Demokrasi Seharga 25 Juta

Namanya saja reformasi, tidak aneh jika banyak tokoh baru yang kemudian tampil di televisi sambil melambaikan tangan, mereka disebut-sebut sebagai pejuang. Tapi tidak dengan saya. Saya kelihatan tidak seperti pejuang, sebab saya orang sipil. Nama saya tak pernah masuk media massa, apalagi televise. Kalaupun nantinya ditayangkan, saya tidak bisa melihat juga, toh di rumah tidak ada televisi.

Tetanggaku diam-diam mengatakan bahwa saya adalah seorang pejuang, sebab saya biasa mengerahkan mereka untuk maju demi kata refomasi dan demokrasi. Semua orang sehati kalau sudah membicarakan reformasi dan demokrasi. Mereka percaya bahwa alasan selama ini mereka hidup miskin dan menutup usaha adalah karena orde baru.

“Pokoknya bagus. Suatu era yang patut dan pantas diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Suatu era yang memerlukan partisipasi dan pengorbanan kita. Suatu era yang menunjang suksesnya pembangunan menuju masyarakat yang adil dan makmur,” kata mereka sambil membawa poster.

Saya kira kalimat-kalimat mereka sangat cukup untuk mewakili kebutuhan mereka sebenarnya. Sebab, saya sendiri tak mampu menerangkan apa arti dan maksud reformasi. Saya tidak terlatih untuk menjadi juru penerang. Saya juga khawatir kalau saya menerangkannya, reformasi akan disalahgunakan. Apalagi kalau sampai terjadi salah kaprah dalam tafsiran, bisa-bisa musibah.

Hingga suatu ketika, RT kami yang menghampar seluas gang Sayuti Melik, mendapat kunjungan petugas yang mengaku dari kelurahan. Mereka bemaksud melakukan pelebaran jalan.

“Jadi untuk proyek ini, setiap rumah dari RT gang Sayuti Melik  akan diminta dua meter tanahnya,” kata petugas itu, menghimbau agar kami mau bersikap seperti halnya warga lain yang merelakan kehilangan itu. “Ini demi kepentingan bersama,” imbuhnya.

Waga kami tercengang. Enak sekali mengambil tanah kami dua meter, demi pembangunan. Pembangunan siapa? Bagaimana kalau rumah kami hanya seluas enam meter kali empat. Kalau diambil dua meter kali enam, rumah itu hanya akan cukup untuk gang. Kontan kami tolak. Bagaimana kami bisa hidup dalam gang dengan rata-rata lima orang anak?.

“Tapi ini sudah merupakan keputusan bersama,” kata petugas tersebut.

Kami semakin tercengang saja. Bagaimana mungkin membuat keputusan bersama tentang rumah kami, tanpa musyawarah dengan kami. Seperti Raja Nero saja.

“Soalnya masyarakat di sebelah sana,” lanjut petugas itu sambil menunjuk ke kampung sebelah. “Mereka semuanya adalah karyawan yang aktif di sebuah pabrik tekstil, dan mereka semua membutuhkan jalan tembus yang bisa dilalui oleh kendaraan roda dua atau roda empat. Nah, dengan difungsikannya gang Sayuti Melik  ini menjadi jalan yang tembus kendaraan bermotor, mobilitas warga yang hendak bekerja dan pulang dari bekerja akan lebih cepat.” Wajah warga mengkerut, mereka tidak mengerti.

“Itu demi efisiensi dan efektifitas kerja. Mikrolet dan bajaj akan lebih mudah keluar masuk, dan akan menjadi investasi bagi pembangunan. Lalu pembangunan itu akan dinikmati juga oleh kampung ini, karena sudah diperhitungkan masak-masak.”

“Diperhitungkan masak-masak bagaimana? Kami tidak pernah diajak rembukan dan tidak pernah ditanya apa-apa tentang ini? Tanah ini milik kami!” seru warga.

Tak lama kemudian, sejumlah warga dari kiri dan kanan kami datang. Mereka berujar, dengan sedikit pengorbanan itu, ratusan kepala keluarga dari kiri dan kanan kami akan tertolong. Kemudian mereka menggambarkan pengorbanan tersebut sebagai perbuatan yang mulia.

Setelah menghimbau, mereka mengingatkan sekali lagi betapa pentingnya diadakan pelebaran jalan ini. Setelah itu, mereka mengisyaratkan betapa tidak manusiawinya kami kalau kami tidak menyetujui usulan itu. Dan setelah itu, mereka mewanti-wanti. Kalau menurut kami bisa dikatakan mengancam.

“Kalau pelebaran jalan ini tidak terlaksana, sesuatu yang buruk akan terjadi pada kalian,” ucap salah seoran petugas itu dengan tangan yang diacungkan ke depan.

Sebenarnya, tanpa pelebaran pun kami sudah mengalami hal yang buruk. Lahan pekerjaan tidak merata, harga sembako melambung tinggi.

Belum sempat kami mengadakan musyawarah, pelebaran jalan sudah dilaksanakan. Sebuah buldozer muncul dan menggaruk 2 meter tanah wilayah RT kami. Warga kami panik. Mereka melawan. Tetapi, ketika salah seorang dari kami hendak buka mulut, lemparan tongkat sudah terlebih dahulu mendarat di pundaknya. Ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

Saya bingung. Akhirnya setelah putar otak, saya memberanikan diri mengunjungi direktur pabrik tekstil itu, majikan warga yang menginginkan adanya pelebaran jalan terkutuk itu. Tapi susah sekali untuk masuk ke pabrik itu. Baru setelah mengaku petugas dari kelurahan, akhirnya saya diterima dan dijinkan masuk.

Direktur itu kaget setelah mengetahui saya adalah korban penggusuran. Tetapi, ia cepat tersenyum ramah, lalu mengguncang tangan saya sejenak. Ketika saya semprot direktur itu, bahwa kami tidak sudi dipangkas, dia kebingungan, kepalanya geleng-geleng seperti tak percaya. Lalu ia memanggil sekretarisnya. Setelah berunding secara bisik-bisik, ia kembali memandang saya seperti orang stress.

“Demi tuhan, saya tidak tahu perihal hal ini. Saya minta maaf. Saya tidak pernah memperbolehkan siapa saja di sini untuk membuat tindakan-tindakan pribadi atas nama perusahaan. Padahal, saya telah memberi para karyawan uang transport. Kalaupun mereka memerlukan jalan pintas, mungkin karena mereka ingin menyelamatkan uang transport itu. Dan kejadian yang menimpa anda itu di luar tanggung jawab perusahaan. Pembuatan jalan itu bukan inisiatif dan tanggung jawab kami. Sekali lagi saya minta maaf. Saya mohon bapak menyampaikan rasa maaf saya kepada seluruh warga RT Sayuti Melik” katanya dengan sungguh-sungguh.

Ubun-ubun saya memanas ketika mendengar perkataan tidak bersalah yang dilontarkan oleh direktur itu. Saya mulai marah. Saya tiadk percaya dengan apa yang dikatakannya. Saya siap untuk meledak. Tetapi, keadaan menjadi terbalik, ketika direktur itu mengulurkan kepada saya sebuah amplop coklat yang tebal, saya tiba-tiba tak mampu bicara sedikitpun. Apalagi ketika saya membaca tulisan yang tertera di atas amplop itu, 25.000.000. Dua puluh lima juta rupiah. Ya Tuhan banyaknya.

Saya tertegun. Saya tak menanyakan lagi berapa isi amplop itu. Untuk apa dua puluh lima juta itu. Saya hanya bisa menerimanya, lalu menyambut uluran tangannya. Lantas terbirit-birit pulang. Saya ambil jalan belakang sehingga tak seorang warga pun tahu kalau saya barusan datang dari rumah direktur tersebut.

Ketika para warga gang Sayuti Melik kembali mendatangi saya untuk merembuk tindakan apa selanjutnyaa yang akan diambil. Lalu saya memberi mereka wejangan.

“Memang berat kehilangan dua meter tanah dari milik kita yang sedikit. Tetapi itu jauh lebih baik daripada kita kehilangan nyawa. Lagipula semua itu untuk kepentingan bersama. Suara terbanyak yang harus menang. Sebagai penganut paham demokrasi, kita tidak boleh dongkol karena kalah. Itu kosekwensi logis bagi kita yang hidup di era reformasi. Demi demokrasi, kita harus merelakan dua meter untuk pembuatan jalan yang menunjang pembangunan ini.”

Seluruh warga yang saya pimpin tak menjawab. Kalau atas nama demokrasi, mereka relakan segala-galanya. Lalu mereka pulang. Tetapi sejak itu, semuanya benci kepada demokrasi.

“Kalau memang demokrasi itu tidak melindungi kepentingan pribadi, kami berhenti menyokong demokrasi. Sekarang kami menentang demokrasi,” kata mereka serentak.

Yah, sejak malam itulah, warga RT Sayuti Melik yang saya pimpin menolak demokrasi. Hanya saya sendiri, yang tetap berdiri di sini, sendirian. Teguh dan tegar. Tidak goyah oleh topan badai. Tidak gentar oleh panas dan hujan. Saya tetap kukuh berdiri tegak di atas kaki saya, siap mempertahankan demokrasi, sampai titik darah penghabisan.

Habis mau apalagi. Siapa lagi kalau bukan saya yang sudah menerima dua puluh lima juta. Saya tertawa.

M. Hasby Maulana, santri kelas VA TMI Putra Al-Amien Prenduan, asal Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: