H. Bimada: Terus Berinovasi

Berkah menyeimbangkan antara bekerja dan ibadah, H. Bimada berhasil membangun Bakmi Raos dari tiga gerobak menjadi ratusan gerobak yang tersebar di sebagian besar kota di Indonesia.

Bisnis makanan tak akan ada habisnya. Kecenderungan dan kebutuhan masyarakat terhadap produk makanan akan terus meningkat, sejalan peningkatan kemampuan dan kesejahteraan ekonomi. H. Bimada pemilik merk usaha Bakmi Raos merasakannya.

Namun, untuk sukses di bidang makanan butuh perjuangan dan pengorbanan. Peraih Djie Sam Soe Award tahun 2006 sebagai pengusaha UKM terbaik Indonesia pun harus merasakan jatuh bangun menjalani bisnisnya. Namun, berkah dari keyakinan dan jiwa entrepreneur dirinya, Allah SWT membuktikan bahwa sikap pantang menyerah bisa menjadi kunci sukses usahanya.

Mengusung bendera PT Raos Aneka Pangan, yang kemudian menjadi wadah Bakmi Raos Group, Bima memulai usaha pada 2003. Ia ingin menyediakan makanan yang bermutu dan terjangkau secara harga oleh semua lapisan masyarakat. Di samping menciptakan lapangan pekerjaan bagi para pedagang kecil kaki lima yang ingin sukses bersama.

“Berani Diadu Rasanya” begitu moto usaha Bima menantang persaingan dengan bakmi lain. Ia sadar, persaingan bisnis dalam bidang ini cukup berat, maka agar para pelanggan benar-benar menikmati dagangan berkualitas, ia harus menyajikan dagangannya semenarik mungkin.

Bakmi Raos bagi Bima, bukan hanya sarana berbisnis. Ada semangat spiritual yang turut mewarnai tumbuhnya bisnis ini. Bima ingin usahanya menjadi paduan ibadah dan bekerja, serta menciptakan lapangan kerja yang membantu pengentasan kemiskinan, khususnya masyarakat kecil.

Karenanya tak heran jika Bakmi Raos mengusung visi menjadi pemimpin dalam usaha makanan dengan membangun manusia yang bertakwa kepada Allah yang semuanya didasari dengan semangat kerja keras dan disiplin tinggi. ”Ibadah jangan sampai dilupakan meski bekerja,” tegsa Bima.

Bagi Bima, rahasia nomor satu sukses bisnisnya ini adalah karena peran Allah. Karena itu ia pancangkan niat dan tujuan yang benar saat berbisnis. Namun niat saja tak cukup, tapi memahami apa yang dilakukan. Tanpa itu, tak mungkin mengembangkan bisnis jika tak paham dengan produk sendiri. Setelah itu, baru membangun network (jaringan) bisnis dan mengembangkannya.

Bagi Bima, tak kalah penting untuk melakukan ikhtiar. Bentuknya berupa berani mencoba dan pantang menyerah. Kalau ada kegagalan, harus dianalisa untuk kemudian dicoba lagi. ”Resepnya inovasi dan diferensiasi produk. Baru kemudian membangun merk,” paparnya.

Lirik Peluang

Ide Bima melakoni bisnis mie, karena ia melihat ada banyak peluang dalam bisnis pedagang kaki lima. Ia pernah melihat pedagang dengan pendapatan luar biasa. Sehari keuntungan bisa mencapai Rp 4 juta. Ia berpikir, ”Kalau saya bisa mendapat untung bersih 200 atau 500 ribu rupiah saja dengan satu gerobak, bisa dihitung berapa akan saya dapatkan kalau punya seratus, apalagi seribu gerobak.”

Mengapa bisnis makanan yang ia pilih? Bima menjelaskan, makanan sarat dengan inovasi, dan bisnis ini tak akan pernah mati. Selama orang hidup, pasti masih membutuhkan makan, dan mie merupakan makanan kedua setelah nasi. Karenanya, peluang makanan ini sangat besar, meski penjualnya juga banyak.

Setelah menekuni beberapa tahun, konsep Bakmi Raos yang awalnya dijajakan di gerobak dorong, terus ia ubah. Alasannya, kalau memaki gerobak dorong, harga jual harus sudah dipatok. Sementara jika berdagang tetap di suatu tempat, harga jual bisa naik. Selain itu, tak mudah mengatur pedagang yang mobile (bergerak), apalagi mengontrol kualitas dan layanannya. ”Sekarang kami berada pada sektor agak menengah. Gerobak sudah tidak ada. Semuanya menetap,” ujarnya.

Jatuh Bangun

Bimada sosok yang ulet menapaki karir bisnis dari tangga terbawah. Awalnya ia menjadi pekerja di sebuah perusahaan freight forwarder di bilangan Jakarta Utara. Namun setelah mengetahui istrinya mengidap penyakit kanker, ia putuskan untuk mengubah arah hidupnya. “Saya ingin punya lebih banyak waktu untuk mengurus istri,” begitu ceritanya.

Tahun 2002 ia mulai mencoba berbisnis dengan membeli franchise restoran bakmi bersama kakaknya. Langkah pertamanya langsung tersandung. Restoran franchisenya bangkrut dalam tempo setahun.

Gagal di franchise, ia membuka gerobak mie ayam di Villa Bintaro, Jakarta Selatan. Usaha ini dalam tiga bulan juga bangkrut. Padahal ia sudah ikut kursus membuat mie di beberapa tempat. Meski gagal, ia masih memikirkan usaha sejenis. “Saya memang ingin memiliki usaha makanan,” katanya.

Suatu waktu, seorang teman menawarinya resep membuat bakmi. Resep inilah yang menjadi cikal bakal Bakmi Raos. Setelah merasa cocok, Bima merekrut orang yang mau berjualan bakmi dengan gerobak.

Mulanya tiga gerobak ia buat dengan modal Rp 10 juta, dengan sistem bagi hasil usaha. Dari harga Rp 6.000 per mangkuk yang terjual, ia mendapat margin Rp 1.500 per mangkuk, dan pedagang Rp 1.000. Jika sehari 40 mangkuk bakmie terjual, maka dan dalam sebulan (dihitung 25 hari kerja), maka si pedagang bisa mendapatkan uang Rp 1 juta.

Ini tentunya cukup menggiurkan pedagang. Apalagi telah diberi fasilitas penginapan dan uang makan. Pendapatan si pedagang pun akan utuh.

Pola usaha itu terus berkembang. Dari hanya tiga gerobak, bertambahlah menjadi sepuluh. Dalam tempo setahun, Bima sudah memiliki 193 gerobak. Jumlah pedagang yang dilatihnya mencapai 700-an orang. Sayangnya, sejalan waktu sebagian besar pedagang itu mengundurkan diri. ”Kualitas jiwa wirausaha bangsa ini memang sangat lemah,” katanya.

Para pedagang kecil yang ia bina berasal dari Cirebon, Sukabumi dan wilayah lainnya. Semua diberi penginapan, tapi sebagian dari mereka justru hanya numpang tidur dan memilih berjualan rokok di kawasan Blok M.

Akhirnya model ini tak bertahan lama. Bima pun memilih untuk membangun usaha secara profesional, tanpa mengandalkan para pedagang yang tidak serius. Kemudian produk bakminya ia waralabakan.

Bima membangun pola kemitraan. Dengan pola ini, ia tak lagi perlu menggaji mitranya. Mereka cukup membeli mie dan minyak goreng dari Bima plus gerobak yang ia rancang. Kemitraan ini terus berkembang hingga menghasilkan jaringan mitra di mana-mana.

Ketika model bisnis franchise makanan kian menjamurnya, Bima pun menambah varian produknya. Ia hadirkan masakan dengan nama Bakmie Mada. Produk ini menyajikan tiga makanan dalam satu gerobak, yakni mie ayam, bakwan Malang dan siomay Bandung. Untuk produk ini, Bima mematok harga Rp 25 juta untuk investasi.

Bukan Bima jika tak berinovasi. Ia pun kini mulai merambah makanan terkenal asal Madura, yaitu sate. Untuk produk ini, ia memberi nama brandnya Sate Sambas. Di dalamnya juga ada tiga makanan dalam satu gerobak, atau 3 in 1. Yaitu sate, soto dan es campur. Biaya investasi produk ini mencapai Rp 28 juta. (Fathurroji NK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: