Fokus Utama: Bulan Syawal, Awal Sebuah Momentum

Kholisuddin

Trainning Diri di Bulan Ramadhan

Ramadhan telah meninggalkan kita. Artinya ladang yang subur dan menghasilkan panen yang berlipat ganda dari Allah swt telah usai. Begitu juga satu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan yang disebut ‘lailatul qadar‘ tidak akan pernah kita temukan lagi di bulan-bulan lainnya.

Maka, pantas saja Rasulullah saw. menyatakan barang siapa yang mengetahui akan rahasia kebaikan yang terkandung di bulan Ramadhan, maka dia akan berharap sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan. Wajar saja jika seorang hamba Allah telah yakin akan nilai dan isi yang terkandung di bulan Ramadhan merasa sedih ketika bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkannya.

Tapi, jika kita renungkan akan makna Ramadhan itu sendiri haruslah menjadi sebuah tolok ukur untuk menapaki kehidupan di bulan-bulan berikutnya dengan optimis dalam peningkatkan kualitas ibadah. Karena jika kita pahami esensi makna yang tekandung dalam bulan Ramadhan itu sendiri yaitu sebagai bulan “pembakaran”. Pembakaran di sini mengandung makna bahwa kita dilatih atau dalam rangka training untuk menyongsong kehidupan di bulan-bulan berikutnya supaya semangat dalam melakukan ibadah seperti pada bulan Ramadhan.

Jadi, dengan adanya “pembakaran” haruslah menjadikan diri kita semakin kuat dan tangguh serta kokoh dalam menjalani kehidupan dan juga dalam melakukan ibadah. Kalau kita melihat perumpaan batu bata merah yang terbuat dari tanah manakala dia dibakar akan menjadikan batu bata tersebut kuat dan keras. Seperti itulah makna Ramadhan yang harus kita pahami. Sehingga manakala Ramadhan telah berakhir kita mempunyai starting point untuk meningkatkan kualitas ibadah kita di bulan-bulan berikutnya.

Seiring dengan berakhirnya Ramadhan, maka nuansa Islam pun terlihat kendor lagi, seakan-akan bekas Ramadhan pun tidak terlihat kembali dalam kehidupan kita. Jika kita melihat bagaimana nuansa yang terjadi saat bulan Ramadhan baik itu dari aspek individu, keluarga maupun kehidupan sosial. Semua terlihat harmonisasi yang terbingkai dalam ibadah kepada Allah swt. sehingga menunjukkan kesucian bulan Ramadhan.

Bagaimana seseorang akan malu apabila akan melakukan dosa karena menghormati bulan Ramadhan, kehidupan keluarga semakin harmonis dengan seringnya buka dan makan bareng, begitu juga kepolisian siap mengamankan bulan Ramadhan dari tempat-tempat prostitusi dan lainnya yang sekiranya mengganggu kenyamanan bulan Ramadhan.

Tapi, manakala bulan Ramadhan berakhir setiap saat kita dikepung oleh kerusakan moral dan krisis etika yang merebak ke mana-mana. Menghadapi kehancuran akhlak dan peradaban serta martabat manusia yang telah jatuh melorot sampai ke tingkat terendah. Perzinahan merajalela di mana-mana, minuman keras, penyalahgunaan narkoba, perjudian dengan berbagai jenis telah dianggap sebagai keadaan wajar dalam kehidupan modern bahkan telah menjadi kebanggaan sebagian masyarakat.

Introspeksi dan Aplikasi Diri

Introspeksi diri adalah hal yang tepat dilakukan oleh kita sebagai umat muslim. Kita harus terus merenungkan kembali kesucian bulan Ramadhan. Merenungkan kembali pesan yang terkandung pada bulan Ramadhan. Sudahkah kita memahami akan hakikat Ramadhan manakala kita juh dari bulan Ramadhan.

Sebuah upaya untuk istiqamah dalam menjaga fitrah diri dan sesuai dengan pesan Ramadhan adalah sesuatu yang harus dipertahankan oleh kita. Kehidupan yang biasa kita lakukan di bulan Ramadhan dengan berbagai amal kebajikan dan penuh dengan nilai pahala seharusnya bisa kita pertahankan di bulan-bulan berikutnya.

Bulan Ramadhan berakhir maka datanglah bulan Syawal. Di bulan syawal ini haruslah kita manfaatkan sebagai sarana pembuktian diri setelah ditempa selama satu bulan. Apakah kita bisa mempertahankan segala apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan.

Jadikanlah bulan Syawal sebagai awal untuk meningkatkan ibadah kepada Allah swt. Sehingga Ramadhan pun tidak berlalu dengan sia-sia. Apabila kita memperhatikan kembali akan pembagian bulan Ramadhan dimana sepuluh hari pertama adalah rahmat Allah, sepuluh hari kedua adalah Maghfirah (ampunan) dan sepuluh hari ketiga adalah terbebas dari api neraka. Berarti apabila kita mendapatkan itu semua jiwa kita telah kembali pada fitrah (suci). Apakah kita rela menodai kesucian diri kita dengan melakukan dosa dan maksiat kembali. Apakah kita rela mengotori kain yang putih dengan aneka kotoran dan noda? Sungguh tidak.

Marilah kita mulai kehidupan yang lebih bermanfaat untuk diri kita dan kehidupan sosial. Tumbuhkalah rasa empati pada mereka yang tidak mampu, perbaikilah kehidupan dengan keluarga, tetangga dan masyarakat sehingga nilai sosial yang terkandung pada bulan Ramadhan bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadikanlah bulan Syawal sebagai sebuah awal momentum diri dalam melakukan peningkatan kualitas diri dalam upaya peningkatan kualitas ibadah kita.

Akhirnya marilah dalam bulan Syawal ini dan bulan selanjutnya selalu menjaga suasana Ramadhan untuk meningkatkan ibadah dan membina hubungan yang harmonis antarsesama. Harapan kita kepada Allh swt, semoga kita dipertemukan kembli dengan bulan Syawal tahun depan sehingga kita bisa melewati bulan Ramadhan dengan persiapan diri guna menyongsong bulan yang penuh berkah. Amin. Wallahu’a’lam.

Kholisuddin, santri dan mahasiswa IDIA Penduan asal Cimahi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: