Shumeiy

Nurul Hasan

Setiap hari, perempuan itu mandi bersama senja. Sebab, ia demikian mencintai senja. Senja di Jembatan Tenggulang sederhana. Tenggulang. Tidak senja yang lain. Tidak senja di Tanjung Pesona. Tidak di Bedukang. Tidak senja di Tanjung Kelian. Tidak juga di Bukit Tigris. Apalagi yang selalu rebah terhampar di Pelabuhan Balam mempesona.

Senja indah tersebab erotis dan menawan. Perempuan itu hanya mencintai senja di Jembatan Tenggulang. Jembatan bernilai rasa yang demikian menyatu dengan hatinya. Serupa air terjun dengan beriaknya. Seperti bunga dengan tangkainya.

Seketika matahari mulai merona merah di ufuk barat, bertanda merayu akan malam kelam. Perempuan berusia dua puluh empat tahun itu, seakan tak mampu menahan gerak kakinya, yang terus saja berlari melewati jalan setapak tepat di belakang rumahnya, menuju jembatan berharga yang sempat menyepat asa di hati. Shumeiy, perempuan jelita itu.

Seperti ada yang memanggil-manggil namanya. Seakan ada magnet yang kuat menarik perasaan. Juga seluruh jasadnya untuk segera bergegas pergi, lalu datang ke muka jembatan kenangan. Jembatan Tenggulang.

Sesampainya ia di muka jembatan, matanya berbinar-binar memandangi sekujur tubuh jembatan tua yang seraya mengaliri aliran sungai di bawah badannya, seolah tengadah penuh gairah.

Bibirnya merekah merah menyambut senja di langit biru yang ranum, seraya menyiratkan semburat senyum yang demikian erotis nan menawan. Ia seperti tergila-gila, ingin segera menghamburkan kata-kata. Dan takluk bersama senja. Senja di Jembatan Tenggulang tua.

Tidak ada senja yang dilewati. Sejak jembatan itu mulai berarti bagi perempuan keturunan Tionghoa bermata sipit itu. Itulah kehidupannya yang pasti. Shumeiy, selalu saja berinjak kaki di muka jembatan tua ini. Setiap senja kini menyapa kembali pada ufuk barat langit biru. Jembatan ini begitu berarti, sehingga Meiy, panggilan akrab Shumeiy, tidak pernah absen walau sesenja saja. Berarti sedemikian jadi.

Sungguh berarti.

Seketika Meiy, melontarkan kata-kata, melemparnya jauh di muka.

“Ugh… ini adalah kunjunganku pada kesekian kalinya, namun mengapa ia…,” teriak histeris Meiy berarti.

“Aku telah demikian bosan. Aku tidak sanggup memecah kerisauan ini, kalau harus selalu dengan air mata. Juga rangkaian kata-kata. Aku tidak sanggup…!” tambah Meiy, seraya bulir-bulir lembut di matanya terpecah mengalir di relung-relung pipi jelita nan menawan. Pipi Meiy. Pecahan air mata itu, indah berkilau. berkelip bagai mutiara, sesegar embun pagi. Menyejukkan.

Kali ini, Shumeiy atau Meiy itu, kian meronta. Melempar kata tanpa yang pasti. Berantakan. Histeris teriaknya sering kali pecah, membaur bersama beriak air. Pecah bersama air mata sayu itu. Tangisannya nanar, sungguh demikian berarti pada setiap denyut nadi.

Demikian berarti. Berarti.

Aku makin tidak mengerti saja, apa yang terjadi pada perempuan Tionghoa ini.

“Amboy, amoy cantik tersusah,” cetusku dalam hati.

Shumeiy, sedikit menyiratkan bahagia pada akhir-akhir ini. Namun, muram kelam selalu saja mengumbar semangat. Mengembara pada secumpuk wajah jelita Amoy lemboy itu. Shumeiy.

Pada senja ini, Meiy telah demikian banyak melempar kata. Mengumbar nafsu. Juga memecah air mata. Lalu berjalan terarah hilir mudik.

“Di mana kau? Aku demikian haus akan hidupku. Mengapa kau belum juga hadir pada pandangan mata ini, mengapa?” ucap Meiy di sela-sela langkah gontai kakinya yang mulai tampak lemah. Mungkin telah kelelahan. Sangat lelah. Matanya sudah sayu, maki kecil saja. Bengkak.

Air mata tak dapat keluar lagi, walau hati meronta-ronta sejadi-jadinya. Tanpa terasa malam sudah mulai menerkam kelam. Matahari yang tadi memerah di ufuk barat itu telah lenyap. Berganti cahaya si satelit bumi. Bulan. Mulai merangkak.

Dan akan menemani malam seumur hidup kelam sejati.

Shumeiy, Amoy cantik jelita itu pun pulang. Melangkahkan kaki gontai semampunya. Pulang dengan penuh kepuasan. Dengan senja yang telah direngkuhnya di dadanya. Senja yang telah megembara dalam pikirannya.

Senja yang demikian berarti.

Di senja berikutnya, saat matahari serupa biasanya. Amoy cantik nan jelita itu kembali meretas jalan setapak belakang rumahnya, untuk menuju jembatan berarti itu. Jembatan Tenggulang

Shumeiy, perempuan senja keturunan Tionghoa itu, melangkahkan kakinya dengan tetap gontai, tampak begitu kelelahan.

Kali ini, penampilannya sedikit menarik. Dengan pakaian kebesaran wanita Tionghoa. Dengan rambut tergerai tampak tak terurus. Mata sayu dengan pandangan tertuju pada suatu arah, ke depan. Dengan kaki telanjang, putih mulus.

Itulah Meiy atau Shumeiy lengkapnya. Ini merupakan kunjungan kesekian kalinya. Tentu ia akan mandi bersama senja lagi. Dan pastinya senja yang selalu rebah di jembatan Tenggulang berarti.

“Meiy, kamu mau ke mana?” tanyaku. Akhirnya pertanyaan yang berhari-hari lalu, telah aku kuburkan dalam rahang mulutku, keluar dan tumpah, tepat di mukanya.

“Tidak, ” jawabnya menggantung.

“Tidak apa, Meiy?” balasku.

“Sungguh tidak, bukanlah apa-apa,” jelas Meiy.

“Aku tahu Meiy, kau selalu bermandi senja. Senja yang selalu turun di jembatan tua. Jembatan Tenggulang itu,” ungkapku.

“Dari mana kamu tahu itu?”

“Aku selalu menyaksikan kamu, saat kamu melewati bibir ladangku, Meiy.”

“Iya. Jembatan itu demikian berarti bagiku,” seraya bulir-bulir lembut bening di matanya itu terpecah, mengalir di antara rangkaian kata-kata yang teracik di bibirnya yang indah itu. Lalu aku pun diam, membiarkan kakinya terus melangkah demi merengkuh senja di Jembatan Tenggulang itu kembali.

Aku tidak mampu mendengar penjelasannya tentang kenapa Jembatan itu demikian berarti di hatinya. Biarlah aku tahu dari kerabatnya saja, karena sungguh aku tidak kuasa mendengar desahan nafasnya. Saat ia meracik kata-kata, hingga melemparnya ke mukaku.

Shumeiy pun terus melangkah, membawa dirinya pada jembatan yang sebentar lagi akan merengkuh senja.

Histeris sekali.

“Meiy, Meiy,” desahku.

Lalu ia pun lenyap dari kuasa penglihatankku. Tiada meninggalkan asa, kecuali bekas kaki. Mulus telanjang miliknya. Juga aroma harum tubuhnya. Harum sekali.

SSA, 12 April 2009

Nurul Hasan, Santri kelas V TMI Putra asal Bangka Belitung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: