8) agar menjadikan bicaraku sebagai dzikir; (9) dan agar menjadikan pandanganku untuk mengambil i’tibar.” (Misykˆat al-Mashâbîh karya at-Tibrizi, Al-‘Aqd al-Farîd karya al-Andalusi, Al-Bayân wa at-Tabyîn karya al-Jahidh, dan Bahjah al-Majâlis karya Ibnu Abdilbar)

Sembilan Wasiat (Nine Commandments) yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya dan beliau sampaikan kepada umatnya ini, sungguh merupakan pedoman dan tuntunan hidup kita dalam segala aspek kehidupan. Kalau kita mampu mengimplemetasikannya dalam keseharian, sesuai kemampuan kita, insyâ`allâh kita akan menjadi manusia yang baik di sisi Allah SWT dan terhormat di mata makhluk-Nya.

Sembilan Wasiat itu dapat dikelompokkan dalam tiga buah trilogi. Trilogi pertama, berupa sikap ikhlas secara tersembunyi maupun terang-terangan, berlaku adil dalam keadaan rela ataupun marah, dan sederhana dalam keadaan kaya maupun miskin.

Pertama, al-ikhlâsh fis-sirri wal-‘alâniyyah (bersikap ikhlas secara tersembunyi atau terang-terangan). Al-Ikhlâsh (sincerity, surrender), artinya memurnikan segalanya hanya untuk Allah, memulai segalanya dari Allah, melakukannya karena Allah, dan mengakhirinya untuk Allah.

Lawan dari ikhlas adalah semua kondisi hati yang muncul dari maksud-maksud untuk selain Allah. Seperti riya` (berbuat karena ingin dipuji orang), ’ujub (bangga dengan diri sendri, atau merasa diri paling baik), dan lain sebagainya. Kedua sifat ini merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Bahkan Rasulullah menganggap riya` sebagai syirik ashghar (syirik terkecil) yang paling beliau takuti akan menimpa umatnya. Karena, kebanyakan syirik dalam segala bentuknya memang bersumber dari sifat riya`.

Dalam hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk senantiasa ikhlas dalam segala kondisi, tempat dan waktu. Ketika sendirian, mungkin kita bisa bersikap ikhlas dengan mudah, karena terhindar dari sifat riya` atau pamer. Tapi, kita harus tetap hati-hati dengan sifat ‘ujub yang sering muncul di dalam hati secara diam-diam.

Sementara ketika kita berada di tempat terbuka atau bersama orang-orang lain, kita sering kesulitan untuk bersikap ikhlas yang sebenarnya. Karena penyakit-penyakit hati, terutama riya`, akan begitu mudah muncul dalam hati kita tanpa kita sadari pada suasana yang demikian. Na’ûdzubillâh.

Kedua, al-‘adl fir-ridhâ wal-ghadhab (berlaku adil dalam keadaan rela ataupun marah). Al-‘adl (justice, fairness), artinya bersikap seimbang, sama, dan fair terhadap dua objek yang bertolak belakang. Atau, meletakkan sesuatu pada tempatnya sesuai porsi dan proporsinya.

Lawan dari adil adalah zhalim (injustice), yang berarti aniaya kepada diri sendiri atau orang lain, dan sikap-sikap yang menjurus pada ketidak-adilan. Seperti tirani, sewenang-wenang, memihak, merampas hak-hak orang lain, dan lain sebagainya. Dalam Islam, keadilan menempati posisi yang sangat sentral dan strategis, serta menjadi substansi ajarannya, terutama dalam aspek kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Jika ada agama yang menjadikan kasih sebagai inti dari ajarannya, itulah Islam. Tapi, kasih dalam kehidupan pribadi, apalagi sosial, bisa juga berdampak negatif. Seperti seorang hakim yang suka tak tega menghukum penjahat karena latar belakang kasih atau sayangnya kepada si penjahat.

Padahal, keadilan yang ditegakkan dengan sebenar-benarnya pasti mengandung kasih. Tapi kasih, apalagi berlebihan, justru kerap bertolak belakang dengan keadilan dan rasa keadilan. Dalam hal ini al-Qur`an memerintahkan kita untuk selalu bersikap adil, hingga kepada diri sendiri, kedua orangtua, dan keluarga dekat kita (Qs. an-Nisâ` [4]: 135). Bahkan, kita diperintahkan untuk tetap bersikap adil kepada musuh-musuh kita, sekalipun kita tak suka kepada mereka (Qs. al-Mâ`idah [5]: 8).

Dalam hadits di atas, kita juga diperintahkan untuk selalu bersikap adil dalam segala situasi dan kondisi, kepada apa dan siapa saja. Baik di saat ridha (suka, senang, like), maupun ghadhab (marah, tidak suka, dislike).

Sikap ridha, biasanya muncul karena adanya hubungan kekeluargaan atau persahabatan, kepentingan tertentu baik pribadi atau kelompok, bahkan karena adanya unsur sogok menyogok (risywah). Sementara ghadhab, biasanya muncul karena adanya penyakit-penyakit dalam hati (ghillun fil-qalb), seperti dendam, iri hati, hasad, dan lain-lain.

Berlaku adil dalam keadaan ridha, sama sulitnya dengan berlaku adil dalam keadaan ghadhab. Karena itu, seseorang yang sedang terlibat suatu masalah, atau dikuasai oleh nafsu like or dislike, sebaiknya tidak menjadi hakim. Karena ia rentan menjurus pada kezhaliman dan ketidak-adilan.

Ketiga, al-qashd fil-ghinâ wal-faqr (sederhana dalam keadaan kaya atau miskin). Al-Qashd (sederhana, simplicity), artinya bersikap apa adanya, tidak berlebihan dan sesuai dengan kebutuhan. Lawan dari kata ini adalah ta’addî, tajâwuz, exceeding, overleap, atau bersikap berlebihan atau melampaui batas-batas kebutuhan dan kewajaran.

Secara tersirat, dalam al-qashd, sebenarnya terkandung makna adil untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai dengan porsi dan proporsi. Sekedar contoh, untuk memenuhi kebutuhan atau menjalankan tugas sehari-hari, sebenarnya kita hanya memerlukan satu buah mobil. Tapi karena kaya, kita justru membeli tiga atau empat mobil sekaligus, dengan alasan yang terkesan dibuat-buat (artifisial).

Dalam posisi ini, kita tak lagi disebut sederhana. Karena kita sudah melakukan pemborosan (tabdzîr), bahkan kesombongan (takabbur). Sebaliknya, jika tanpa mobil, umpamanya, kita tak mungkin bisa menjalankan tugas-tugas dengan baik, tapi kita tetap tak mau membelinya, padahal kita mampu. Kondisi ini membuat kita terjerumus kepada derajat kikir.

Dalam al-Qur`an disebutkan, ”Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu (terlalu kikir), dan jangan pula mengulurkannya seulur-ulurnya (terlalu pemurah), sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Qs. al-Isrâ` [17]: 19)

Allah dan Rasul-Nya juga menyuruh kita untuk bersikap sederhana, baik dalam keadaan kaya yang berkecukupan dan berkuasa, ataupun miskin yang berkekurangan dan tidak berkuasa. Untuk bersikap sederhana dalam keadaan miskin, memang tidak terlalu sulit. Tapi harus disadari, tak sedikit orang miskin atau pas-pasan, namun cara hidupnya boros dan berlebih-lebihan.

Sebaliknya, dalam keadaan kaya, bersikap sederhana mungkin agak sulit. Karena dengan kekayaan, seseorang cenderung berpeluang untuk hidup berlebihan atau berfoya-foya. Orang kaya yang paling arif dan bijaksana adalah yang dengan penuh kesadaran memilih untuk hidup sederhana dan menampakkan kesederhanaan dalam segala aspek kehidupannya.

Kiranya tepatlah apa yang dikatakan para Ahli Hikmah, “Orang yang paling celaka adalah orang miskin yang hidupnya berfoya-foya. Dan orang yang paling bijaksana adalah orang kaya yang hidupnya sederhana.”

Jelasnya, sederhana bukan berarti pasrah atau menyerah pada nasib. Tapi, sederhana adalah pilihan sikap batin yang bersumber dari kesadaran hati dan mengandung semangat atau optimisme untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Trilogi pertama (ikhlas, adil dan sederhana) memang merupakan suasana batin yang harus melahirkan keyakinan dan komitmen yang kokoh dalam hati kita. Tapi pada saat yang sama, kita harus bisa membuktikan ketiganya dalam prilaku dan budaya kita sehari-hari.

Semuanya ini akan memiliki “nilai tambah” yang signifikan dan determinan, kalau bisa dilakukan oleh kalangan yang saat ini sedang menerima amanat khusus dari Allah. Baik amanat kekuasaan bagi para umarâ` (penguasa), atau ilmu pengetahuan bagi para ulama/cendikiawan, maupun kekayaan bagi para aghniyâ` (hartawan).

Karena, mereka inilah tiga pilar tegaknya kehidupan dunia, untuk mencapai kebahagian di akhirat kelak, selain dukungan, simpati dan doa-doa para grass roots (kaum fakir dan rakyat kecil). Wallâhu A’lam wa Ahkam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: