Matikan TV-mu!

Luthfi Andi Zulkarnain

Anak-anak memang seharusnya banyak dibahas di seluruh zaman. Karena mereka  adalah generasi yang akan menggantikan peran generasi sebelumnya. Permasalahnnya pun tidak melulu sama, berbeda pula pemecahannya.

Apa yang terjadi dengan anak-anak di zaman ini? Jawabannya; anak-anak keselong, disembunyikan makhluk halus jiwanya.

Kira-kira begitulah gambaran anak-anak sekarang. Jiwa anak-anak telah hilang. Anak-anak kita berubah. Sesuatu mencurinya, lalu mengembalikannya setelah diracuni. Anak-anak sekarang adalah pencuri, pengedar dan pemakai narkoba, penonton film porno, bahkan pelaku pesta seks di kelas. Semua pekerjaan yang sebenarnya juga tidak pantas untuk dilakukan orang dewasa.

Mereka melawan orang tua, guru, dan tak jarang berpendapat bahwa dirinya yang paling benar. Mereka menganggap dirinya telah dewasa, dan siap menghadapi masa depannya sendiri. Bahkan, anak-anak sekarang bekerja memikul nafkah keluarga. Asal tahu saja, anak-anak juga lebih banyak hafal lagu dewasa.

Banyak juga yang bercerita, bahwa anak-anak adalah tukang belanja, gila baju baru, suka makanan aneh yang tak jelas namanya. Yang penting gengsi harus tinggi.

Anak sekarang memang beda dengan anak zaman dahulu. Makhluk halus sekarang juga tak sama. Televisi lah pelakunya, yang mencuri jiwa-jiwa orisinil anak kita. Lalu menukarnya dengan jiwa-jiwa bermental uang, baju bagus, kekuasaan dan senang-senang tanpa memikirkan masa depan.

Kita kaget, tentu saja. Tapi semua itu benar. Televisilah yang menayangkan berita-berita kriminal, yang mengajari anak-anak kita untuk berani melakukan tindakan-tindakan kekerasan, mencuri dan merugikan orang lain.

Televisi menyajikan sinetron-sinetron bertema cinta, harta, hayalan dan kekuasaan yang terkesan klise. Melakukan segala cara untuk menang, tokoh baik selalu ditindas, banyak menangis dan lain sebagainya. Anak-anak juga belajar bahwa penampilan adalah segalanya; pakaian mahal dan bagus, kulit mulus dan yang penting gaul. Lebih bagus lagi malah, kalau sampai diidolakan.

Kita sering tidak sadar, banyak ditemukan unsur kental seksualitas. Tercatat dalam sebuah penelitian, sikap berpakaian tidak senonoh 49 % dari 196 pemunculan, merayu 14 %, merangkul 11 %, menatap penuh hasrat terhasap lawan jenis 11 % (republika, 30 desember 2005).

Menonton TV adalah keputusan untuk menjadi pasif. Kita diam dan menunggu TV memasukkan banyak informasi dengan bebas. Kita memang bias menolak dan menyeleksi. Tapi anak-anak belum tentu siap untuk itu.

Televisi tidaklah salah, menontonnya atau jadi artis juga pilihan. Tapi kita telah terlalu berlebihan mendewakannya. Tak sadar memposisikannya sejajar makan dan pakaian.

Matikan TVmu! Istirahatkan sebentar saja. Tuntun anak-anak kembali ke fitrahnya. Batasi untuk tayangan yang jelas-jelas bermanfaat, tanpa kita lepas mendampinginya.

Luthfi Andi Zulkarnain, Mahasiswa IDIA Prenduan Fakultas Tarbiyah asal Lumajang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: