Cerpen: Semalam dalam Satu Cinta

Siti Maimunah

Lama kelamaan, aku hanya menjadi wanita yang menyesali hidup. Peristiwa demi peristiwa berjalan begitu tergesa. Seekor kupu-kupu di taman belakang, berjumpalitan menghirup benang sari atau menjatuhkan putik, lalu berpelukan dan hilang. Aku pun sepertinya, seperti seekor kupu-kupu yang yang kuning keemasan di pinggir sayapnya.

Dalam benakku selalu saja terbayang pertanyaan, “Apakah wanita hanya untuk dikhianati?” Seperti sebuah prasasti saja pertanyaan itu dalam hatiku. Dan tanpa aku duga, kebencian telah mengubur semua kebaikan lelaki. Hanya ada satu label untuk seorang laki-laki “penghianat!”.

Ayahku sebagai laki-laki sama sekali tidak bisa merubah label itu. Sebab ayah juga telah membuat bunda menderita. Sejak kecil aku ditinggal ayah tanpa sedikit kabar darinya. Bunda selalu mengatakan kalau ayah pergi berlayar. Dulu aku percaya ucapan beliau dan berusaha menekan hati untuk memaklumi. Tapi kini aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi lagi, umurku sudah 25 tahun, umur yang cukup bisa untuk mengetahui kebohongan.

“Masihkah Bunda mengatakan kalau ayah pergi berlayar? Sudah berapa tahun ayah meninggalkan aku dan Bunda?” Bunda diam, sedikitpun tak kelur dari bibir merahnya suara menyanggah. Beliau hanya memalingkan muka dan mulai mengusap air mata yang beliau sembunyikan dariku. Sebenarnya aku tak sampai hati menanyakan perihal ayah kepada bunda. Namun di sisi lain, aku harus tahu dimana ayahku berada. Jika alasannya karena aku terlahir ke dunia sebagai anak haram, tentu aku terima kenyataan pahit itu. Tapi tak mungkin, karena aku pernah melihat foto pernikahan Bunda dan ayahku di figura keluarga. Tak hanya itu, aku juga pernah melihat surat pernikahannya, sah.

Yang paling aku sedihkan, bunda selalu duduk menyendiri dengan linangan air mata, hatiku terenyuh. Ingin rasanya aku menggantikan segala penderitaannya, setelah Sekian tahun Bunda banting tulang untuk membiayai kuliahku, hingga aku  mendapat gelar S-1 di UGM Yogyakarta, jurusan sosial politik.

Berkat tekad dan dukungan dari beliau, akhirnya aku bisa menyelesaikan S-1. Satu bulan kemudian, setelah sarjana, aku diterima mengajar di SMPN Ketapang kabupaten Sampang. Sebuah tempat yang menjadi sejarah kelahiranku. Ada satu hal yang bunda inginkan dariku setelah sarjana, menikah. Tapi aku sama sekali tak punya hasrat. Aku selalu saja menolak pinangan demi pinangan.

Sepulang mengajar di SMPN Ketapang, bunda memanggilku. Dengan wajah berseri dan senyum merekah, aku menghampiri dan duduk di samping beliau. Dengan lembut beliau berkata, “Azizah, Bunda tahu kamu ingin sekali berjumpa dengan ayahmu. Sejak kecil sampai sekarang kamu tidak pernah mendengar kabar ayahmu. Kamu anak semata wayang bunda. Bunda ingin kamu mempunyai pendamping hidup.” Sejenak Bunda menghela nafas.

“Azizah anakku, janganlah mengaca pada kegagalan Bunda. Perlu kamu ketahui, tidak semua lelaki itu sama.  Mungkin saja selama ini kamu menemukan laki-laki yang sama, sifat maupun perangainya dengan ayahmu. Kamu jangan menanam kebencian pada laki-laki lebih dalam lagi. Kamu harus ingat, nikah itu sunnah Rasulullah.  Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahnya berarti kamu bukan ummatnya. Bukalah lembaran baru  untuk meniti hidupmu. Bunda tidak ingin kamu terpuruk apalagi trauma.”

“Bunda tak cukupkah aku membenci laki-laki yang telah membuat hancur hatiku, tak cukupkah ayah yang telah meninggalkan aku dan bunda. Sudah berapa tahun ayah membuat bunda menangis? Biarkanlah bunda aku hidup sendiri, mungkin itu lebih baik bagiku,” jawabku.  Seketika suara Bunda meninggi.

“Azizah, jangan jadikan peristiwa itu sebagai belenggu!” kata Bunda sedikit berteriak bercampur tangis.

“Bunda, tidakkah Bunda merasa sakit hati pada ayah?” tanyaku.

“Tak terlintas sedikit pun Bunda membenci ayahmu. Karena selama ini ayahmulah orang yang telah mengajarkan bunda untuk selalu bersabar dan bersyukur sebagai modal hidup Bunda.”

“Lantas kenapa ayah meninggalkan kita?”

“Ayahmu adalah seorang pelayar. Dia ingin sekali melihatmu bisa tumbuh dewasa tanpa kekurangan apa pun. Pada suatu saat ayahmu pamit berlayar, hari demi hari bunda tak mendengar kabarnya. Tidak seperti biasanya.  Saat itu Bunda panik. Saat Bunda membeli bubur untukmu, Bunda mendengar kapal merpati yang ditumpangi ayahmu tenggelam. Bunda hanya bisa meratapi apa yang telah terjadi. Apa hendak dikata, semua telah terjadi. Semua yang hidup akan berakhir dengan kematian. Dua hari dari kabar itu, jenazah ayahmu diantar ke sini. Di kuburan umumlah ayahmu disemayamkan.”

Aku hadapkan wajahku lurus ke arah Bunda, aku berusaha mengusap air mata yang merembes di pipinya walau dengan sedikit gemetar.

“Bunda tak kuasa mengatakan ini padamu? Sebenarnya ini bukan saatnya kamu tahu. Namun apa boleh buat, Bunda tak bisa melihatmu sedih.” Bunda menghela nafas.

“Azizah, sebenarnya Bunda ini bukan  wanita yang melahirkanmu, tapi Bunda adalah bibimu. Sedangkan wanita yang melahirkanmu adalah saudara kembar bibi. Semenjak kecil kamu ada di pangkuanku. Bunda kandungmu telah kembali ke haribaan Ilahi.

Sejak itulah ayahmu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhanmu. Dia berjanji akan membuatmu bahagia walaupun kamu tak memiliki seorang bunda yang selalu membelai dan memberimu kasih sayang.”  Bunda berdiri dan kembali duduk di atas kursi dekat lemari yang ditempeli foto ayah dan bunda.

“Dari itulah Bunda sebagai bibimu datang mengisi hari-hari kalian berdua untuk ikut serta merawat dan membesarkanmu. Suatu malam aku dipanggil ayahmu. Aku pun datang dengan membawamu. Waktu itu kamu tertidur lelap di pangkuan Bunda. Ayahmu memperingatkanku untuk tidak memberi tahu tentang apa yang telah terjadi. Dia berpesan untuk selalu menjagamu, dan apabila terjadi sesuatu padanya untuk selalu menjaga rahasia itu. Aku boleh mengatakan padamu jika kamu sudah berumur 25 tahun. Ternyata ucapan terakhirnya padaku merupakan wasiat yang harus kujaga.” Aku diam. Aliran darah seakan berhenti. Tenggorokanku serasa penuh. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Semua sudah terjadi.

Kisah Bunda tentang ayah menumbuhkan tekad untuk merubah pandanganku terhadap laki-laki. Seketika itu pula aku mengerti bahwa kebencianku terhadap laki-laki tak cukup beralasan. Setelah itu aku pamit pada unda ubntuk masuk kamar. Beliau mengangguk.

Di dalam kamar aku perhatikan foto pernikahan ayah dan bundaku. Nampak sekali kemiripan antara bibi yang kini kupanggil Bunda dengan Bunda kandungku. Sungguh begitu besar kekuasaan Allah. Dengan kekuasaannya pula aku jadi tahu apa yang tidak kuketahui sebelumnya. Sekarang aku tahu siapa ayahku dan siapa bundaku. Tak pernah kusangka dan tak pernah terdetik di hati, bahwa selama ini wanita yang kupanggil Bunda bukan orang yang melahirkanku. Tapi semua itu tak membuat rasa sayang dan rasa cinta ini berkurang untuknya.

***

Pagi yang cerah, angin berhembus begitu lirih menyegarkan dadaku. Tidak seperti biasanya, di pagi ini aku ingin sekali menghirup udara segar dan melihat tingkah burung di atas ranting pohon. Di persimpangan jalan, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang tak asing bagiku. Rony. Ya Rony Aditsyah, teman semasa SD ku di Ketapang Daya I.

Dia melihatku dan seketika  memanggilku, “Azizah!” Dia berlari menghampiriku. Aku menyambutnya dengan senyuman sedikit menunduk. “Kamu Azizah bukan? Teman SD-ku?” tanyanya.

“Iya. Kamu Rony, kan?” aku balik tanya. Kami pun berbincang-bincang tentang banyak hal, terutama masalah pendidikan kita.

“Kamu kuliah di mana Azizah?”

“Aku kuliah di UGM tapi sekarang sudah selesai. Kamu sendiri kuliah di mana?”

“Kalau aku  kuliah di Mesir, tapi belum selesai, insya-Allah aku wisuda kurang lebih 7 bulan lagi. Aku akan kembali ke Mesir seminggu lagi.” Ponsel Rony berbunyi. “Maaf Azizah aku harus pulang sekarang!” katanya, tanpa melihat ke arahku lagi.

“Ya!” jawabku agak panik. Entah apa yang  terjadi padanya kini. Wajahnya seakan di sini, mengakar di mataku.

Pandangan itu menciptakan rasa yang berbeda di hati. Rasa yang sudah lama aku kubur untuk seorang laki-laki, kini menjelma mahligai yang begitu indah. Apakah dia merasakan apa yang sedang aku rasakan? Tak dapat kutebak. Seiring waktu, aku mendambakan Rony untuk menjadi pendamping hidupku. Dalam doaku, aku selalu meminta pada Tuhan, agar aku menjadi Aisyah baginya, sebagaimana Aisyah bagi Muhammad.

Aku sudah seperti seorang Layla yang menunggu. Hari berganti hari aku merasakan kerinduan yang begitu mendalam pada Rony. Saat aku mengajar, aku bertemu dengan Rony di kantor. Aku merasa bahagia karena kerinduanku kini terobati.

“Kamu guru di sini?” Aku  hanya mampu menundukkan kepala.

“Aku akan kembali besok ke Mesir,” katanya membuyarkan lamunanku. Mendengar itu, hatiku berdenyut kencang.

“Kenapa secepat itu?” tanyaku.

“Karena aku harus menghadiri pernikahan temanku di sana,” jawabnya, seketika itu aku bertanya lagi.

“Kapan kamu nikah? //Insya-Allah// sebentar lagi.” Bel berbunyi menandakan waktu anak-anak masuk kelas. Aku beranjak dari tempat duduk.

“Semoga sukses!” Dia tersenyum padaku, sedikit lesung pipinya sempat aku pandang, begitu indah.

“Terima kasih!” jawabnya singkat.

Di dalam kelas aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Akankah rasa cinta ini terbalas atau hanya rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan? Kini aku hanya tinggal menanti apakah aku wanita yang akan menjadi pendampingnya, ataukah orang lain? Hanya waktu yang akan  menjawabnya.

* * *

Sejak kepergian Rony rasa rinduku semakin bergelora. Malam  nan  syahdu, asrikan langit kelabu. Aku impikan jiwanya menjelma di hadapanku.

Gema azan kian terdengar menusuk relung kalbu. Aku masih saja memandang alam dari jendala kamarku. Jam menunjukkan pukul 2 malam, biasanya azan selalu dikumandangkan setiap jam 2, sebagai tanda shalat Tahajjud. Setelah itu aku beranjak dari tempatku menuju kamar mandi untuk melaksanakan shalat malam. Aku bermunajat pada-Nya agar seseorang yang kudamba selama ini  menjadi jodohku.

Azan Shubuh berkumandang.  Rumahku tak begitu jauh dengan masjid, kulangkahkan kakiku dengan tenang. Selepas shalat, tanpa kusadari aku bersebelahan dengan Intan, adik Rony.

“Dik, kapan Mas Ronynya datang?” dia tersenyum, begitu manis. Tak jauh beda dengan kakaknya. “Tahu, Kak. Tapi dia akan segera kembali, karena ayah sudah mencarikan calon istri untuknya.” Seketika itu hatiku bergetar. Di benakku muncul tanda tanya besar “Siapakah gerangan?”

“Siapa Dik, wanita itu?” kejarku.

“Aku juga tidak tahu, Kak!” setelah dari masjid aku langsung pulang. Di ruang tamu aku lihat bunda sedang membaca ayat suci Al-Quran. Aku pun segera menuju kamar. Di dalam kamar, kubuka foto keluarga. Tanpa terasa aku meneteskan air mata, karena tak satu pun foto yang kulihat menampangkan sosok Bunda menggendong serta membelaiku.

“Azizah!” aku kaget dengan suara Bunda. Aku langsung menghapus air mataku dan meletakkan foto itu kembali ke dalam laci.

“Ada apa Bunda?” tanyaku.

“Azizah, kemarin Bunda kedatangan tamu. Dia ingin menjodohkan anaknya denganmu, namun Bunda tak kuasa menjawabnya. Akhirnya, dia memberi waktu untuk menjawab. Dia berkata pada Bunda akan terima jawaban itu walaupun pahit terasa,” kata Bunda.

“Bunda, aku tak bisa  jawab saat ini. Jika orang itu datang lagi aku akan ikut menemuinya.”

“Baiklah!” jawab Bunda.

Andai saja aku bisa menyingkap tabir kehidupan, maka aku akan tahu siapa orang yang ingin menjadikan aku istri, dan orang yang akan dijodohkan ayah Rony untuknya. Kini aku hanya menunggu waktu tersingkapnya rahasia.

//Tuhan, hanya  Kau yang tahu apa-apa yang  tersembunyi//. Jarum jam terus berdetak, waktu terus bergulir. Tanpa kusangka  kini bulan Juli hampir usai. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Muhammadku. Inilah harapan yang sekian bulan aku nantikan, bulan Juli akhir adalah bulan ke tujuh dari Januari. Aku masih ingat dia akan kembali dari Mesir pada tahun baru dan dia akan kembali setelah diwisuda. Bulan Juli ini dia akan diwisuda. Tapi aku yakin dia akan kembali ke Indonesia di akhir bulan Juli.

Orang yang seminggu lalu datang pada bunda, kini  datang kembali. Aku pun menemuinya di ruang tamu. Tapi wajah itu terasa asing bagiku. Tak sekalipun aku melihatnya di kampung. Apa karena aku jarang keluar? Aku mencoba angkat suara. Aku mencoba bertanya.

“Siapa anak Bapak yang ingin bersanding denganku?”

“Aku hanyalah orang yang diperintah  Bapak Zainuddin Sihab untuk melamarmu.” Aku masih belum mengenal nama bapak itu. Terpaksa aku bertanya nama lelaki yang akan meminangku. Siapa tahu aku mengenalnya

“Siapa nama putranya?”

“Namanya… Amrullah Sihab. Dia masih kuliah di Mesir. Sebentar lagi dia akan kembali ke Indonesia.” Setelah itu aku lihat bunda. Apa yang hendak kukata, sedangkan aku mendambakan Rony untuk menjadi pendamping hidupku bukan malah orang lain yang datang melamarku. Aku benar-benar bingung. Ingin rasanya aku berteriak agar seisi dunia tahu, saat ini aku dirundung rasa bingung.

Aku pun berkata, “Semua terserah Bunda. Jika bunda yakin aku akan hidup dalam bingkai rumah tangga yang sakinah, aku ikhlas,” kataku, setelah itu  Bunda menjawab.

“Aku setuju, sampaikan salamku pada Bapak Sainuddin, semoga semua ini seiring ridho Ilahi.” Kami pun serentak mengucapkan  “Amien” setelah itu dia pamit  pulang.

“Ya,” jawab Bunda padanya sambil tersenyum. Sepertinya bunda bahagia. Sementara jiwaku terselubung rasa penasaran, siapa sebenarnya gerangan? Kini aku sudah jadi milik orang lain. Percuma jika aku terus mendambakan Rony yang tidak pasti.

Juli akhir aku ketemu adiknya Rony. Dia memberi kabar bahwa Rony datang dan akan melangsungkan pernikahannya. Aku hanya tersenyum, karena bagaimanapun juga, aku harus bisa menerima semua itu. Aku pun akan melangsungkan pernikahan dengan Amrullah, orang yang tak pernah kukenal. Seminggu dari pulangnya Rony, ingin sekali aku bertemu dengannya. Akan  kuungkapkan rasa yang selama ini bersemayam dalam jiwaku. Rasanya aku tak kuasa.

Saat aku berada di dalam kamar, aku mendengar bunda memanggilku. Beliau  menyuruhku ke ruang tamu karena keluarga Amrullah datang. Aku pergi menemui calon mertuaku. Meski jauh di dalam hatiku ada tangis yang masih tersimpan. Setibaku di ruang tamu, aku terkejut dengan wajah bapak itu. Dia mirip dengan Rony. Pada saat itu mereka membicarakan tanggal pernikahanku dengan Amrullah. Tanggal 8 Agustus nanti aku akan menikah dengan lelaki yang tak pernah kukenal.

“Apakah Bapak punya anak selain Amrullah?”

“Anak Bapak dua, yang tertua Amrullah dan yang terakhir putri.”

“Apakah Bapak punya keponakan yang bernama Rony Aditshah?” tanyaku  penasaran.

“Rony bukan keponakanku tapi dia adalah anak Bapak. Enam tahun lalu Bapak ganti namanya dengan Amrullah.”

Aku seperti orang yang mendapat setumpuk mutiara. Seketika itu, senyum menghiasi tipus pipiku. Akhirnya mereka  pulang. Aku beranjak dari tempat dudukku menuju kamar. Di sanalah aku menangis haru, bahagia, ternyata orang yang selama ini kudamba benar-benar hadir dalam pangkuanku. Tali suci akan mengikat cinta kami. Semoga aku menjadi istri yang amanah. Dia akan hadir mengisi hari-hariku penuh makna. Dia jualah yang akan membimbingku ke jalan lurus-Nya.

Hari berganti hari, wajahku nampak semakin cerah berseri seiring makin dekatnya detik-detik yang penuh sejarah itu. Tanggal 6 Agustus, Bunda mulai mempersiapkan  acara walimatul ‘ursy. Aku pun sibuk mempersiapkan itu semua. Mulai dari berlulur sampai pada urusan minum jamu. Sesuatu yang amat kubenci. Kulakukan Demi rasa hormatku pada Bunda. Lagi pula hasiat jamu akan menambah kemesraan dalam rumah tangga.

Semburat senja di ufuk barat kian menghilang. Kutatap awan biru. Menyejukkan kalbu. Andai aku dapat memutar waktu agar berjalan lebih cepat. Hari ini juga kita akan bersanding di pelaminan. Aku tak tahan  menunggu hari itu. Rasa gemetar dan rasa bimbang terlintas di benakku. Pernikahanku tinggal satu hari lagi. Dalam kesendirian aku selalu tersenyum.

“Azizah, kamu tampak anggun dengan kebaya putih dan hiasan bunga itu. Bunda akan selalu berdoa semoga kamu jadi istri seperti istri Rasullulah, Siti Aisyah,” kata Bunda. Seketika aku langsung memeluk Bunda. Tanpa terasa air mataku mengalir, begitupun Bunda. Setelah itu ia mencium keningku.

“Azizah hapuslah air matamu. Bunda ingin kamu tersenyum di hari bahagia ini.” Setelah itu Bunda berlalu dari hadapanku. Aku tetap berada di dalam kamar menanti Muhammadku. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan. Tidak lama lagi mempelai laki-laki akan datang. Kutunggu tapi tak kunjung datang. Aku hawatir, aku takut terjadi sesuatu padanya. Di balik tabir aku melihat bunda mondar-mandir. Tampak dari wajahnya menyimpan rasa khawatir, seperti apa yang kurasa. Jarum jam terus berdetak, kini jam menunjukkan pukul 10.15. Para rombongan mempelai pria kini telah datang.

Ijab Kabul telah usai dengan sepatah kata alhamdulillah. air mata menetes, mengingat bunda dan ayah yang telah tiada. Aku mencium tangan suamiku penuh ta’dzim.

“Aku milikmu dan aku ikhlas  untuk menempuh hidup bersamamu nan menghirup madu cinta bersamamu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: