Sahabat: Moh. Husein, Lokomotif Hafidzul Qur’an

Hafal 26 juz dalam waktu kurang lebih satu setengah tahun, mungkin bukanlah suatu hal luar biasa bagi santri Tahfidzil Qur’an. Akan tetapi bagi santri yang memiliki kesibukan lebih, dengan tuntutan lebih, hal itu adalah sebuah prestasi menakjubkan. Begitulah prestasi yang diraih Husein. Ia menjadi sumber inspirasi bagi santri lainnya.

*Istiqomah*

Ketekunan Husein dalam menghafal Al-Qur’an, memang patut diacungi jempol. Sedikit sekali santri yang memiliki keinginan kuat seperti Husein. Walaupun ada, hampir tidak ada yang bisa menyamai rekor Husein.

Santri kelahiran  Sampang 03 September 1988 ini, mulai giat menghafal Al-Qur’an, semenjak ia mengikuti program JQH (//Jamaatul Qurra’ wal Huffadz//) TMI Al-Amien Prenduan yang diprogram khusus untuk menghafal Al-Qur’an. Akan tetapi apabila melihat realita sesungguhnya, waktu yang diberikan untuk menghafal tetap saja kurang. Karena selain menghafal, anggota JQH tetap harus mengikuti program TMI; seperti komdas B, kompil B, muhadhoroh, pramuka dan program lainnya. Belum lagi ditambah program pelatihan //mujawwadah// yang membuat sempit waktu menghafal. Nah, di sinilah keuletan dan kesungguhan Husein benar-benar diuji.

“Saya menambah hafalan pada sore hari, kira-kira sebanyak satu lembar. Dan muraja’ah di malam hari, setelah //nida’ naum// bersama sebagian anggota JQH. Namun seringkali saya tidur kemalaman, karena //muraja’ah// sampai jam setengah dua belas,” ungkap Husein sambil tertawa kecil.

Waktu tidur pun dia korbankan  demi cita-cita yang ingin dicapainya. Karena harus disadari, setiap sesuatu pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung, dan itu adalah modal tercapainya tujuan.

Anak pertama dari pasangan Alm. Dalil dan Ibu Barzani  ini, sadar betul akan jalan terjal yang sedang ia perjuangkan. Sehingga ia tidak pernah mengeluh dalam menghadapi cobaan.

Di samping ketekunannya dalam menghafal, rahasia sukses menghafalnya tak terlepas dari kebiasaannya membaca Al-Qur’an. “Saya punya kebiasaan semenjak dari rumah, yaitu setiap minggu pokoknya harus khatam  Al-Qur’an, tidak boleh tidak. Dimulai setiap hari Jum’at dan khatam di hari Kamis. Kebiasaan itu saya lakukan semenjak kelas satu MTs di rumah hingga kelas III intensif di TMI awal tahun. Baru setelah masuk JMT (sekarang JQH), saya mulai menghafal,” ungkapnya kepada reporter //Khazanah//.

Kebiasaan itulah yang memudahkannya dalam menghafal, seakan-akan lantunan ayat Al-Qur’an mengalir sendiri ke dalam otaknya. Padahal dia mengakui otaknya biasa-biasa saja, bahkan terkadang sulit menerima pelajaran.

*Mengoptimalkan Jiwa Istibaq*

Setiap sesuatu pasti ada sebabnya, sejalan dengan teori kausalitas yang kita pelajari dalam ilmu logika. Seperti itulah yang terjadi pada diri kacong Ketapang Sampang ini. Semangat tinggi dalam menghafal yang ia miliki, tidak terlepas dari beberapa faktor penting.

“Jujur saja, puncak semangat saya dalam menghafal yakni ketika duduk di kelas lima. Waktu itu saya punya pesaing dalam menghafal, yaitu mu’allim Rifqil Anam dari Semarang. Setiap waktu saya merasa tersaingi terus, sehingga waktu itu sungguh-sungguh saya curahkan untuk menghafal,” ucap ketua JQH itu sambil menerawang ke masa lalu.

Seorang pesaing bukanlah suatu hal yang mengancam. Justru pengalaman Husein barusan, seakan membuka mata kita bahwa dengan adanya seorang pesaing, semangat kita akan selalu membara dan selalu berusaha untuk selangkah lebih maju tanpa pernah berfikir untuk mundur.

Tidak hanya itu, Ketua Rayon Al-Jufri Utara ini pun punya hasrat untuk sekolah ke luar negeri. “Saya memang bercita-cita ingin melanjutkan studi di Timur Tengah. Mungkin setelah lulus nanti, saya langsung berangkat. Doakan, ya!” tuturnya. Timur Tengah memang masih punya daya tarik tersendiri di hati seorang Husein, terutama karena idolanya Husein Tabataba’i, si hafidz kecil berasal dari Timur Tengah. Sehingga makin membakar api semangatnya untuk cepat menuntaskan hafalan dan berangkat ke negeri impiannya.

*Menekuni Hobi Lain*

Di samping kesibukannya menghafal, peraih Juara I di beberapa lomba Tilawatul Qur’an ini juga mempunyai hobi lain yang mengobati rasa kejenuhannya. Selain senang bercanda dengan teman-temannya sebagai refreshing, dia senang mengoperasikan komputer. Mulai mengetik sampai membongkar komputer miliknya, sampai-sampai harus dibawa ke Labkom, karena banyak komponen yang salah pasang.

Namun yang mengesankan ialah kesenangannya dalam membuat kaligrafi. Ia senang sekali membuat kaligrafi. Bahkan ketika ada salah seorang wali santri JQH melihat hasil karyanya, wali santri tersebut langsung mengajak Husein ke rumahnya untuk membuat kaligrafi  di dinding rumah, guna menyambut saudara yang datang dari haji.

Tidak hanya itu, santri yang sering dipanggil syekh oleh teman-temannya ini, juga mempunyai kemampuan dalam bidang retorika bahasa Inggris, makanya juara I lomba pidato bahasa Inggris se-TMI pernah ia raih.

*Pesan untuk pembaca*

Siswa terbaik di antara pondok alumni Sidogiri ini, punya pesan kepada pembaca agar selalu fokus dalam meraih cita-cita. “Karena kalau setengah-setengah hasilnya pun setengah-setengah nantinya.” Ucapnya. “Selain bersungguh-sungguh, dibutuhkan manajemen waktu dalam menjalaninya. (Red.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: