Refleksi: Setelah Muda

Ade M Suhendar

Ada saja cara orang untuk sekadar mendeskripsikan masa mudanya. Kakek-nenekku, paman-pamanku, sampai sastrawan sekaliber WS Rendra pun bercerita tentang masa mudanya dengan kaca mata berbeda. Pahit-manis hidup yang mereka kecap, selalu menjadi dua sisi harmonis yang mengesankan bagi mereka.

Aku yang masih muda, juga berpikir bagaimana jika menjadi tua. Pertanyaan-pertanyaan tak karuan tentang hari tua, berseliweran tanpa harus aku minta untuk datang. Walaupun aku juga berpikir semua orang di atas, baik kakek, WS Rendra dan semuanya, berkisah tentang masa mudanya setelah mereka tua.

Muda atau tua. Dua kata yang menyimpan dinamika hidup. Persoalannya, apakah kita akan membiarkan masa muda sebatas lintasan sejarah menuju masa tua? Bayangkan, jika kita menghabiskan masa muda, tapi tak meninggalkan kisah kenangan sedikit pun. Artinya, jika kita membiarkan masa muda berlalu begitu saja, maka masa muda tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali formalitas fase hidup.

Menarik membahas masa muda, karena aku merasa tua, kerap khawatir terhadap anak-anaknya yang hidup pada masa muda. Hal ini bisa kita lihat bagaimana mereka memberi batasan-batasan ketat terhadap tindakan dan perilaku kita di masa muda.

Alasan mereka singkat “Jangan sampai kegagalan yang pernah kami lakukan di masa muda terulang lagi.” Hal ini tentu cukup beralasan, walaupun sebenarnya kita tidak cukup berlapang dada menerimanya.

Pertanyaannya sekarang, bukankah kegagalan dilakukan oleh mereka yang tua, lantas kenapa mereka mewariskan kegagalan ini kepada kita yang masih muda dengan melarang kita untuk berbuat lebih, dan berusaha mencoba sekali lagi kesuksesan yang tidak sempat mereka capai. Untuk menjawab ini semua, mari kita cooling down dahulu.

Dalam proses cooling down, aku buat peta pertanyaan sebagai berikut: Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (MA), pernahkah kita mempergunakan separuh waktu sekolah untuk belajar dan tidak main-main ketika sekolah? Sebab, kadangkala ketika seorang guru menjelaskan sesuatu, kita malah asyik menggambar sebuah mobil atau asyik mengobrol dengan teman sebangku.

Pertanyaan berikutnya, apakah kita sempat merencanakan masa depan, jauh hari di saat masih muda? Misalnya membuat peta cita-cita dan impian di hari tua.

Jika pertanyaan tersebut sudah dijawab dengan dhamîr, qalbu, barulah diketahui, apakah kita seorang penerus kegagalan, atau akan merubah kegagalan masa muda orang-orang muda terdahulu, menjadi harapan esok hari.

Ade M Suhendar, santri kelas VI TMI Putra Al-Amien Prenduan, asal Sukabumi Jawa Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: