Sahabat: Rimawati Achmad, Orator Ulung yang Tetap Bersahaja

Paksaan Membawa Berkah

Tidak ada gunung yang tinggi bagi sang rajawali. Begitu seorang bijak mengumpamakan keteguhan dan semangat seseorang. Kata bijak sangat tepat untuk menggambarkan sosok Rimawati, sang juara kedua seleksi lomba pidato tingkat nasional di Bandung.

Nama lengkapnya Rimawati Achmad. Rimawati mengawali hobinya di bidang orasi atas paksaan seorang kepala sekolah. Awalnya, gadis yang akrab disapa Reym ini mendapat tawaran dari kepala sekolah untuk membawakan pidato dalam acara Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj. “Tawaran setengah paksaan,” kenangnya.

Reym yang ketika itu masih duduk di bangku kelas III SD, selalu menolak dan menolak tawaran itu. Namun, berkat motivasi dari berbagai pihak, terutama orang tuanya, akhirnya hatinya luluh dan ia mau tampil.

Berawal dari riwayat paksaan kepala sekolah itulah, Reym akhirnya berani tampil. Di depan umum. Dari mewakili sekolah dalam kompetisi pidato antar sekolah, kecamatan, kabupaten hingga kompetisi tingkat Nasional sebagai perwakilan TMI Putri Al-Amien Prenduan, sekaligus sebagai perwakilan Jawa Timur dalam seleksi lomba pidato di Bandung pada 7 Agustus 2009 lalu.

Namun demikian, Reym tidak pernah berbangga diri dengan apa yang diraihnya. Dia menyadari bahwa prestasi yang didapatnya dalam lomba yang diawali dengan penulisan naskah pidato sebanyak tujuh lembar itu adalah berkat dorongan dan doa orang tua, para guru, kiai serta teman-temannya.

Berkat PKM

Mendengar Reym meraih juara kedua lomba pidato, teman-temanya terkejut bukan main. Sebab selama ini, Reym selalu bersahaja dan tidak menampakkan diri bahwa dia bisa tampil sebagai orator di depan publik. Padahal selain berpidato, sebenarnya gadis Gemini ini juga memiliki bakat dalam bidang master of ceremony.

Awalnya Reym merasa ragu untuk menjadi kontingen pondok. Reym merasa pesimis karena bakatnya telah lama terkubur sekitar empat tahun lalu. Lebih-labih, lomba yang waktu itu akan diikutinya harus dimulai dengan penulisan naskah yang begitu rumit.

“Saya sempat bingung harus dimulai dari mana, sebab selama ini saya tidak begitu konsen dengan masalah kepemimpinan yang menjadi tema utama lomba pidato itu,” ucapnya seraya tersenyum.

Selain itu, Reym mengaku bahwa pelatihan kepemimpinan yang diikutinya pada awal kelas V juga ikut andil atas kesuksesannya meraih juara di Bandung.

“Waktu itu kan ada buku sakunya, apalagi para pemakalah yang hadir ketika itu sudah ahli di bidangnya. Makanya saya semakin gampang menulis,” ucapnya sambil menunjukkan buku saku PKM yang menjadi salah satu referensi tulisannya.

Tetap Bersahaja

Gadis kelahiran Makkah, 23 Mei 1991 ini pantas mendapat kesempatan untuk menjadi Wakil Ketua ISTAMA, sebuah organisasi santri TMI Putri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Kepercayaan santriwati kepadanya Reym, tentu didasari oleh bakat kepemimpinan yang tertanam kuat di jiwa Reym sendiri. Kepintarannya dalam hal orasi sangat mendukung realisasi bakatnya itu. Berangkat dari inilah, para santriwati mempercayainya sebagai orang nomor dua di ISTAMA.

Di lingkungan pengurus ISTAMA, Reym terkenal sebagai pengurus yang memiliki tanggung jawab tinggi, aktif, dan energik. Berbagai prestasi yang dicapai tidak serta merta memupus semangatnya dalam berorganisasi, justru semakin mengasah kepiawaiannya dalam mengelola organisasi.

Tetapi, Reym, seperti karakter dasarnya, ia terbilang sosok yang bersahaja dan komunikatif. Sikap ini ia tunjukkan dengan tidak membedakan teman bergaul dan tetap peduli dengan keadaan sekitar yang membutuhkan bantuannya.

Prinsip, Cita-cita dan Motivasi

Gadis dari pasangan H. Achmad Sahri dan Hj. Suzanna ini memiliki prinsip yang kuat untuk mencapai kesuksesan yang diraihnya selama ini. Bagi Reym, sekecil apa pun pekerjaan yang ia rencanakan, Reym harus tetap komitmen melaksanakannya.

Yang lebih dari sosok gadis pecinta warna biru ini adalah obsesinya untuk bisa dalam hal apa pun, sehingga tiada kata lelah bagi Reym untuk selalu mencoba dan mencoba. Apalagi salah satu motivasi terbesarnya adalah kedua orang tua, sebuah obor motivasi yang tidak pernah padam. Karena itu, Reym menguasai banyak skill.

“Insya Allah, saya ingin menjadi seorang psikolog, karena sekarang banyak orang pintar yang jiwanya masih perlu dibina, maka doakan saya”

Reym juga memiliki catatan positif di bidang akademik. Ia tidak pernah dari predikat the best three sejak MI Salafiyah Surabaya hingga SMP Kawung 01 Surabaya.

Peraih Juara III Lomba Pidato se-Kota Surabaya ini bercita-cita melanjutkan studinya di Universitas Ummul Quro’ Makkah.

Pesan dan Harapan

Kepada rekan-rekan sesama pengurus, Reym berpesan agar selalu semangat dalam menjunjung tombak kepengurusan.

Tidak ketinggalan, Reym juga berharap kepada adik-adik kelasnya agar memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun, dan selalu aktif dalam mengikuti aktivitas Pondok seperti latihan pidato, sanggar-sanggar, dan program lainnya.

“Pokoknya, percaya sajalah bahwa pondok ini akan memberi yang terbaik untuk kita semua. Jangan pernah menghina hal sekecil apa pun, karena setiap sesuatu pasti ada hikmahnya,” harapnya.

Terakhir, Reym mengajak untuk selalu mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Dengan bersyukur, Allah pasti menambah nikmat seorang hamba. ”Karena Allah suka kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur,” tuturnya sambil tersenyum anggun. (UUS/ANM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: