Edisi 4 – Belajar Mengalah

Pemilihan Presiden (Pilpres) sudah lewat. Ada yang puas, ada pula yang kecewa dengan hasil yang mengemuka. Seperti biasa, mental pecundang ala bangsa ini masih terlihat. Yaitu ketidaksiapan untuk kalah. Kebanyakan kita hanya menyiapkan diri untuk menang, dan selalu menolak untuk kalah.

Ibarat pertandingan olahraga, Pemilu tak beda menghasilkan pihak kalah dan menang. Hanya saja kaum olahragawan lebih dewasa menyikapi kekalahan dibanding kaum politisi. Para politisi atau simpatisan dan pengagum tokoh Capres atau Cawapres, masih jarang memiliki mental baja seperti para olahragawan yang mereka dapatkan berkat latihan dan rutinitas bertanding.

Bagi olahragawan, kalah bukan untuk menjadikan diri dipresi atau malu, tapi kalah adalah bekal dan alat introspeksi diri, atas kekurangan pribadi atau tim mereka.

Budaya mencari kambing hitam serasa sangat membumi pada bangsa ini. Pihak yang kalah Pemilu atau Pilpres, selalu saja tak henti mencari yang patut dipersalahkan. Negara yang telah merdeka 64 tahun pada 17 Agustus besok, tapi lamban sekali kemajuannya, selalu saja penjajah Belanda atau Jepang yang dipersalahkan.

Padahal kasatnya, mentalitas bangsa kita untuk mengakui kesalahan dan kekalahan adalah penyebab utama lambannya kita untuk maju. Karena tanpa mau mengaku salah atau kalah, tak akan pernah ada instrospeksi diri guna menggapai perbaikan dan kemenangan di kemudian hari.

Inna ma’al-‘ushri yushrâ. Di balik kesusahan pasti ada kemudahan. Kesusahan hati akibat kalah pemilihan, pasti membawa hikmah kemudahan di kemudian hari, asal dibarengi introspeksi diri. Jâhid wa lâhidz takun ‘ârifan, kata sebuah pepatah. Berjuang dan cermati segala sesuatu, niscaya kita akan tahu. Mencermati dan mencari tahu kesalahan diri sendiri, pasti akan membuat diri kita tahu kapan dan bagaimana kita akan menang kelak.

Agar bangsa ini dapat bangkit dari “tidur” yang cukup lama dan terus terpuruk dalam ketertinggalan dari bangsa lain, tak ada jalan kecuali mengubah diri menjadi bangsa yang mau mengintrospeksi diri. Bukan malah suka salah menyalahi.

Mari belajar dari John McCain, rival Capres yang dikalahkan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Dalam pidatonya, saat menyampaikan ucapan selamat pada lawannya yang terpilih sebagai pemenang, Senator McCain dengan bijak mengatakan: “A while ago, you are my opponent, but now you’re my president.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: