Edisi 7 – Reformasi Jilid Dua

Sejak digelarnya sidang sela Mahkamah Konstitusi (MK) yang memperdengarkan rekaman sadapan telepon yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membuktikan rekayasa kriminalisasi dua ketua non-aktifnya (Bibit Samad Riyanto dan Chandar M Hamzah) oleh oknum-oknum yang tidak berperadaban, drama kenegaraan pun dimulai.

Bagai hembusan badai di gurun berpasir, debu menempel di mana-mana, yang sedikit demi sedikit bias oleh terungkapnya skenario lanjutan dari drama itu. Lebih dari 1 juta facebooker (pencinta dan pengguna jejaring facebook di internet) menyatakan dukungannya untuk menyelamatkan lembaga yang oleh banyak masyarakat dianggap sebagai “setengah dewa” karena mampi memberi setetes air segar di musim kering ruwetnya upaya pemberantasan korupsi di negeri ini.

Lanjutan drama lebih menyesakkan. Selasa (10/11) publik kembali dikagetkan oleh pengakuan tak terduga Kombes Williardi Wizard, saksi kunci kasus pembunuhan Nasaruddin Zulkarnaen yang didalangi Antasari Azhar, mantan ketua KPK.

Dengan penuh emosi Williardi menyatakan, ia telah dipaksa mengkriminalkan Antasari. BAP kedua yang ia tandatangani diakuinya sebagai kebohongan, dan rekayasa untuk menjebloskan Antasari ke balik jeruji.

Seorang rekan wartawan yang meliput langsung jalannya persidangan sontak mengirim SMS secara jamaah ke semua teman-temannya: “Pengakuan Williardi hari ini bikin merinding! Kita benar-benar berhadapan dengan BUAYA! Allahumma arinal-haqqa haqqa warzuqnath-thibâ`ah!” Allah Maha Besar! Teriak Antasari menerima bukti kebenaran penzhaliman dirinya.

Sebagai rakyat biasa yang tidak selevel dengan ketokohan Antasar, Bibit, dan Chandra, tentu kita akan gundah: Mereka yang tokoh publik saja bisa dikriminalkan seperti itu, apalagi kita yang tiada kuasa?

Sungguh menyakit menonton drama ini. Tapi kita patut bangga, karena kita menjadi penyaksi sejarah bahwa kemenangan kebenaran bukan hanya ada di film-film aksi hero (jagoan) saja. Kebenaran pasti akan datang di mana saja, hanya menunggu waktu. Begitu janji Allah SWT.

Harapan rakyat jelata hanya keadilan dan kebenaran yang ditegakkan tanpa mengenal kapital (modal). Bukan kebenaran borjuisme yang bisa “direkayasa” berdasarkan deal pemodal yang bebas membuat skenario absurd demi kepentingan sepihaknya.

Drama kenegaraan ini menjadi fakta bobroknya mental dan moral para penegak hukum yang menjadi pengabdi “uang”, bukan pengabdi rakyat. Mental koruptif tak dapat dipungkiri telah menjadi “karakter” banyak kalangan pejabat dan penegak hukum.

Menjadi tak salah kiranya jika berpuluh-puluh tahun lalu Bung Hatta membuat pernyataan yang kontroversial kala itu: “Korupsi sudah menjadi budaya bangsa Indonesia!” Terbukti sekarang, mental koruptif bukan lagi hanya telah menjadi karakter bangsa, tapi budaya.

Drama kenegaraan yang memenuhi ribuan halaman media cetak, jam tayang dan siaran televisi maupun radio, telah membuka harapan akan terjadinya era Reformasi Jilid Kedua di Indonesia. Reformasi pertama 1997 lalu, berkat people power mampu melengeserkan tirani rezim Soeharto. Kini akan merambah reformasi ranah hukum dan penegakan hukum, baik dalam kepolisian maupun kejaksaan. Semoga! (v2x)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: